Oleh : Santoso Lim, S.Sn, M.Psi
Apakah Kebenaran itu ?
Kebenaran adalah suatu hal yang di pelajari manusia sejak lahir. Mulai dari bayi kita di ajarkan untuk memahami mana yang benar dan mana yang salah. Kita di ajarkan oleh orang tua kita bagaimana cara makan yang benar, diajarkan berbicara yang benar, di ajarkan menggunakan anggota badan dengan benar. Sampai kita dewasa semua pendidikan yang telah kita jalani adalah mencari mana yang benar dan menghindari hal mana yang salah. Kebenaran dipelajari oleh manusia untuk hidup dengan baik bersama sesamanya, lingkungannya dan juga Tuhan Yang Maha Esa.
Bila kita tinjau arti kebenaran dari terminologi Karakter huruf Yi 義, dapat dijabarkan sebagai berikut 丷artinya yin yang, 王 artinya raja (merangkai Tian Di Ren) dan 我 artinya saya
Jadi karakter Yi 義 dari arti terminologi hurufnya bisa diartikan sebagai sesuatu yang merupakan harmonisasi Yin dan Yang, merangkai Tuhan, Sarana/Alam, Manusia, dijunjung bagai ‘raja’ oleh manusia, dalam keselarasan berbagai keadaan (Yin dan Yang).
Konsep Yin Yang dalam Pencarian Kebenaran
Yang perlu kita garis bawahi dari arti huruf Yi di atas adalah harmonisasi yin dan yang. Karena menggunakan konsep Yin Yang maka tidak ada yang mutlak benar. Karena didalam bagian Yin pasti ada unsur Yang-nya, sedangkan di bagian Yang akan selalu ada unsur Yin nya. Simbol Yin Yang itu sendiri digambarkan dalam bentuk lingkaran yang bisa dikatakan memiliki sudut tak terhingga. Jika kita menggunakan analogi persentase warna, maka perpindahan dari Yin/ Hitam ke unsur Yang / putih itu di isi dengan deratan warna gradasi mulai dari 99%, 98 %, 97%..sampai pada 0% atau warna putih. Ini semua menunjukkan jika kebenaran dapat memiliki banyak sudut atau bisa kita sebut multi perspektif.
Kebenaran itu memiliki sudut pandang, Sudut pandang yang di maksud disini adalah dari sudut pandang Subyek. Sudut pandang subyek terbentuk karena masing-masing manusia memiliki atensi/perhatian, persepsi/ingatan dan emosi/suasana hati yang terbentuk dalam proses kehidupannya.
1. Atensi (perhatian)
Atensi-atensi manusia sudah di tanamkan oleh orang tua sejak kecil. Jika orang tua yang membesarkan si anak tersebut suka bercerita tentang tari-tarian yang indah. Maka anak tersebut atensi tentang duniaseni tari akan besar. Bisa jadi di masa depan anak tersebut akan menjadi orang yang menggeluti bidang yang berhubungan dengan kesenian.Lain ceritanya jika seorang ayah yang selalu bercerita kepada anaknya yang masih kecil tentang teknologi terkini, mungkin anak tersebut kedepannya akan menyukai bekerja di bidang pengembangan teknologi. Ini adalah contoh pengaruh atensi-atensi yang mempengaruhi hidup manusia.
2. Persepsi (ingatan)
Persepsi adalah penerjemahan dari informasi yang diterima melalui panca indra manusia dengan tujuan untuk mendapatkan pengertian dan pemahaman akan lingkungan sekitar. Hasil pengertian dan pemahaman tersebut akhirnya menjadi sebuah “ingatan” yang mempengaruhi tindakan selanjutnya. Misalnya sesorang yang pergi ke sebuah restoran dan mendapatkan hidangan dengan piring dan gelas yang masih kotor, orang tersebut akan memiliki persepsi yang negatif terhadap restoran tersebut yang mempengaruhi keputusan selanjutnya untuk makan kembali di restoran itu atau tidak.
3. Emosi (suasana hati)
Suasana hati yang tidak baik akan mempengaruhi cara melihat suatu kebenaran. Jika seseorang sudah memiliki benci di hatinya akan seseorang, bisa jadi apapun yang di katakan orang yang di benci tersebut akan di tolak mentah-mentah. Sebaliknya jika orang suasana hatinya damai dan bahagia, maka akan lebih mudah mendengar atau menerima pendapat-pendapat dari orang lain.
Secara prakteknya antara atensi, persepsi dan emosi akan berkaitan dan berbaur satu sama lain, membentuk fenomena-fenomena kognitif dan afektif yang nantinya akan membentuk sudut pandang seseorang terhadap suatu obyek.
Nabi bersabda, “Kepada yang tidak mau bersungguh-sungguh, tidak perlu diberi petunjuk. Kepada yang tidak mau berterus-terang, tidak perlu diberi nasehat. Kepada yang sudah diberi tahu tentang satu sudut, tetapi tidak mau berusaha mengetahui ketiga sudut yang lain, tidak perlu diberitahu lebih lanjut.”
(Lun Yu VII : 8)
Memahami Kebenaran Besar Dan Kebenaran Kecil
Menurut Ajaran Agama Khonghucu Kebenaran besar itu artinya kebenaran yang membawa keselamatan dan kesejahteraan bagi manusia, kebenaran kecil adalah kebenaran formal yang bisa membawa bencana bagi manusia. Dalam masyarakat yang kurang terdidik secara baik sering terjadi percekcokan yang berkembang menjadi tawuran massal karena hanya tahu kebenaran kecil dan tidak dapat menangkaparti penting kebenaran besar.
Kebenaran memiliki sudut pandang karena obyek kebenaran tersebut memiliki konteks atau keadaan tertentu. Maka kita harus dapat membedakan antara kebenaran formal dan kebenaran subtansial (esensial) sehingga dapat memahami konteks suatu obyek kebenaran:
1. Kebenaran Formal
Kebenaran formal dapat diartikan Kebenaran yang bersifat matematis dasar saja dan tidak mengenal konteks / keadaan. Contohnya
2 + 2 = 4
3 x 5 = 15
2. Kebenaran Subtansial/Esensial
Kebenaran subtansial dapar di artikan kebenaran melihat konteks atau keadaan secara menyeluruh. Contohnya
2 jeruk + 2 jeruk = 4 jeruk
2 jeruk + 2 Apel = ….. ?
Berdasarkan contoh kebenaran formal dan kebenaran subtansial di atas, maka kita dapat memahami bahwa cara berpikir untuk menemukan kebenaran tidak dapat hanya berdasarkan logika matematis semata. Apa yang berlaku di kondisi A, tidak pasti juga akan berlaku di kondisi B. Misalnya di tempat ibadah kita biasanya di wajibkan memakai sepatu ketika bersembahyang, ketika kita bertamu ke tempat ibadah lain yang diwajibkan melepas alas kaki, apakah kita akan tetap memakai sepatu juga ? Tentunya kita akan mengikuti aturan yang berlaku ketika kita bertamu di tempat ibadah tersebut.
Nabi bersabda, “Luaskan pengetahuanmu dengan membaca Kitab-Kitab, dan batasi dirimu dengan Kesusilaan. Dengan demikian kamu tidak melanggar Kebenaran.”
(Lun Yu XII : 15 )
Menegakkan Kebenaran dan Keadilan di dalam Kehidupan.
Pembinaan diri dalam agama Khonghucu adalah mengembangkan benih-benih Cintakasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan. Keempat benih tersebut sejatinya selalu berkaitan satu dengan yang lain. Perilaku cintakasih harus didasari juga oleh Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan. Begitu pula dengan benih Kebenaran, hal yang dianggap benar haruslah berlandaskan juga dengan pertimbangan Cintakasih, Susila dan Bijaksana.
Maka sebagai pedoman mencari kebenaran, ada hal-hal yang harus kita hindari antara lain :
1. Kebenaran yang tidak berlandaskan Cintakasih
Perilaku yang dianggap benar tetapi tidak mengutamakan rasa kemanusiaan.
2. Kebenaran yang tidak dilakukan dengan susila
Ini bisa terjadi jika seseorang merasa dirinya benar , tetapi cara menyampaikan kebenaran tersebut dengan cara yang arogan, semena-mena, atau tidak santun. Orang yang hanya menggunakan akal saja tanpa pertimbangan hati itu disebut orang kasar tidak tahu sopan santun, hal itu berlaku di mana saja didunia ini.
3. Kebenaran yang tidak dipikirkan dengan bijaksana
Kebenaran yang tidak mengandung keadilan itu adalah kebenaran yang hanya melihat 1 sudut pandang saja. Karena memandang dari satu sudut saja maka pemilihan kebenaran itu akan kurang bijaksana.
Ibaratnya kita ingin membuat sebuah kursi, maka kebenaran-kebenaran yang perlu kita ketahui tentang pengetahuan bahan haruslah kita lengkapi. Kita harus mengertti cara memilih kayu yang benar. Kita harus memahami cara menggunakan peralatan pertukangan dengan benar. Mengukur dengan benar, membuat konstruksi kursi dengan benar. Jika kebanaran yang kita ketahui sudah lengkap, maka kita baru mendapatkan pengetahuan membuat kursi yang benar. Pengetahuan itu selanjutnya kita wujudkan dengan hasil karya kursi kita yang baik. Hasil karya dari pengetahuan kita itulah Kebijaksanaan.
Agama Khonghucu mengajarkan berbakti kepada Tuhan, Manusia dan Alam Semesta. Untuk memahami ajaran bakti tersebut manusia harus belajar memahami dan menjalankan kebenaran-kebenaran yang terkandung di dalamnya. Kebenaran tentang bagaimana beribadah dengan baik dan menjalankan Firman Tuhan. Kebenaran tentang bagaimana dapat hiudp harmonis di dalam masyarakat. Serta memahami kebenaran-kebenaran dari hokum alam semesta ini sehingga manusia dapat hidup harmonis dengan lingkungan alam nya.
Kesimpulan
Kebenaran dalam agama Khonghucu bersifat Yin Yang, artinya Kebenaran yang mempunyai banyak sudut pandang. Sehingga suatu perkara harus di kaji secara mendalam dari berbagai sudut pandang.
Tidak ada kebenaran Mutlak kecuali Tuhan itu sendiri, maka seharusnya kita tidak kukuh dan tidak mengharuskan terhadap suatu kebenaran. Kita harus menghindarkan sikap merasa paling benar. Menjaga hati agar tetap rendah hati, sehingga dapat melihat kebenaran-kebenaran lain dengan jelas. Menampung, memahami saran atau pendapat orang lain, sehingga menghindarkan diri dari sikap mau menang sendiri dan suka berdebat.
Banyak cara untuk membina diri untuk dapat memahami kebenaran yang lebih harmonis, antara lain dengan meluaskan pengetahuan, mengendalikan emosi, rendah hati dan mau berpikir mendalam.
Nabi bersabda,
“You – Yu (Zi Lu – Cu Lo), Kuberi tahu apa artinya ‘mengerti’ itu! Bila mengerti berlakulah sebagai orang yang mengerti; bila tidak mengerti berlakukah sebagai orang yang tidak mengerti. Itulah yang dinamai “mengerti.’”
( Lun Yu II : 17 )
Daftar Pustaka
- Emosi dalam Psikologi – Pengertian – Bentuk, https://dosenpsikologi.com/emosi-dalam-psikologi
- Persepsi dalam Psikologi – Teori – Bentuk – Proses, https://dosenpsikologi.com/persepsi-dalam-psikologi
- Sishu (Kitab Yang Empat), terbitan Matakin
- Js. Gunadi dan Kristan, Pendidikan Agama Khonghucu & Budi Pekerti SMA/SMK Kelas 12, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan , Tahun 2015
- Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd, Dasar-Dasar Ilmu Filsafat Timur dan Barat, Edisi Kedua, Tahun 2018, Surabaya, Gentanusantara.com