Konsep Afterlife Dalam Agama Khonghucu

Oleh : Ws. Tan Djin Meng, S.T.

Selamat pagi para Dq yang berbahagia. Pada kesempatan kali ini penulis mencoba membahas tentang afterlife dalam agama Khonghucu. Tema bahasan kali ini cukup berat karena membicarakan hal yang abstrak, metafisik. Ada beberapa pendapat / cara pandang yang sedikit berbeda mengenai afterlife. Hal ini saya anggap masih wajar mengingat Kitab suci kita ditulis dalam bahasa sastra / wen yan wen yang dapat ditafsirkan secara berbeda, disamping pembahasan secara metafisik, khususnya menyangkut afterlife, tidak banyak ditemukan dalam agama Khonghucu.

Penulisan ini bukan bermaksud mengundang kontroversi ap alagi perdebatan. Perdebatan tidak seharusnya terjadi karena bagaimanapun juga semua pendapat yang ada masih sebatas konsep yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Penulis hanya bermaksud memberikan pengayaan dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Bukankah Zhisheng Kongzi mengingatkan kita agar berusaha menemukan sudut-sudut lain yang akhirnya diharapkan akan diperoleh gambaran yang lebih utuh. Kita diajarkan berpikir secara dialektis komplementer, perbedaan bukan selalu berarti saling menghancurkan, namun dapat saling melengkapi. Pemahaman tentang afterlife yang saya rasakan runtut & logis ini pada dasarnya saya dapatkan dari seorang rohaniwan senior, Xs. DR. Oesman Arief, Mpd. Mengingat pengetahuan & kemampuan saya masih terbatas, maka kesalahan yang mungkin ada dalam bahasan ini sudah seharusnya ditimpakan kepada saya.


Kajian Imani

1. Pandangan umum agama-agama

Agama pada umumnya mengajarkan adanya afterlife, tentang surga & neraka atau sedikitnya memberikan gambaran bagaimana nasib manusia setelah meninggal kelak. Gambaran umum yang ada dalam agama, surga adalah tempat yang disediakan / tersedia bagi orang yang semasa hidupnya banyak berbuat baik, yang telah menjalankan ajaran agamanya. Neraka adalah tempat yang tersedia bagi orang yang semasa hidupnya banyak berbuat jahat, yang bertentangan dengan ajaran agamanya.

Gambaran diatas kurang lebih berlaku pula dalam agama Khonghucu, bahwa antara manusia yang baik & manusia yang jahat tentu akan berbeda nasibnya setelah meninggal kelak. Hal ini menyangkut rasa keadilan & kita bersama yakin bahwa Tian Maha Adil, seperti tersurat dalam Kitab Yijing, hexagram 1, Zhen sebagai salah satu sifat Kuasa Tian.

2. Aspek dalam kehidupan manusia

Kehidupan manusia meliputi 2 aspek, Gui鬼 & Shen神, yaitu kehidupan jasmani dengan naluri, nafsu-keinginan & perasaan; juga kehidupan rohani sebagai roh yang mengemban Firman Watak Sejati sebagai tugas suci hidup didunia.

Kesadaran terhadap 2 aspek kehidupan ini menjadikan manusia berusaha membina diri dengan menjaga hatinya; merawat, mengembangkan Watak Sejatinya yang akhirnya mewujud dalam sikap, perilaku, perbuatan yang manusiawi; menegakkan diri hidup dalam Jalan Suci. Terhadap nafsu, naluri, keinginan & perasaan manusianya, wajib dikendalikan pada batasan nilai-nilai kepatutan, keindahan & kewajaran. Dalam bahasa agamis, dipulangkan kembali kepada kesusilaan. Hal ini tersurat dalam Kitab Li Ji XXI bag II : 1 (XXIV:13), berikut cuplikan ayatnya,” Berpadu harmonisnya GUI dan SHEN, itulah tujuan tertinggi ajaran Agama”.

Ada pendapat  karena berpadu harmonisnya Gui & Shen ialah tujuan tertinggi agama, maka harapan manusia kelak setelah meninggal, Gui & Shen tetap berpadu harmonis.

Berpadu harmonisnya Gui & Shen dalam kehidupan manusia memang merupakan tujuan tertinggi pengajaran agama. Hal ini karena kehidupan manusia meliputi 2 aspek, jasmaniah dan rohaniah.  Bagaimana halnya dengan manusia yang telah meninggal ?

3. Nasib orang yang telah meninggal

Berikut ini cuplikan dari ayat yang sama dengan diatas,” Semuanya yang dilahirkan pasti mengalami kematian; yang mengalami kematian pasti pulang kepada tanah; inilah yang berkaitan dengan GUI. Tulang & daging melapuk di bawah, yang bersifat YIN (Negatif) itu raib menjadi tanah di padang belantara. Tetapi, QI berkembang memancar di atas cerah gemilang; diiringi asap & bau dupa semerbak mengharukan. Inilah sari daripada beratus zat; perwujudan daripada SHEN”.

Ayat diatas secara jelas menyatakan bahwa (semua) yang berkaitan dengan Gui yang bersifat Yin (akhirnya) pasti pulang kembali ke tanah. Sedangkan Shen memancar gemilang diatas (keatas). Sebagai kesimpulan, setelah manusia meninggal, Gui yang bersifat Yin akan kembali ke tanah dan Shen / roh akan naik kembali kepada darimana dia berasal (Tian), sebagai roh yang gemilang (Shen Ming).

Pertanyaan selanjutnya, apakah hal diatas berlaku bagi semua manusia, dalam arti, Gui akan lenyap kembali kepada tanah & roh nya akan naik kembali kepada Tian sebagai Shen Ming ?

Secara sederhana, manusia dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu orang jahat  & orang baik. Definisi sederhana orang jahat adalah orang yang sikap, perilaku & perbuatannya buruk, sering menyakiti orang lain, berkebiasaan buruk yang akhirnya menjadi karakter / sifat. Sebaliknya orang baik adalah orang yang sikap, perilaku & perbuatannya baik, tidak mau menyakiti orang lain, memiliki kebiasaan-kebiasaan baik.

Pada bagian awal telah dijelaskan bahwa antara manusia yang baik dan yang jahat tentu berbeda nasibnya setelah meninggal kelak. Artinya, orang yang baik, Guinya akan kembali kepada tanah & rohnya akan naik kembali kepada Tian, sedangkan orang jahat, unsur yang ada dalam Gui nya tidak lenyap kembali kepada tanah sehingga roh nya tidak dapat naik kembali kepada Tian.

Ada kalanya juga orang yang baik, namun ada unsur Gui yang tidak lepas kembali kepada tanah sehingga rohnya juga tidak bisa kembali kepada Tian. Hal ini akan dibahas kemudian, sebelumnya kita bahas mengenai darimana roh manusia berasal.

4. Perjalanan Roh manusia

4.a. Alam Roh
Dalam agama lain, dikenal surga sebagai tempat yang kelak tersedia bagi orang yang baik, yang menjalankan perintah agamanya dan neraka sebagai tempat hukuman bagi roh yang jahat,  yang tidak menjalankan perintah agamanya.

Dalam kitab-kitab suci agama Khonghucu, sejauh ini penulis belum menemukan ayat yang menyatakan secara jelas tentang tempat yang disediakan bagi roh yang baik / suci. Meski demikian, ada beberapa ayat yang secara tersirat mengandung makna / menyatakan adanya tempat tersebut.

Dalam kitab suci Sishu maupun Wu Jing, disuratkan adanya para suci / para Shen Ming, malaikat-malaikat seperti: Malaikat Dapur, Malaikat Bumi, Malaikat Barat Daya rumah, Malaikat Bintang Utara (yang mengabarkan akan lahir putra yang Nabi Agung kepada Yan Zheng Zai), dan lainnya. Adanya para Shen Ming, Malaikat-malaikat dalam keyakinan agama Khonghucu, hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa ada tempat yang tersedia bagi Roh-roh suci itu, untuk sementara kita sebut saja alam Roh

4.b. Alam Xian Tian & Hou Tian

Dalam Kitab Yi Jing ada Wahyu Tuhan (Tian Xi) yang diterima Baginda Fu Xi & Xia Yu, yaitu Wahyu He Tu & Luo Su. Wahyu ini kemudian dijabarkan menjadi Xian Tian Ba Gua & Hou Tian Ba Gua. Ba Gua = 8 Gua / 8 trigram.

Xian Tian adalah istilah tempat / alam dimana roh belum dititahkan / di Firman kan Tian lahir ke dunia untuk melaksanakan tugas suci didunia. Dengan kata lain, Xian Tian (先 天) adalah alam roh / alam kehidupan roh sebelum kelahiran, alam yang non fisik.

Makna Hou Tian adalah roh yang telah dititahkan / di-Firman-kan Tuhan untuk lahir ke dunia melaksanakan tugas suci sebagai manusia. Hou Tian (后 天) adalah alam duniawi / alam kehidupan roh setelah kelahiran, alam fisik.

Sebagai kesimpulannya, kehidupan rohani / roh adalah kekal, baik di alam Xian Tian maupun di alam Hou Tian. Dari alam Xian Tian roh dititahkan lahir ke dunia (alam Hou Tian) dan nantinya akan kembali ke alam Xian Tian. Alam Xian Tian adalah alam yang tersedia bagi roh suci.

Xunzi menyatakan bahwa kelahiran adalah pintu gerbang masuk ke dunia, maka sudah selayaknya disambut gembira dengan upcara suka cita (bayi umur 1 bulan) dan kematian adalah pintu gerbang keluar dari dunia, maka sudah selayaknya perpisahan ini diantar pergi dengan upacara duka.

4.c. Gambaran alam Xian Tian
Tidak seperti agama lain yang menggambarkan dengan jelas & detil bagaimana keadaan yang ada dalam surga maupun neraka, dalam agama Khonghucu tidak ditemukan satupun ayat yang menggambarkan alam Xian Tian. Bagaimana keadaan alam Xian Tian itu sebenarnya bukan hal penting bagi manusia untuk mengetahuinya, terlebih lagi hal ini menyangkut rahasia Tuhan. Yang perlu adalah kita yakin alam Xian Tian itu ada, dan menjadi harapan / tujuan kita kelak setelah meninggal..

Hal yang penting bagi manusia adalah berusaha menyelesaikan misi sucinya di dunia, mengabdi kepada Sang Maha Roh dengan cara menegakkan Firman Tian, menempuh Dao & menjadi manusia berbudi luhur yang disebut Junzi. Sehingga ketika tiba saatnya, harapan agar roh kita dapat kembali kealam Xian Tian dapat terwujud.
Meski tidak ada ayat yang menggambarkan alam Xian Tian, sebenarnya secara tersirat Da Cheng Zhisheng Kongzi telah menunjukkan jalan bagi kita untuk mengetahui sendiri bagaimana alam Xian Tian tersebut, seperti yang tersurat dalam Kitab Lun Yu jilid XI: 12, “Sebelum mengabdi kepada manusia, betapa dapat mengabdi kepada Roh?” “Sebelum mengenal hidup, betapa mengenal hal setelah mati

Agama Khonghucu mengajarkan bahwa untuk mengetahui hal yang jauh, yang bersifat sangat lembut, non fisik, tentu dimulai dari yang terdekat, baru kemudian mencoba menjangkau hal yang jauh.
Ayat tersebut bermakna bahwa setelah kita ‘mengerti’ hakekat hidup dengan tugas kewajiban hidup di dunia & mampu melaksanakan dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan melakukan pengabdian kepada kemanusiaan sebagai orang yang bijaksana & berbudi luhur, maka segala kegelapan bathin akan hilang & semuanya akan menjadi jelas.

4.d. Reinkarnasi

Sejak jaman dahulu bahkan sejak jaman purba, kepercayaan adanya reinkarnasi telah ada di berbagai belahan dunia. Pada jaman sekarang dengan teknologi & pengetahuan manusia yang semakin berkembang, telah banyak dilakukan penelitian terhadap masalah reinkarnasi. Diantaranya adalah  melalui teknik hipnotis, mencoba memasuki alam atas sadar seseorang, karena alam atas sadar diyakini menyimpan ingatan kehidupan-kehidupan sebelumnya. Dari penelitian yang ada (hipnotis), ada sebuah kesamaan hasil, belum ada seorangpun yang menceritakan tentang kehidupan sebelumnya sebagai hewan, umumnya kehidupan sebelumnya juga sebagai manusia. Cerita yang disampaikan oleh orang yang dihipnotis tersebut kemudian coba dibuktikan dengan menelusuri tempat / kejadian yang disebutkan dalam cerita, dan ternyata umumnya terbukti. Meski demikian, kebenaran penelitian ini masih menjadi perdebatan panjang yang hingga kini belum menemukan titik temu karena banyak faktor yang bisa mempengaruhi / menjadikan orang ragu akan validitas hasil penelitian tersebut.

Xunzi adalah seorang tokob besar Ru Jia sejaman dengan Mengzi, yang sangat memuja dan mengagumi pemikiran Da Cheng Zhisheng Kongzi.

Beliau mempelajari berbagai aliran filsafat yang ada saat itu, tetapi akhirnya beliau memutuskan & memantapkan diri untuk berkonsentrasi pada ajaran Ru Jiao & mengembangkannya menjadi Ru Jia (filsafat Khonghucu).

Dengan mengembangkan Ru Jiao menjadi Ru Jia & diterapkan dalam pemerintahan serta dalam kehidupan bernegara, hal ini akan mengikat seluruh penduduk (tidak peduli ber iman apapun) untuk wajib melaksanakannya.

Dalam pandangan ajaran agama Khonghucu, secara garis besar ada 4 macam tipe manusia, Yang oleh iman kemudian sadar; Yang sadar lalu beroleh iman; Yang setelah melalui penderitaan / kesulitan hidup kemudian sadar dan beroleh iman; yang terakhir & paling rendah diantara manusia, Yang telah mengalami kesulitan hidup & penderitaan namun tetap belum sadar-sadar juga. Mengzi menyebut tipe manusia yang keempat ini seperti burung / hewan dan terhadap orang semacam ini tidak perlu digubris. Masalahnya, ternyata dalam masyarakat cukup banyak manusia seperti itu.

Dalam pandangan Xunzi, orang-orang semacam ini tetap merupakan bagian dalam masyarakat yang perlu dipikirkan penanganannya. Terhadap orang-orang semacam ini, perlu diterapkan pendidikan yang keras melalui aturan-aturan / hukum yang tegas dengan ancaman hukuman yang berat terhadap setiap pelanggaran.

Pandangan beliau dalam menata Negara / pemerintahan adalah dengan menerapkan aturan / hukum yang tegas tanpa pandang bulu namun tetap berdasarkan Kebajikan (Kebenaran & Keadilan) sesuai ajaran Ru Jiao.

Xunzi secara filosofi menjelaskan bahwa fungsi agama adalah mendidik agar manusia sadar diri & menjadi baik, memberikan penghiburan dikala mengalami penderitaan & memberi harapan indah kepada manusia saat hidup maupun setelah meninggal kelak. Sebuah cita-cita & harapan indah yang diajarkan agama akan menjadi prasarana yang akan memotivasi manusia untuk memacu diri agar harapan & cita-cita dapat tercapai.
Bagaimana pandangan agama Khonghucu tentang reinkarnasi?

Sejauh ini didalam kitab-kitab suci Sishu maupun Wu Jing, belum ditemukan ayat-ayat yang secara jelas menceritakan tentang (adanya) reinkarnasi.

Bila demikian, apakah berarti reinkarnasi tidak dikenal dalam agama Khonghucu?
Tidak adanya ayat yang menjelaskan tentang reinkarnasi, bukan selalu berarti tidak ada / tidak mengenal reinkarnasi. Menurut penulis, hanya satu yang menjadi alasan utamanya, Karena reinkarnasi bukan hal yang  penting untuk dibahas dalam agama Khonghucu.

Mengapa reinkarnasi bukan menjadi hal yang penting dalam agama Khonghucu ?
Konsep  ‘reinkarnasi’ dalam agama Khonghucu berbeda dengan konsep yang ada dalam agama lain, agama Buddha misalnya.

Konsep reinkarnasi (tumimbal lahir) dalam agama Buddha, selama manusia belum mampu mencapai kesempurnaan (bebas dari dosa, loba, moha, atta / ke-aku-an, kemelekatan, dan lain-lain) secara automatis dia akan selalu mengalami kelahiran kembali & hal itu bisa terjadi berkali-kali, bahkan sampai tak terhitung. Kelahiran kembali tersebut tidak selalu dalam bentuk manusia, tetapi dapat saja dalam bentuk macam-macam mahluk-mahluk lain yang dikenal dalam agama Buddha, mulai dari  menjadi hewan, mahluk gaib, dan lain-lain.

Konsep diatas berbeda jauh dengan konsep ‘reinkarnasi’ dalam agama Khonghucu.
Dalam pembahasan dengan sub topik ‘alam Xian Tian & alam Hou Tian dibagian depam, telah dijelaskan bahwa kehidupan roh itu abadi, dari alam Xian Tian roh dititahkan Tuhan lahir (sebagai manusia) di alam Hou Tian (dunia) dan nantinya akan kembali kepada Kebajikan Tian di alam Xian Tian.

Ada poin penting yang dapat diambil dari penjelasan diatas:

  • Kelahiran kembali (reinkarnasi) itu bukan terjadi secara automatis, namun sepenuhnya atas Ketetapan / Kehendak Tian,
  • Manusia dilahirkan dalam keadaan suci, bersih tanpa dosa karena roh manusia berasal dari roh suci bersih di alam Xian Tian.
  • Manusia lahir bukan akibat dari dosa pada kehidupan sebelumnya, namun mengemban tugas suci dari Tian, belajar sepanjang hidup meningkatkan kualitas rohaninya & berkreativitas menuju kepada sempurnanya sebagai manusia.

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan:
Konsep reinkarnasi / tumimbal lahir menjadi hal yang sangat penting untuk diketahui & dibahas karena merupakan salah satu bagian iman / keyakinan dalam ajaran agama Buddha. Rebirth akan terjadi secara automatis (selama manusia belum sempurna) dan berkaitan langsung dengan kehidupan saat sekarang yang akan menentukan kehidupan selanjutnya / yang akan datang.

Sebaliknya, reinkarnasi dalam agama Khonghucu bukan hal yang penting untuk diketahui karena  reinkarnasi / kelahiran kembali dalam agama Khonghucu terjadi atas Ketetapan Tian sebagai tugas suci manusia, bukan karena apa (dosa-dosa) yang dilakukan pada kehidupan sebelumnya. Tian itu Maha Kuasa, menugaskan roh untuk lahir ke dunia atau tidak, sepenuhnya wewenang Tuhan. Terhadap apa yang telah ditetapkan Tian, kita sebagai rakyat Tuhan wajib memuliakannya. Mengetahui bagaimana kehidupan sebelumnya juga tidak ada manfaatnya bagi kehidupan rohani kita, malah mungkin akan merugikan karena dapat mempengaruhi keseimbangan emosi & perasaan kita. Contoh, andaikan kita tahu bahwa dalam kehidupan sebelumnya kita dibunuh. Hal ini akan memancing emosi kita, perasaan marah, bahkan dendam. Emosi negatif seperti ini cukup sulit untuk dihilangkan.

5. Gui & Shen – Nyawa & Roh

Sekarang penulis coba menjelaskan perjalanan kehidupan rohani manusia secara lengkap dari sudut pandang ajaran agama Khonghucu. Pada bagian depan telah dijelaskan perjalanan roh manusia secara garis besar, penulis coba rangkum intisari penjelasan diatas agar runtut sehingga penjelasan pada bagian ini lebih mudah dipahami.

  • Kehidupan manusia meliputi 2 aspek, lahiriah / jasmani (Gui) yang bersifat negatif & rohaniah / roh (Shen) yang bersifat positif.
  • Tersurat dalam Li Ji XXIV: 13, Gui yang bersifat Yin (negatif) akhirnya akan kembali ke tanah dan Shen (roh) akan menuju keatas kepada Kebajikan Tian.
  • Roh manusia berasal dari Tian (alam Xian Tian) yang dititahkan lahir kedunia (alam Hou Tian) & menjadi harapan kita bersama akhirnya roh kita akan layak untuk kembali pulang kepada Tian.
  • Tersurat dalam Kitab Yi Jing bag. Xi Ci (He Su), Sari dan semangat yang menjadikan mahluk dan benda, lepas mengembara Hun / arwah yang menjadikan perubahan (atas jasadnya).

Penjelasan istilah pada bagan dibawah sebagai berikut:

  • Qian = Tian, Tuhan, Maha Pencipta, aktif,  dengan Kuasa KebajikanNya yang bersifat Yuan, Heng, Li, Zhen.
  • Kun = Bumi, alam semesta, yang pasif, alam ciptaan yang bersifat menerima, menumbuhkan / memelihara
  • Manusia = Janin bayi melalui perantaraan ayah bunda, yang menerima Qi & Shen dari Tian / Qian, ditumbuhkan oleh Bumi, lahir & hidup di dunia.
  • Shen = Roh yang terdiri dari perpaduan 2 unsur roh (Ling & Hun), yang sangat halus, yang tak terlihat, yang memiliki kesadaran, dimana Ling bersifat pasif & Hun bersifat aktif.
  • Shen Ming = Roh yang telah menunaikan tugas sucinya didunia & telah lepas dari unsur / ikatan duniawi, kembali kepada Tian sebagai Roh yang bersih, suci.
  • Qi = Semangat / energi yang sangat halus, berasal dari Tian & akhirnya akan kembali kepada Tian.
  • Gui = Nyawa / Jiwa yang bersifat Yin, yang menjadikan manusia hidup / bernyawa, terdiri dari Bo & Jasad.
  • Bo= Bagian dari Gui, daya / energi yang bersifat non fisik, yang mendukung kehidupan jasmani, didalamnya terdapat naluri, nafsu, keinginan, perasaan manusia (duniawi).
  • Roh gentayangan = Hun Bo, bagian roh yang didalamnya masih mengandung unsur Yin (Bo) sehingga roh / Shen tidak dapat naik kembali kepada Tian.

Ayat pendukung

  • Li Ji VII: I.7
  • Li Ji VII: I.11
  • Li Ji XXI: II.1-3
  • Yi Jing bag. Xi Ci: 4
  • Lun Yu XI: 12

5.1 Bagan perjalanan kehidupan rohani manusia secara lengkap

5.2 Perjalanan kehidupan rohani manusia secara lengkap

5.2.a Perjalanan rohani manusia lahir ke dunia

Melalui perantaraan ayah bunda, seorang ibu mengandung anaknya & didukung Bumi melalui makanan yang dimakan sang ibu, menjadikan janin tumbuh berkembang.

Tian menitahkan Roh / Shen, dilengkapi dengan Qi (semangat/energi) masuk ke dalam tubuh janin. Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban hidup yang utama, salah satu alasannya karena ini berkaitan dengan kodrat yang telah ditetapkan Tian bagi kita.

Dalam tubuh janin, perpaduan daya Qi & Shen menjadikan Bo terbentuk. Bo berfungsi mendukung tumbuh berkembangnya janin menjadi bayi dengan organ tubuh lengkap.

5.2.b Unsur-unsur rohani manusia
Qi, Shen (Ling & Hun), Bo merupakan bentuk-bentuk roh (energi / kekuatan yang sangat halus, tidak kelihatan), yang berbeda-beda sifatnya. Melalui perpaduan Qi & Shen, terbentuklah Bo. Qi bersifat pasif (kekuatan yang menerima arahan) & Shen bersifat aktif (kekuatan yang mengarahkan). – konsepsi Yin Yang; Qian Kun.
Dalam Kitab Yi Jing bagian He Su (Xi Ci) tersurat, …“Hal sari dan semangat yang menjadikan mahluk dan benda”….

Dalam Kitab Li Ji XXIV: 13 tersurat, “Nabi bersabda,”Semangat / Qi, itulah per-wujudan tentang adanya Roh. …..” Semangat itu mengembang naik ke atas, memancar cemerlang diantar semerbaknya bau dupa. Itulah sari beratus mahluk & benda, inilah kenyataan daripada Roh”.

Dari ayat diatas dapat dimaknai bahwa Qi & Shen selalu berpasangan. Qi tanpa Shen menjadi kekuatan yang tidak terarah, Shen tanpa Qi menjadi sebuah kemampuan tanpa kekuatan. Perpaduan daya Qi & Shen kemudian membentuk Bo yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan lahiriahnya.

Dalam tubuh manusia, Shen kemudian memisahkan diri menjadi Ling & Hun (sukma & arwah). Dalam Bo terkandung unsur-unsur yang mendukung kehidupan jasmani yaitu nafsu, naluri & 7 macam perasaan manusia (Gembira, marah, sedih, cemas, cinta, benci dan ingin (Qi Qing).

5.2.c   Perjalanan rohani manusia di dunia sampai saat meninggal
Pada bagian depan telah dijelaskan tentang kehidupan manusia yang meliputi 2 aspek, Jasmaniah & Rohaniah. Harmonisnya 2 aspek kehidupan adalah tujuan agama. Karena unsur-unsur pendukung kehidupan jasmani bersifat negatif dalam arti cenderung menjadi liar bila dibiarkan tanpa pengawasan, maka perlu dikendalikan pada batasan wajar, patut, indah, dalam bahasa agamis, dipulangkan kepada Kesusilaan.

Hal ini berarti menikmati hidup di dunia, bergembira bersama keluarga, teman & sahabat, menikmati fasilitas hidup yang mampu diraihnya adalah hal yang masih wajar, pantas. Intinya, manusia hidup di dunia, hal yang wajar bila ingin menikmati kehidupan duniawi, tentunya tanpa meninggalkan Kebenaran.

Disamping itu, manusia juga perlu selalu ingat bahwa dia juga memiliki kehidupan rohaniah dengan tugas suci dari Tian sebagai mahluk rohani (roh). Kesadaran sebagai mahluk rohani yang juga memiliki kewajiban hidup rohani, menjadikan manusia lebih mengutamakan kehidupan rohaninya dibanding kehidupan jasmani. – Mengzi VI A: 15.
Dengan demikian akan harmonislah 2 aspek kehidupan, dalam arti tercapailah kebahagiaan lahir & bathin (rohani).

Bilamana manusia telah berhasil menunaikan kewajiban hidupnya dengan baik, kualitas rohaninya semakin meningkat lebih baik & lebih baik, disertai kesadaran bahwa kehidupan duniawi bersifat sementara dan terbatas, maka saat tiba saatnya berpulang, dia akan ikhlas meninggalkan semua kenikmatan kehidupan duniawi. – Lunyu IV: 8.

Saat meninggal, semua yang bersifat Yin / negatif (Ti Bo, Badan & pendukung kehidupan jasad) perlahan-lahan akan lenyap. Kehidupan rohani-nya yang telah ditempa dengan baik semasa hidupnya akan gemilang, Ling & Hun akan bersatu kembali, bersama dengan Qi pulang kembali ke Asal sebagai Shen Ming (Roh cemerlang).

Bo dengan fungsi sebagai pendukung kehidupan jasmani, didalamnya terkandung nafsu, naluri, 7 macam perasaan manusia. Manusia yang telah berhasil menunaikan kewajiban hidup dengan baik seperti dijelaskan diatas, saat meninggal, relatif mudah melepas nafsu-keinginan, berbeda dengan perasaan manusianya yang relatif lebih sulit dilepaskan, khususnya perasaan cinta (bukan cinta kasih, namun ikatan cinta).

Menjadi kewajiban keluarga yang ditinggalkan (keturunannya) untuk secara aktif menyembahyangi selama 49 hari dengan harapan beliau menjadi tenang dan perlahan mampu melepas ikatan perasaan duniawi dan terakhir mampu melepas ikatan rasa sayang (cinta) kepada keluarga yang ditinggalkan. Dengan demikian rohnya dapat kembali kepada Tian sebagai Shen Ming.

Bagaimana dengan nasib orang yang meninggalkan dunia karena kecelakaan, dibunuh, putus asa lalu bunuh diri, ada keinginan kuat yang belum terwujud dan lain sebab yang tidak wajar ?.

Orang yang meninggal karena sebab yang tidak wajar seperti yang disebutkan diatas, rohnya tidak dapat kembali kepada Tian karena Hun (arwah) nya belum ikhlas / rela melepas ikatan duniawinya. Dalam arti, Bo yang seharusnya akhirnya lenyap karena telah kehilangan fungsinya (sebagai pendukung kehidupan jasad), masih melekat kuat / terikat pada Hun.

Hun akan gelisah, tidak tenang, mengembara terus di dunia selama belum mau melepas Bo nya, sebagai arwah penasaran / gentayangan (Hun Bo).

Menjadi tugas kewajiban keluarga / keturunannya untuk menyembayangi, mendoakan, menghibur, menenangkan almarhum agar Hun-nya rela melepas Bo yang membebani rohnya untuk kembali kepada Tian.
Selain sembahyang selama 49 hari, kewajiban anak laki-laki melakukan perkabungan selama 3 tahun (efektif 27 bulan – Li Ji XIX bag. B: 19). Selanjutnya dilakukan sembahyang leluhur pada saat-saat tertentu (minimal saat-saat Zu Ji almarhum, Qing Ming, 15-07 Kongzili). Hal sembahyang kepada leluhur berkaitan dengan kewajiban bakti seorang anak kepada orang tua & leluhurnya, dengan tidak melupakan sekalipun telah jauh. – Lun Yu I: 9.

Bagaimana dengan nasib orang yang semasa hidupnya banyak berbuat jahat, mengumbar nafsunya, serakah, dan perilaku perbuatan buruk lainnya ?.

Orang dengan karakter jahat seperti yang disebutkan diatas, rohnya juga tidak bisa kembali kepada Tian. Rohnya menjadi gelap karena dikotori oleh segala kekotoran batin akibat memperturut nafsu-nafsunya semasa dia hidup. Nafsu, keserakahan, & keinginan duniawinya masih sangat besar & melekat sangat kuat pada Hun-nya. Hun tidak mau melepaskan Bo karena Hun-nya telah lama terlena di nina-bobo kan oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi yang bersifat negatif. Ling (sukma) akan menunggu sampai Hun mau melepas Bo nya.

Saat hidup, jasmaninya dapat menjadi sarana penyalur keserakahan, nafsu-keinginan liar. Setelah meninggal, dorongan keserakahan dan nafsu-nafsu liar yang masih sangat besar, tidak ada sarana untuk menyalurkannya, sehingga arwahnya menjadi sangat menderita terbebani oleh nafsu keserakahannya sendiri. Arwahnya menjadi arwah gentayangan (Hun Bo) yang mengembara tanpa tujuan. Orang yang meninggal karena sebab tidak wajar, meski butuh waktu, namun pada akhirnya Hun nya dapat rela melepas Bo-nya (terutama ketika secara rutin disembahyangi keturunannya). Orang yang berkarakter jahat yang telah terbiasa mengumbar nafsu, keserakahan, keinginan liar & suka berbuat jahat, Hun-nya tidak rela melepas Bo nya. Meski keturunannya menyembahyanginya, akan sangat sulit sekali atau butuh waktu yang sangat lama sekali agar Hun akhirnya sadar dan melepas Bo-nya. Hal ini karena semasa hidupnya Bo telah melekat sangat kuat, seakan mengakar pada Hun nya.

371 Total Views

Posts created 59

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

captcha

Please enter the CAPTCHA text

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top