Oleh : Js. Santoso Lim, S.Sn, M.Psi
Cinta kasih adalah anugrah dari Tian Yang Maha Esa yang di tanamkan dalam hati manusia. Cinta Kasih adalah sebuah potensi yang dimiliki manusia dalam hatinya. Tidak hanya manusia hewanpun memiliki cinta kasih yang merupakan bagian dari perasaan.
Sebuah studi baru, diterbitkan di Science Advances, mengungkap bahwa perasaan itu tidak hanya terjadi oleh dunia sosial manusia tetapi juga monyet. Penelitian yang diterbitkan Rabu (13/04/2022) itu menemukan bahwa dalam hubungan sosialnya, monyet rhesus (Macaca mulatta) memiliki simpul kuncu di bagian otak yang berhubungan dengan pengambilan keputusan sosial dan empati. (Mukhaer, 2022). Hal ini menandakan bahwa monyet memiliki empati sosial.
Menurut ajaran Agama Khonghucu selain memiliki rasa empati yang merupakan bagian dari benih cinta kasih (仁 = ren), Tuhan juga menanamkan di hati semua umat manusia berupa benih kebenaran (義 = yi), benih kesusilaan (禮 = li) dan benih kebijaksanaan (智 = zhi). Selanjutnya tergantung kepada kesadaran manusia itu sendiri apakah mau mengembangkan keempat benih tersebut ataukah tidak. Keempat benih Kebajikan tersebut dalam Agama Khonghucu disebut dengan Watak Sejati (Xing).
Seperti yang tertulis dalam kitab Da Xue Bab Utama : 1, “Adapun Jalan Suci yang dibawakan Ajaran Besar ini, ialah: menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya, mengasihi rakyat, dan berhenti pada puncak Kebaikan”. (Ongkowijaya, 2012) Dengan mengembangkan keempat benih Kebajikan yang merupakan watak sejati manusia inilah yang disebut dengan berusaha menggembilangkan Kebajikan yang bercahaya. Adapun pembahasan tahap pembinaan diri yang terdapat dalam kitab Da Xue Bab Utama : 1 adalah sebagai berikut :
- Kebajikan yang Bercahaya
Watak sejati adalah anugerah terbesar Tuhan terhadap manusia. Manusia-manusia yang mengembangkan benih cinta kasih akan menghargai hubungan kemasyarakatan yang kuat. Manusia akan saling membantu, menjaga, mengupayakan perdamaian, sehingga tidak ada peperangan.
Begitu juga manusia-manusia yang mengembangkan benih kebenaran dalam hidupnya akan selalu belajar untuk berpikir dan bertindak dengan benar. Karena pada dasarnya manusia akan selalu belajar tentang kebenaran dalam hidupnya. Manusia dari bayi mulai belajar bagaimana cara berjalan yang benar, belajar berbicara yang benar, hingga memahami cara hidup yang benar, termasuk moral, etika dan berbagai macam pengetahuan dengan pemahaman yang benar.
Cinta kasih dan kebenaran tidaklah lengkap tanpa kesusilaan. Maka Tuhan memberikan manusia benih kesusilaan untuk di kembangkan dalam hidupnya. Kesusilaan merupakan penerapan dari pemahaman akan kebenaran. Kesusilaan akan menyelaraskan berbagai sudut pandang kebenaran sehingga manusia lebih beretika dan beradab.
Bersamaan dengan berkembangnya benih cinta kasih, kebenaran dan kesusilaan, maka berkembang pula benih kebijaksanaan dalam perkembangan hidup manusia. Kebijaksanaan adalah buah dari mempelajari pengetahuan. Kebijaksanaan adalah kemampuan mengambil keputusan yang tepat yang didasari oleh cinta kasih, kebenaran dan kesusilaan.
Berbekal empat benih kebajikan tersebut, tiap manusia akan menemukan potensi diri dalam perkembangan hidupnya. Potensi tersebut mungkin berbeda antara satu manusia dengan yang lain, sehingga akan saling berkolaborasi dan melengkapi. Mengembangkan empat benih kebajikan dan menemukan potensi diri inilah yang disebut dengan menggembilangkan kebajikan yang bercahaya.
- Mengasihi Rakyat
Setelah menemukan potensi diri, manusia berkewajiban untuk menerapkan potensinya kepada masyarakat. Potensi diri yang sudah di temukan, apakah jadi dokter, hakim, petani, pedagang atau yang lainnya, semuanya harus di terapkan untuk kebaikan masyarakat. Inilah tahap pembinaan diri selanjutnya yang disebut dengan mengasihi rakyat. Potensi diri kita sebagai manusia tentu tidak hanya untuk keuntungan diri kita sendiri, tetapi ada tujuan yang lebih mulia untuk membuat rakyat dan bahkan dunia ini lebih baik lagi.
- Berhenti pada Puncak Kebaikan
Setelah dapat menerapkan potensinya kepada masyarakat, selalu berada di puncak baik adalah tahap pembinaan diri yang ketiga yang harus selalu di jaga. Apapun potensi manusia yang menyebabkan ia memperoleh posisinya di masyarakat harus selalu mempunyai tujuan kebaikan. Jika menjadi seorang dokter harus jadi dokter yang baik, seorang dokter yang melayani pasiennya dengan tulus. Fokus untuk kesembuhan pasien dan tetap menjaga etika dalam profesinya. Jika menjadi hakim, maka menjadi hakim yang baik. Keadilan harus di tegakkan seadil-adilnya sesuai dengan kemanusiaan, serta menjauhkan diri dari suap dan korupsi. Inilah yang dimaksud dengan berhenti pada puncak kebaikan.
Ayat ketiga pada kitab Da Xue Bab Utama : 1 “berhenti pada puncak Kebaikan“ merupakan sebuah pencapaian aktualisasi diri atau tujuan dari proses pembinaan diri tersebut. Proses pembinaan diri tersebut di mulai dari menggembilangkan kebajikan yang bercahaya. (Liem, 2023)
Lebih lanjut menurut Kitab Da Xue Bab Utama : 4 dijelaskan bahwa “Orang jaman dahulu yang hendak menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya itu pada tiap umat di dunia, ia lebih dahulu berusaha mengatur negerinya; untuk mengatur negerinya, ia lebih dahulu membereskan rumah tangganya; untuk membereskan rumah tangganya, ia lebih dahulu membina dirinya; untuk membina dirinya, ia lebih dahulu meluruskan hatinya; untuk meluruskan hatinya, ia lebih dahulu mengimankan tekadnya; untuk mengimankan tekadnya, ia lebih dahulu mencukupkan pengetahuannya; dan untuk mencukupkan pengetahuannya, ia meneliti hakekat tiap perkara”. (Ongkowijaya, 2012).
Ayat tersebut memberikan penegasan bahwa manusia mempunyai tujuan besar dalam hidupnya yaitu untuk menggembilangkan Kebajikan Yang Bercahaya pada setiap umat didunia. Tujuan besar tersebut tidak bisa serta merta bisa dicapai tanpa belajar untuk menerapkan potensi manusia dalam ruang lingkup yang lebih kecil dahulu. Ruang lingkup yang paling kecil adalah cara berpikir kita sendiri yang harus lebih perhatian atau peduli pada diri kita dan lingkungan disekitar kita. Perhatian atau kepedulian kita ini digambarkan sebagai manusia yang meneliti hakekat tiap perkara.
Berbekal perhatian tersebut, manusia akan melangkah untuk belajar mengembangkan diri yang dimulai dengan mengembangkan benih-benih watak sejati dalam diri manusia tersebut.
Kesimpulan
Kitab Da Xue atau yang diartikan Kitab Ajaran Besar, adalah salah satu kitab dalam Agama Khonghucu yang mengajarkan tentang pembinaan diri. Banyak konsep-konsep pembinaan diri yang dapat kita pelajari dalam kitab tersebut. Salah satunya adalah yang tertulis di Kitab Daxue Bab Utama : 1. Pada ayat tersbut mengajarkan pada manusia untuk mengembangkan dirinya, menemukan potensinya dan menerapkan potensi yang dimilikinya untuk masyarakat. Serta pada tahap akhir manusia diingatkan untuk selalu dalam puncak baik, apalagi ketika manusia sudah berproses dan mencapai sebuah posisi dalam masyarakat.
Hidup memang tidak mudah, banyak masalah-masalah yang akan di temui sepanjang kehidupan manusia. Walaupun sudah terus belajar, manusia tidak akan sepenuhnya luput dari kesalahan. Yang terpenting adalah manusia harus tetap bersemangat dan berproses untuk mencapai puncak baik tersebut. Karena itu merupakan sebuah aktualisasi diri sebagai manusia, makhluk yang diciptakan Tuhan untuk berusaha membuat dunia ini lebih baik.
Daftar Pustaka
Liem, S. (2023). Konsep Psikologi Pendidikan Humanistik Dalam Ajaran Agama Khonghucu. Study Park of Confucius Journal: Jurnal Ekonomi, Sosial, Dan Agama, 1(2).
Mukhaer, A. A. (2022). Monyet Juga Punya Rasa Empati, Apa yang Ada di Balik Otak Mereka? https://nationalgeographic.grid.id/read/133237040/monyet-juga-punya-rasa-empati-apa-yang-ada-di-balik-otak-mereka?page=all
Ongkowijaya, B. (Ed.). (2012). Kitab Da Xue. gentanusantara.com.