Teologi Kerukunan Dan Cinta Kasih Dalam Konsep Kemutlakan Tuhan Dari Sudut Pandang Agama Khonghucu

Oleh : Ws. Tan Djin Meng, S.T. Selamat pagi bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara, adik-adik sekalian yang saya hormati, Assalammualaikum Wr Wbr, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Syalom, Sugeng Rahayu, Salam Kebajikan – Wi Tik Tong Thian, salam sejahtera bagi kita semua.

Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa tema yang diusung oleh Pengurus FKUB ini cukup menarik sekaligus momennya terasa pas atau mengena, terutama bila kita lihat beberapa peristiwa intoleransi yang terjadi akhir-akhir ini.

Hal ini seakan-akan sebuah kritikan halus terhadap peristiwa intoleransi yang terjadi,  mempertanyakan “masih adakah Cinta kasih dalam hati insani, mana wujud kerukunan dan cinta kasih yang diajarkan dalam agama-agama ?”.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maupun Wikipedia, dapat disimpulkan bahwa Teologi ialah ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan beragama atau pengetahuan tentang KeTuhanan, terutama berdasarkan pada Kitab Suci.

Oleh karena itu, bicara tentang Teologi Cinta Kasih dan Kerukunan serta konsep Kemutlakan Tuhan dari sudut pandang ajaran agama Khonghucu, saya akan mengacu pada beberapa ayat suci yang berkaitan dengan hal tersebut.

Bicara tentang kerukunan maka tidak akan lepas dari bicara juga tentang Cinta Kasih, karena rukun itu salah satu wujud dari adanya semangat dan sikap Cinta Kasih. Didalam Kitab Bingcu VIIB: 6 tersurat, Cinta Kasih itulah (intisari) Kemanusiaan, bila kata (Cinta Kasih) itu telah satu dengan perbuatan, itulah Jalan Suci.

Cinta kasih itu tidak cukup hanya menjadi semangat yang ada di dalam hati, namun mesti diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan yang manusiawi, yang Bajik, dengan demikian barulah dapat dikatakan menempuh, melaksanakan Jalan Suci (Jalan Kebenaran hidup).

Dalam Kitab Sabda Suci XVII: 6 tersurat bahwa orang yang dapat melaksanakan lima pedoman itu dapat dinamai berperi cinta kasih. Lima Pedoman itu ialah: Adanya perilaku hormat, Adanya perilaku lapang hati, adanya perilaku dapat dipercaya, adanya perilaku cekatan, adanya perilaku yang murah hati.

Yang berlaku hormat niscaya tidak terhina, yang lapang hati niscaya mendapat simpati umum, yang dapat dipercaya niscaya mendapat kepercayaan orang, yang cekatan niscaya berhasil usahanya, yang bermurah hati niscaya diturut perintahnya.

Bilamana lima pedoman perilaku ini dapat terlaksana, niscaya kerukunan, keharmonisan dalam masyarakat dapat terwujud sehingga terasakan bahwa di empat penjuru lautan semua manusia bersaudara.

Didalam Sabda Suci XIII: 23 tersurat, seorang yang luhur budi (Kuncu) dapat rukun meski tidak dapat sama, seorang yang rendah budi tidak dapat rukun meski sama.

Orang yang berbudi luhur bersedia introspeksi diri, bersikap tepasarira sehingga meski berbeda pendapat atau paham dapat tetap rukun saling menghormati, sedangkan seorang yang rendah budi tidak mau introspeksi diri, tidak mau ber-tepasarira, sehingga meski sepaham atau pendapatnya sama, tetap saja tidak dapat rukun.

Tepasarira ialah salah satu cara instrospeksi diri, yang dilakukan sebelum berbuat sesuatu. Sebuah sikap preventif sebelum berbuat sesuatu kepada orang lain. Tepasarira ialah upaya untuk memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri (dengan ukuran diri sendiri).

Tepasarira ialah “Apa yang diri sendiri tiada ingin orang lain berbuat kepadamu, janganlah lakukan kepada orang lain”.

Dalam Kitab Tengah Sempurna bab utama:1 Bahwa manusia dikaruniai Watak Sejati oleh Tian, Tuhan YME, hidup mengikuti Watak Sejati dinamai menempuh Jalan Suci, Bimbingan menempuh Jalan Suci dinamai Agama.

Yang ada didalam Watak Sejati tersebut ialah sifat-sifat luhur kemanusiaan, yaitu: Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan, Kebijaksanaan – Bingcu VIIA:21.

Dari keempat sifat kemanusiaan tersebut, Cinta Kasih ialah Kepala dari Sifat Baik, disebut juga sebagai akar Kebajikan, yang menjadi sumber dari segala perbuatan baik. – Yakking hexagram no.1 bagian babaran rohani.

Dalam Kitab Yakking (Kitab Perubahan), hexagram no.1, yaitu Khian (Maha Pencipta), hexagramnya terdiri dari garis positif semua. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan itu Maha Positif, Maha Bajik.

Tersurat didalamnya bahwa Khian – Maha Pencipta dengan 4 Sifat Kuasa Kebajikan, yaitu Gwan (Maha Awal, Maha Kuasa), Hing (Maha Menembusi, Maha Menjalin), Li (Maha Adil, Maha Pemberkah, yang memberkahi semuanya tanpa kecuali), Cing (Yang Meluruskan dan melindungi), inilah sifat Kemutlakkan Tuhan.

Dalam Kitab Yakking, masih dalam hexagram no.1, bagian Babaran Rohani, tersurat pula bahwa Sifat Kuasa Kebajikan Tuhan, Gwan, Hing, Li, Cing itu selaras harmonis dengan Watak Sejati manusia, sifat luhur kemanusiaan, yaitu Cinta kasih, Kebenaran, Kesusilaan, Kebijaksanaan.

Dengan demikian, ada yang menyebut bahwa Watak Sejati itu cerminan dari Kebajikan Tuhan, Percikan Kebajikan Tuhan, Wakil Tuhan yang ada dalam diri manusia.

Inilah kaitan langsung antara sifat Bajik kemanusiaan yang ada dalam Watak Sejati, engan sifat Kuasa Kebajikan Tuhan. Dengan demikian, melaksanakan Kemanusiaan, menjadi manusia yang manusiawi itu berarti telah patuh taqwa kepada Tuhan. Dengan kata lain, melalui Jalan suci Kemanusiaan (Ren Tao), akan menembusi Jalan Suci Alam (Ti Dao) dan Jalan Suci keTuhanan (Tian Tao).

  Sebagai penutup saya rangkum beberapa hal yang penting yaitu:

  • Kerukunan akan terwujud bila manusia mau saling menghormati satu sama lain, bersikap toleran terhadap perbedaan yang ada, mau saling mengalah, berlapang dada, ada kemurahan hati dalam perilakunya. Dengan kata lain, perilaku Cinta Kasih akan melahirkan, mewujudkan kerukunan diantara sesama manusia, lepas dari sekat-sekat agama, kesukuan, etnis. Kerukunan keharmonisan dalam masyarakat itulah wujud sebenarnya dari Cinta Kasih, sehingga terasakan bahwa semua manusia bersaudara.
  • Dalam iman umat Khonghucu, Tian, Tuhan itu Maha Bajik, sehingga hanya oleh Kebajikan (dalam perilaku perbuatan) yang dapat “menggerakkan” Tian untuk melimpahkan Berkah Rakhmat serta PerlindunganNya.
  • Menjalankan Kemanusiaan, menjadi manusia yang manusiawi itulah wujud nyata dari Kebajikan Watak Sejati yang meraga keluar, dimana Watak Sejati itu selaras harmonis dengan Sifat Kuasa Kebajikan Tian. Kebenaran, Kesusilaan, Kebijaksanaan dan Cinta Kasih itulah sifat luhur yang ada dalam Watak Sejati, dimana Cinta Kasih ialah akar Kebajikan, kepala dari sifat-sifat baik, yang selaras dengan Gwan, salah satu sifat Kebajikan Tuhan.

875 Total Views

Posts created 68

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

captcha

Please enter the CAPTCHA text

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top