Pendidikan Humanistik Di Dalam Ajaran Agama Khonghucu

Oleh : Santoso Lim, S.Sn, M.Psi

pendidikan_humanistik_khonghucuPendahuluan

Pendidikan adalah hal yang paling penting di dalam terbentuknya peradaban manusia. Tanpa adanya proses belajar dan mengajar akan sangatlah tidak mungkin suatu kebudayaan dapat berkembang dengan baik. Proses pendidikan tersebut juga harus di dasari konsep dan teknik mendidik yang tepat. Teknik pendidikan yang tepat selanjutnya akan membuahkan cara-cara belajar yang baik.

Pendidikan tidak selalu disekolah dan bersifat formal. Pendidikan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Sejak bayi lahir sudah mulai terjadi proses pendidikan. Sampai pada saat usia dini, remaja, hingga dewasa manusia selalu mengalami secara sengaja maupun tidak sengaja proses-proses pendidikan didalam hidupnya. Apalagi pada zaman modern ini pendidikan formal adalah menjadi kebutuhan wajib bagi setiap manusia.

Macam-Macam Aliran Pendidikan

Berdasarkan materi pendidikan yang disampaikan, usia, budaya di suatu daerah, Maka metode dan konsep pendidikan pun bermacam-macam. Menurut sudut pandang ilmu Psikologi ada 4 aliran pendidikan yang berkembang sampai saat ini, antara lain adalah

1. Aliran Psikoanalisis (Freudian)
Psikonaliasa adalah kekuatan pertama dalam aliran psikologi yang dikembangkan oleh Simund Freud. Aliran ini lebih mengutamakan pembinaan manusia sejak usia anak-anak. Menurut aliran ini pembinaan yang baik sejak usia dini akan tertanam ke alam bawah sadar anak tersebut yang nantinya akan berpengaruh pada perilakunya di kala dewasa.

Freud berhasil mengembangkan teori kepribadian yang membagi struktur mind ke dalam tiga bagian yaitu : consciousness (alam sadar), preconsciousness (ambang sadar) dan unconsciousness (alam bawah sadar). Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan gunung es). Freud mengembangkan konsep struktur mind tersebut dengan mengembangkan “mind apparatus”, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego.

2. Aliran Behavioristik
Aliran ini merupakan aliran psi-kologi (ilmu jiwa) yang tidak peduli dengan jiwa. Para psikolog kelompok ini hanya mempelajari perilaku yang nampak, dan karena itu dapat diukur, psikologi adalah ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan hanya berhubungan dengan apa saja yang dapat diamati. Jiwa jika didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak bisa diamati, maka berarti berada di luar wilayah psikologi. Aliran ini terkenal dengan teori Conditioning dengan eksperimen pada seekor anjing yang dikondisikan untuk mengeluarkan air liur ketika mendengar bunyi bel.

Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami pengembangan dengan lahirnya teori-teori tentang belajar dipelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson, dan Gunthrie. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikakan oleh ganjaran (rewards) atau penguatan (reinforcment)dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang sangat erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya. Aliran ini melihat dari sudut pandang yang dinyakininya rasional dan sangat empiris.

3. Aliran Humanistik
Aliran humanistik muncul pada tahun 1940-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik. Sebagai sebuah aliran yang relatif masih muda, beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus mengeluarkan konsep yang relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri (ekstensialisme), dan hal-hal yang bersifat positif tentang manusia.

Aliran humanistik dan teori yang dikembangkan oleh tokoh-tokohnya yang relevan dengan pendidikan, sampai saat ini dinyakini adalah konsep yang tepat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran.

4. Aliran Psikologi Kognitif
Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.

Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.

Penerapan Pendidikan Humanistik  Pada Saat Ini

Finlandia adalah Negara yang terkenal dengan sistem Pendidikannnya yang berhasil melahirkan generasi berkualitas dan unggul. Pendidikan di Finlandia menganut sistem Humanistik yakni  sistem belajar yang menekankan pada peserta didiknya untuk memadukan teori dan praktek serta menempatkan murid sebagai objek yang bebas merdeka namun diiringi rasa tanggung jawab, pembelajarannya melakukan pendekatan dialogis, reflektif dan ekspresif, sehingga mereka mampu memecahkan problem solving. Berbeda dengan sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia ialah bersifat Behavioristik yang lebih menekankan teori dan belajar dengan metode stimulus-respon serta mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Teori ini menekankan prilaku akibat efek dari belajar.

“Humanistik motivasi berprestasi, bukan hanya kebiasaan atau reward – punishment. Skill dan proses. Mencari / mengembangkan potensi masing2x individu. Guru sering kali hanya facilitator.”

 

Konsep Pendidikan Humanistik di Ajaran Agama Khonghucu

Ada  metode-metode belajar bersifat humanistik , yang selalu ditekankan oleh Nabi Kongzi disetiap kesempatan memberikan sabda, arahan dan petunjuk kepada para muridnya, antara lain adalah dalam istilah “meneliti hakekat tiap perkara”.  Meneliti hakekat tiap perkara dapat diartikan secara umum  dengan mempelajari semua hal, seluk beluk kehidupan di dunia ini. Kemampuan untuk  belajar tersebut tentu dibutuhkan dukungan Kognisi dan Afeksi yang baik. Tidak hanya sekedar mengikuti atau meniru tetapi meneliti, mempelajari.

Untuk lebih lanjut kita dapat mengulas 2 konsep yang diajarkan di Agama Khonghucu  seperti tulisan dibawah ini.

1. Watak Sejati
Menurut Ajaran Agama Khonghucu, manusia dapat berbudi luhur jika mengembangkan “Watak Sejati” nya.  Watak Sejati merupakan anugrah Tuhan kepada manusia. Baik buruk perilaku seseorang tergantung dari bagaimana ia mengembangkan watak sejatinya.

Adapun Watak Sejati (Xing), terdiri dari:

a. Cinta Kasih (Ren)
Cinta Kasih adalah kemampuan afeksi (perasaan).  Cinta Kasih dapat berwujud berupa perasaan kasihan dan tidak tega terhadap sesama manusia dan bahkan mahluk lainnya.  Cinta Kasih merupakan kemampuan empati yang harus terus di asah dan dikembangkan untuk dapat memahami orang lain dan lingkungan disekitarnya.

b. Menjunjung Tinggi Kebenaran / Keadilan (Yi)
Memahami mana pikiran dan tindakan yang benar, dan mana pikiran dan tindakan yang salah, akan membentuk  pola pikir manusia untuk selalu melalui jalan yang benar. Mengikuti aturan-aturan yang ada didalam kehidupan dengan mempertimbangkan kebenaran dan keadilan

c. Kesusilaan (Li)
Kesadaran seorang manusia untuk mengikuti dan mengembangkan tatanan kehidupan yang lebih baik,  didasari oleh kemampuan orang tersebut menghayati rasa cintakasih dan memahami kebenaran. Selanjutnya dapat mengembangkan dan menerapkan etika dan tata krama yang positif di lingkungan sekitarnya.

Orang yang sampai pada tahap menyukai kesusilaan berarti menyukai keindahan, keteraturan dan keharmonisan.

d. Kebijaksanaan (Zhi)
Untuk memperoleh tahapan kebijaksanaan seseorang sudah harus memahami makna dari cintakasih, menjunjung tinggi kebenaran dan kesusilaan.  Proses mengumpulkan informasi dengan membaca pengetahuan-pengetahuan akan membuat kebijaksanaan orang bertambah. Tetapi kebijaksanaan bukan sekedar menumpulkan informasi saja, tetapi lebih kepada analisa informasi yang ada. Analisa kebenaran-kebenaran yang diterima sesuai konteksnya.

 

2.  Delapan Program Pengembangan diri

Ajaran Agama khonghucu mengajarkan 8 program pembinaan diri, yaitu:

1. Meneliti hakikat perkara (Ge Wu)
Pendidikan secara umum dimulai dari usia dini dengan mengenal berbagai macam nama-nama benda.   Dilanjutkan dengan memahami masalah-masalah dan fenomena yang ada disekitar kita.

2. Mencukupkan Pengetahuan (Zhi Zhi)
Mempelajari berbagai pengetahuan sebanyak-banyaknya baik secara formal maupun informal. Sumber pengetahuan bisa berasal dari buku-buku, guru ataupun fenomena disekitar kita.

3. Mengimankan tekad (Cheng Yi)
Setelah memiliki pengetahuan yang cukup, diharapkan memiliki tujuan yang mantap, tujuan yang positif.  Sebuah cita-cita yang berfokus pada kebajikan.

4. Meluruskan Hati (Zheng Xin) 
Untuk dapat bertekad mencapai cita-cita yang sesuai dengan kebajikan, maka manusia harus dapat mengendalikan emosinya. Senantiasa dapat merefleksi diri, instropeksi diri dan tepasarira.

5. Membina diri (Xiu Shen)
Ajaran Agama Khonghucu mewajibkan umatnya untuk selalu membina diri. Mengembangkan watak sejatinya. Membina pikiran dan perbuatannya sehingga dapat mencapai kesuksesan dalam hidup secara lahir dan bathin. Bekerja sesuai dengan posisi / kedudukannya. Berusaha sebaik mungkin untuk kebaikkan masyrakatnya.

6. Membina rumah tangga ( Qi Jia )

Setelah manusia belajar membina diri,  maka  tahap selanjutnya adalah dapat membina keluarganya. Membuat keluarganya bahagia dan sejahtera. Mencukupi anak-anak nya dengan pengetahuan-pengetahuan  yang benar.

7. Mengatur negara  (Zhi Guo)
Seseorang yang dapat membina rumah tangganya dengan baik, akan lebih mampu untuk ikut mengatur pemerintahan, berperan serta didalam mensejahterakan masyarakat banyak dalam kehidupan yang harmonis.

8. Menjaga perdamaian dunia (Ping Tian Xia )
Jika semua lapisan masyarakat dapat hidup harmonis, maka Perdamaian Dunia akan dapat di rasakan.  Dan semua itu kembali lagi pada terciptanya pribadi-pribadi dengan pendidikan yang baik.

 

Kesimpulan

Pada dekade ini, pendidikan Humanistik adalah metode yang dipilih untuk diterapkan sebagai pengganti dari pendidikan yang bersifat behavioristik . Pendidikan behavioristik mulai ditinggalkan karena bersifat mekanis. Perilaku manusia dikondisikan dengan hukuman dan hadiah. Manusia tidak diajarkan untuk berpikir mendalam dan mengolah jiwanya.

Pendidikan Humanistik mengajarkan manusia untuk berpikir secara mendalam dan komprehensif  (utuh), sehingga apa yang menjadi dasar perilakunya benar-benar disadari oleh Jiwanya. Perilaku manusia tidak didasari oleh hukuman ataupun hadiah dari lingkungan atau orang lain.

Pendidikan Humanistik inilah yang sudah diajarkan oleh Nabi Kongzi lebih dari 2500 tahun yang lalu, agar manusia dapat membina dirinya dan menjadi seorang yang bijaksana.

Nabi Bersabda :
“Yang Mengerti belum sebanding dengan yang menyukai, sedangkan yang menyukai belum sebanding dengan yang dapat merasa gembira di dalamnya“
(Sabda Suci JILID VI, 19)

Nabi Bersabda :
“ Belajar dan selalu dilatih tidakkah itu menyenangjan?
2. Kawan-kawan datang dari tempat jauh, tidakkah itu membahagiakan?
3. Sekalipun orang tidak mau tahu, tidak menyesali; bukankah ini sikap seorang Kuncu?
( Sabda Suci, JILID 1, 1)

Daftar Pustaka

http://www.siperubahan.com/read/1473/Sistem-Pendidikan-Indonesia-VS-Sistem-Pendidikan-Finlandia
Sishu (Kitab Yang Empat), terbitan Matakin
Pengantar Aliran Psikologi, UNTAG Surabaya

81 Total Views

Website http://
Posts created 49

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

captcha

Please enter the CAPTCHA text

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top