<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>gentanusantara :: Filsafat dan Agama Khonghucu bagi Masyarakat Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gentanusantara.com</link>
	<description>Filsafat dan Agama Khonghucu bagi Masyarakat Indonesia</description>
	<pubDate>Mon, 10 May 2010 02:10:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sederhana Dan Suka Mengalah / Qian Rang, 谦 让</title>
		<link>http://www.gentanusantara.com/?p=198</link>
		<comments>http://www.gentanusantara.com/?p=198#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 02:06:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Moral & Etika]]></category>

		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<category><![CDATA[kerukunan agama]]></category>

		<category><![CDATA[khonghucu]]></category>

		<category><![CDATA[Kongzi]]></category>

		<category><![CDATA[m]]></category>

		<category><![CDATA[moral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gentanusantara.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Orang yang berperi Cinta Kasih itu mencintai sesama manusia. Yang ber Kesusilaan itu menghormati sesama manusia. Yang mencintai sesama manusia, niscaya akan selalu dicintai orang. Yang menghormati sesama manusia, niscaya akan selalu dihormati orang.&#8221; (Mengzi IV B: 28) Manusia dikodratkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk yang bermasyarakat; dalam pergaulan kemasyarakatan selalu ada perilaku yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Orang yang berperi Cinta Kasih itu mencintai sesama manusia. Yang ber Kesusilaan itu menghormati sesama manusia. Yang mencintai sesama manusia, niscaya akan selalu dicintai orang. Yang menghormati sesama manusia, niscaya akan selalu dihormati orang.&#8221; (<em>Mengzi</em> IV B: 28) Manusia dikodratkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk yang bermasyarakat; dalam pergaulan kemasyarakatan selalu ada perilaku yang saling timbal balik. Agar perilaku kita berkenan kepada orang lain, hidup sederhana dan suka mengalah sangat diperlukan. Di dalam <em>Yi Jing</em> 易 经 tersurat, &#8220;Jalan Suci Tuhan Yang Maha Esa mengurangi yang berkelebihan dan memberkati yang sederhana; Jalan Suci bumi merubah yang berkelebihan dan mengalirkan kepada yang dibawah-bawah; Tuhan Yang Maha Rokh menghukum yang sombong dan membahagiakan yang rendah hati; Jalan Suci manusia membenci kesombongan dan menyukai kesederhanaan; Kesederhanaan/adab sopan itu mulia bergemilang, tidak dapat dilampaui/dirusak perbuatan durjana, demikianlah paripurnanya seorang Susilawan.<span id="more-198"></span>&#8221; Marilah selanjutnya kita ikuti ayat-ayat suci di bawah ini:</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Biar mempunyai kepandaian sebagai Pangeran <em>Zhou</em> 周, bila ia sombong dan tamak, sesungguhnya belum patut dipandang.&#8221; (Sabda Suci VIII: 11)</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Seorang Susilawan itu berwibawa (agung) tetapi tidak congkak, seorang rendah budi itu congkak tetapi tidak berwibawa.&#8221; (Sabda Suci XIII: 26)</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Cakap, tetapi suka bertanya kepada yang tidak cakap; berpengetahuan luas, tetapi suka bertanya kepada yang kurang pengetahuan; berkepandaian tetapi kelihatan tidak pandai; berisi tetapi nampak kosong; tidak mendendam atas perbuatan orang lain; dahulu aku mempunyai seorang teman yang dapat melakukan itu.&#8221; <em>Zengzi</em> hendak menyebutkan tentang <em>Yan Hui</em> 颜 回<em>. </em>(Sabda Suci VIII: 5)</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Seorang <em>Junzi</em> tidak mau berebut. Kalau berebut, itu hanya pada saat berlomba memanah. Mereka saling mengalah dan memberi hormat dengan cara <em>Yi</em> 揖, lalu naik ke panggung dan berlomba; kemudian turun dan yang kalah meminum anggur. Meskipun berebut tetap seorang <em>Junzi</em>.&#8221; (Sabda Suci III: 7)</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Sungguh <em>Meng Zhifan</em> 孟 之 反 / Bing Cihwan tidak duka menonjol-nonjolkan diri. (Pada waktu tentaranya menderita kekalahan) ia berjalan di belakang melindungi barisan. Setelah di muka pintu gerbang kota, dicambuklah kudanya dan berkata, &#8216;Bukan keberanianku untuk di belakang, hanya kuda ini tidak dapat lari cepat-cepat.&#8221; (Sabda Suci VI: 15)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2&amp;p=198</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya Jawab Tentang Agama Khonghucu</title>
		<link>http://www.gentanusantara.com/?p=191</link>
		<comments>http://www.gentanusantara.com/?p=191#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 09:07:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Filsafat & Kebudayaan]]></category>

		<category><![CDATA[Moral & Etika]]></category>

		<category><![CDATA[Sejarah / History]]></category>

		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<category><![CDATA[afterlife]]></category>

		<category><![CDATA[cinta kasih]]></category>

		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>

		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>

		<category><![CDATA[kematian]]></category>

		<category><![CDATA[khonghucu]]></category>

		<category><![CDATA[konghucu]]></category>

		<category><![CDATA[Kongzi]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<category><![CDATA[tanya jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gentanusantara.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[1. Bagaimana sifat Tuhan dalam ajaran agama Khonghucu yang tertulis dalam kitab Yi Jing?
Jawab: 
Di dalam Kitab Yi Jing dikatakan bahwa Tuhan itu Maha Pencipta, Tuhan juga mengatur alam semesta ini agar semua makhluk tetap dapat hidup, Tuhan  juga memelihara alam semesta dan isinya, termasuk manusia. Dan Tuhan juga meluruskan yang bengkok, menghukum yang bersalah.
 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>1. Bagaimana sifat Tuhan dalam ajaran agama Khonghucu yang tertulis dalam kitab Yi Jing?</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab: </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Kitab Yi Jing dikatakan bahwa Tuhan itu Maha Pencipta, Tuhan juga mengatur alam semesta ini agar semua makhluk tetap dapat hidup, Tuhan  juga memelihara alam semesta dan isinya, termasuk manusia. Dan Tuhan juga meluruskan yang bengkok, menghukum yang bersalah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Apakah perbedaan agama Khonghucu dengan filsafat Konfusianisme?</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab: </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Agama Khonghucu adalah ajaran agama yang diajarkan oleh para Raja Suci Purba, dan diteruskan oleh Nabi Khongcu diajarkan kepada rakyat jelata, agar semua rakyat mendapat pembinaan rohani dan menjalani hidup damai dan sejahtera. <span id="more-191"></span>Filsafat Konfusianisme adalah ajaran Xun Zi , tokoh filsafat yang hidup pada abad III SM, yang menggunakan ajaran Nabi Khongcu sebagai sumber filsafatnya untuk menyatukan Tiongkok yang saat itu kacau-balau. Dalam filsafat Konfusianisme tidak dibicarakan masalah ritual agama, yang dibicarakan masalah politik, ekonomi, hukum, dan pertahanan negara.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.  Apakah perbedaan antara Xiu Shen atau Pembinaan diri dengan Xiu Dao atau Pembinaan rohani ?</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab: </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Xiu Shen atau pembinaan diri berkaitan dengan meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan orang. Setiap orang wajib membina diri atau Xiu Shen supaya menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat. Manusia yang bodoh, dan tidak mempunyai ketrampilan hanya menjadi beban bagi masyarakat. Xiu Dao atau Pembinaan rohani artinya pembinaan emosi dan pembinaan spiritual. Dalam kehidupan manusia sering menjumpai masalah yang menekan perasaan atau melaukai hati, apabila manusia tidak mendapat pembinaan rohani akan mudah kesal dan p[utus asa atau kehilangan kendali diri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Agama Khonghucu mengajarkan bahwa manusia mempunyai kehidupan yang kekal abadi, kehidupan di dunia saat ini hanya sebagian dari perjalanan panjang. Bagaimanakah penjelasannya? </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Manusia itu terdiri dari Badan dan roh. Badan diperoleh dari orang tua, roh diperoleh dari Tuhan. Roh setelah masuk ke badan janin manusia membuat badan roh agar dapat menyatu dengan badan jasmani. Badan roh itu dalam bahasa sehari-hari disebut jiwa  Manusia tidak dapat membedakan badan jasmaninya dengan badan rohnya karena sudah menjadi kesatuan manusia hidup. Setelah manusia meninggal dunia, badan jasmaninya rusak dan badan rohnya terurai. Emosi, nafsu dan naluri jasmaninya  lepas dengan rohnya, dan kebaikan budinya menyatu dengan rohnya kembali kepada Tuhan. Roh itu akan meneruskan perjalanan hidupnya selanjutnya. <strong>Kelahiran adalah pintu masuk ke dunia, kematian adalah pintu keluar dari dunia.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> 5. Jelaskan Delapan keimanan dalam agama Khonghucu!</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab: </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Delapan Pengakuan Iman</p>
<p style="text-align: justify;">1.<strong>Cheng Xin Huang Tian </strong>(Sepenuh Iman Yakin Tian Yang Maha Esa)</p>
<p style="text-align: justify;">Wu Er Wu Yi  (Jangan mendua. Jangan bimbang)</p>
<p style="text-align: justify;">Shang Di Lin Ru (Tuhan Yang Maha Tinggi beserta mu)</p>
<p style="text-align: justify;">2.<strong>Cheng Zun Jue De </strong>(<strong> </strong> Sepenuh Iman   Menjunjung Tinggi Kebajikan)</p>
<p style="text-align: justify;">Wu Yuan Fu Jie  (Tiada jarak jauh tidak terjangkau)</p>
<p style="text-align: justify;">Ke Xiang Tian Xin (Sungguh Hati, Tian merakhmati)</p>
<p style="text-align: justify;">3.<strong>Cheng Li Ming Ming</strong> (Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang)</p>
<p style="text-align: justify;">Cun Xin Yang Xing  (Jagalah hati, rawatlah Wataksejati)</p>
<p style="text-align: justify;">Ze Zhi Shi Tian  (Demikian mengabdi kepada Tian)</p>
<p style="text-align: justify;">4.<strong>Cheng Zhi Gui Shen</strong> (Sepenuh Iman Menyadari Adanya Nyawa &amp; Roh)</p>
<p style="text-align: justify;">Jin Xiu Gua Yu  (Tekun bina diri, kurangi keinginan)</p>
<p style="text-align: justify;">Fa Jie Zhong Jie (Bila nafsu timbul, jaga tetap di batas tengah)</p>
<p style="text-align: justify;">5.<strong>Cheng Yang Xiao Si</strong> ( Sepenuh Iman Memupuk Cita Berbakti )</p>
<p style="text-align: justify;">Li Shen Xing Dao   (Tegakkan diri, menempuh Jalansuci)</p>
<p style="text-align: justify;">Yi Xian Fu Mu (Demi memuliakan Ayah Bunda)</p>
<p style="text-align: justify;">6.<strong>Cheng Shun Mu Duo</strong> (Sepenuh    Iman  Mengikuti   Genta Rohani,    Nabi Kongzi )</p>
<p style="text-align: justify;">Zhi Zun Zhi Sheng  (Yang terjunjung Nabi Agung)</p>
<p style="text-align: justify;">Yong Bao Tian Ming (Yang dilindungi Firman Tian)</p>
<p style="text-align: justify;">7.<strong> Cheng Qin Jing Shu</strong> (Sepenuh Iman Memuliakan Wujing dan Sishu)</p>
<p style="text-align: justify;">Tian Xia Da Jing   (Kitab suci Besar Dunia)</p>
<p style="text-align: justify;">Li Ming Da Dao (Pokok Besar Tegakkan Firman)</p>
<p style="text-align: justify;">8.<strong>Cheng Xing Da Dao </strong> (<strong> </strong> Sepenuh Iman Menempuh Jalan Suci)</p>
<p style="text-align: justify;">Xu Yu Bu Li (Sekejabpun tidak terpisah)</p>
<p style="text-align: justify;">Wu Jiang Zhi Xiu (Tempat Sentosa Yang Tanpa Batas)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6. Dalam upacara sembahyang agama Khonghucu digunakan sesaji berupa</strong><strong> makanan dan bunga, apakah maknanya ?</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab: </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan manusia makanan adalah bahan yang menyediakan tenaga hidup maka makanan menjadi simbol sumber kehidupan. Bunga berbau harum, sebagai lambang kegembiraan. Dalam upacara sembahyang agama Khonghucu dipakai sesaji makanan dan bunga untuk menunjukkan rasa hormat, keiklasan,dan harapan. Semua makanan itu dibentuk dan diberi warna untuk mewakili berbagai harapan dan permohonan kepada Tuhan. Bunga juga ditata sesuai simbol yang menunjukkan harapan orang yang bersembahyang. Sesaji makanan dan bunga adalah bentuk doa yang dilambangkan atau divisualisasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>7. Apakah yang disebut dengan Delapan Kebajikan atau Ba De dalam agama Khonghucu?</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ba De atau Delapan kebajikan dilambangkan dengan delapan jari tangan kiri dan kanan. Ibu jari tangan kiri melambangkan ayah, ibu jari tangan kanan melambangkan ibu. Delapan ibu jari mulai dari jari telunjuk tangan kiri berturut-turut melambangkan</p>
<p style="text-align: justify;">1. Bakti                                                     5. Menjunjung tinggi kesusilaan</p>
<p style="text-align: justify;">2. Rendah hati                                      6. Menjunjung tinggi kebenaran</p>
<p style="text-align: justify;">3. Setia                                                     7. Menyucikan hati</p>
<p style="text-align: justify;">4. Dapat dipercaya                             8. Tahu malu</p>
<p style="text-align: justify;">Delapan Kebajikan adalah sikap yang wajib kita pegang teguh sebagai manusia yang berbudi dan berbudaya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>8. Mengapa orang wajib berbakti kepada orang tua, sekalipun orang tua sudah meninggal dunia?</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab: </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berbakti kepada orang tua adalah pintu utama untuk mengenal Tuhan dan mengabdi kepada Nya. Apabila kepada orang tua, sebagai orang yang telah melahirkan dan paling dekat tidak dapat berbakti, bagaimana dapat berbakti kepada negara dan Tuhan yang lingkupnya lebih besar. Barbakti kepada orang tua diteruskan meskipun orang tua sudah tiada di dunia karena kebaikan dan harapan orang tua harus tetap hidup dalam jiwa anak cucunya. Harapan semua orang tua adalah anak cucunya hidup lebih sejahtera dan bahagia dari pada mereka sendiri. Kebahagiaan anak cucu terwujud apabila dapat mencapai harapan leluhur mereka. Sembahyang kepada leluhur sesuai jadwal adalah mengingat kembali harapan dan cita-cita orang tua atau leluhur.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>9. Manurut Nabi Khongcu, ibadah agama itu wajib dilaksanakan dengan serius </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> dan khidmad, apakah alasannya? </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ibadah agama adalah perwujudan dari aktivitas religius. Pengalaman batin tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata secara lengkap, hanya dapat dilengkapkan dengan melakukan upacara ibadah agama. Manusia yang tidak mempunyai keyakinan kepada Tuhan yang tidak tampak tentu tidak serius melakukan ibadah agama. Ibadah mereka hanya formalitas dan tidak dihayati dalam hatinya. Menurut Nabi Khongcu, ibadah agama adalah inti dari tatanan-sosial, apabila ibadah agama sudah tidak dilakukan dengan khidmat dan serius maka akan terjadi ancaman kerusajan tatanan-sosial. Apabila tatana-sosial sudah rusak sukar untuk diperbaiki. Untuk memperbaikinya harus dimulai dari penataan kembali tata ibadah agama.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>10. Apakah yang disebut dengan Program Pembinaan diri dalam Agama Khonghucu?</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada pun yang dimaksud dengan Delapan Program Pembinaan Diri adalah sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: justify;">a   Meneliti hakikat tiap perkara  atau Ge Wu (  格  物 )</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia mempunyai pikiran, perasaan, dan panca indera gunanya untuk memahami alam dan benda sekitarnya, serta merumuskannya menjadi pengetahuan yang berguna. Nabi Kongzi menganjurkan kepada murid-muridnya, apabila mereka tidak memahami sesuatu harus bertanya kepada yang mengerti. Belajarlah kepada siapa saja, yang baik diambil yang jelek diperbaiki. Xun Zi menekankan semua orang harus mendapat pendidikan yang baik dari guru yang berkualitas. Tanpa pendidikan, manusia menjadi bodoh dan jahat. Semua penderitaan manusia bersumber dari kelalaian generasi tua mendidik generasi muda (Zhang ,1993: 12).</p>
<p style="text-align: justify;">b.  Menguasai ilmu secara utuh atau  Zhi Zhi  (  知  致  )</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang mempelajari ilmu selayaknya dengan sistematika yang benar sehingga memperoleh ilmu yang jelas wujudnya. Ilmu yang diperoleh seyogyanya berguna untuk meringankan kehidupan manusia. Xun Zi sangat menghargai teknologi yang sudah ada pada waktu itu. Belajar ilmu yang tidak tuntas tidak dapat dimanfaatkan (Zhang, 1993: 21). Pendidikan yang hanya mengajarkan teori, tetapi kurang praktik tidak dapat membekali anak dengan pengetahuan yang lengkap. Pengetahuan yang hanya teoritis tidak berguna.</p>
<p style="text-align: justify;">c. Tulus dan  membulatkan tekad atau  Cheng Yi  (  誠  意 )</p>
<p style="text-align: justify;">Siswa yang telah menentukan pilihan untuk mendalami suatu ilmu perlu dilanjutkan sehingga keahliannya bisa diandalkan manfaatnya oleh orang lain. Siswa yang tidak tulus dan tidak mempunyai tekad yang kuat mudah tergoda untuk berpindah keahlian dan pekerjaan, dengan alasan penghasilan kurang atau tidak cocok. Orang yang suka berpindah pekerjaan  biasanya tidak berhasil membina karir.</p>
<p style="text-align: justify;">d   Meluruskan hati atau  Zheng Xin (  正   心 )</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang telah menguasai ilmu tertentu tidak boleh bersikap tidak adil dan emosional. Misalnya, ilmunya hanya untuk melayani orang yang mau membayar tinggi saja, atau hanya mau melayani golongan tertentu saja. Saat melayani orang harus bersikap jujur, jangan mencari keuntungan dengan cara yang tidak halal. Jangan malu atau marah apabila pekerjaannya dikritik atau dicela orang. Tingkatkan terus kemampuan diri agar tidak tertinggal oleh kemajuan zaman.</p>
<p style="text-align: justify;">e.  Membina diri  atau Xiu Shen (  修  身 )</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran membina diri mengingatkan setiap siswa agar mempunyai cita-cita untuk menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Untuk itu, siswa wajib meraih posisi tertentu dalam masyarakat. Nabi Kongzi mengijinkan muridnya untuk menjadi pejabat negara apabila ia mampu. Xun Zi menganjurkan siswanya untuk menjadi pejabat yang professional, atau menjadi orang kuat,  kaya, dan pandai agar dapat membantu orang lain yang mengalami kesulitan hidup. Orang yang lemah, miskin, dan bodoh biasanya menjadi beban orang lain dan masyarakat. Orang yang kuat dapat membantu orang lain yang lemah apabila telah dididik.</p>
<p style="text-align: justify;">f. Mengatur rumah tangga atau  Qi Jia  (  齐 家  )</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah tangga adalah bentuk masyarakat paling kecil, tempat anak berlatih untuk belajar hidup bermasyarakat. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak teratur akan menghadapi banyak masalah dalam masyarakat. Pilar penyangga keluarga adalah laku bakti anak kepada orang tua, dan kasih sayang orang tua kepada anak. Apabila dua pilar tersebut sudah tidak ada, maka keharmonisan keluarga terancam runtuh. Hubungan kemanusiaan dimulai dari keluarga, anak dilatih untuk patuh pada orang tua, suami istri saling menghargai, antar-saudara saling menyayangi, antar-tetangga saling membantu. Anak-anak yang tidak dilatih menjalin hubungan tersebut akan menjadi canggung dalam pergaulan umum, biasanya mereka menjadi terbelakang dalam kehidupan ekonomi.</p>
<p style="text-align: justify;">g. Berpartisipasi  membangun negara atau Zhi Guo ( 治  国 )</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap siswa diajarkan untuk berbakti kepada negara, diajarkan melaksanakan kewajibannya kepada negara. Antara lain, anak diajarkan berdisiplin, taat pada undang-undang, menghindari kebiasaan buruk, mencegah kejahatan dan kemaksiatan lain.  Mematuhi segala aturan yang dikeluarkan oleh negara selayaknya dipandang sebagai perilaku terhormat. Xun Zi menegaskan bahwa kejayaan negara adalah kehormatan warganya. Siswa wajib menyadari bahwa norma masyarakat dan undang-undang negara dibuat untuk melindungi warganya. Selayaknya, semua warga  menghormati undang-undang dan mentaatinya. Sumbangan individu kepada negara sekecil apapun tetap berguna. Orang sering salah persepsi, mengartikan pembelaan negara sama dengan berperang melawan musuh di medan perang.</p>
<p style="text-align: justify;">h. Menjaga perdamaian dunia atau Ping Tian Xia (  平  天  下 )</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap siswa perlu dididik menyukai perdamaian dengan siapa saja. Semua persoalan sebaiknya diselesaikan dengan musyawarah. Hindari permusuhan dengan siapa pun. Kerukunan dalam kelas, dalam rumah tangga, dan pemukiman selalu dijaga karena perdamaian dunia berasal dari perdamaian di lingkungan pemukiman.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendidikan bukan hanya menanamkan nilai, tetapi yang lebih penting adalah melatih dan membiasakan anak untuk mewujudkan nilai itu dalam kehidupan nyata. Orang tua sebagai pemimpin rumah tangga perlu bersikap tegas dan adil, tetapi penuh kasih sayang dalam mendidik anak. Agar orang tua juga menjadi idola anak-anaknya, mereka perlu memberi contoh yang baik. Setiap anak perlu mempunyai tokoh yang menjadi idola sebagai teladan dalam membentuk kepribadiannya. Yang paling ideal, apabila idolanya itu orang yang dekat yaitu orang tuanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk memperjelas kedudukan rumah tangga sebagai pusat perdamaian dunia, di bawah ini dipaparkan ayat-ayat dari kitab Da Xue  bab IX.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat 5 &#8220;Maka teraturnya negara itu sesungguhnya berpangkal pada keberesan dalam rumah tangga&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat 7 &#8220;Dalam Kitab Sanjak tertulis: Hormatilah kakakmu, cintailah adikmu. Hormatilah kakakmu, cintailah adikmu. Dengan demikian baru dapat mendidik rakyat negara.</p>
<p style="text-align: justify;">Penulis : Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2&amp;p=191</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Confucius Movie, dibintangi Chow Yun Fat</title>
		<link>http://www.gentanusantara.com/?p=182</link>
		<comments>http://www.gentanusantara.com/?p=182#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 03:44:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>

		<category><![CDATA[confucius]]></category>

		<category><![CDATA[khonghucu]]></category>

		<category><![CDATA[konghucu]]></category>

		<category><![CDATA[Kongzi]]></category>

		<category><![CDATA[tiongkok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gentanusantara.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama  hampir 1 abad Eksistensi Filsafat dan Ajaran Agama Khonghucu mulai terasa di bangkitkan kembali di Tiongkok.  Semenjak masa  revolusi tahun-tahun  1900 an di tiongkok sampai bercokolnya komunis, merupakan jaman kesuraman popularitas ajaran Ru Jiao.
Dan kini di era yang lebih terang dan  terbuka ini,  telah hadir sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah sekian lama  hampir 1 abad Eksistensi Filsafat dan Ajaran Agama Khonghucu mulai terasa di bangkitkan kembali di Tiongkok.  Semenjak masa  revolusi tahun-tahun  1900 an di tiongkok sampai bercokolnya komunis, merupakan jaman kesuraman popularitas ajaran Ru Jiao.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kini di era yang lebih terang dan  terbuka ini,  telah hadir sebuah garapan cinema yang kolosal menceritakan kehidupan Confucius ( Kongzi).  Diantara kritik, protes dan harapan di Film ini,  marilah kita tunggu bersama sejauh mana film ini  berhasil menggambarkan Keagungan Nabi Kongzi dan apakah sesuai dengan sejarah yang tertulis??</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-182"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Berikut sinopsis dan keterangan mengenai film ini yang penulis ambil dari suatu website.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-183" style="margin: 5px;" title="film-confucius" src="http://www.gentanusantara.com/wp-content/uploads/2010/02/film-confucius-150x150.jpg" alt="film-confucius" width="150" height="150" align="left" />Film Confucius Sinopsis, Anda penggemar Chow Yun Fat atau anda penggemar film sejarah? Kalau anda menyukai kedua-duanya, maka jangan lewatkan film Confusius yang dibintangi oleh superstar Hongkong, Chow Yun Fat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini Chow Yun Fat yang biasanya terkenal lewat aksi-aksi laganya di sejumlah film yang ia bintangi, baik film yang diproduksi dari negerinya sendiri maupun di sejumlah film Box Office seperti Crouching Tiger, Hidden Dragon di tahun 2000, akan berperan sebagai filosofer.</p>
<p style="text-align: justify;">Film Confucius Trailer Video Movie ini konon akan ditayangkan secara luas di seluruh dunia pada tanggal 28 Januari mendatang. Saat ini, tepatnya tanggal 14 Januari 2010, film tersebut telah diputar perdana di Beijing dan diprediksi akan dapat mengalahkan popularitas Donwload Gratis film &#8220;Avatar&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Confucius adalah seorang filosof dunia yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan moralitas.Masyarakat penganut ajaran nilai-nilai Confucius yang mengutamakan nilai moral (Li) cen Confucius adalah seorang filosof dunia yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan moralitas.Masyarakat penganut ajaran nilai-nilai Confucius yang mengutamakan nilai moral (Li) cenderung untuk menyatu dengan alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyatuan dan keselarasan hidup manusia dengan alam menjadikan masyarakat Confucius cenderung untuk menghindar dari konflik, baik konflik dengan sesama manusia maupun konflik dengan lingkungan alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran dari Filusuf Cina ini menjadikan menjadikan masyarakat Cina penganut Confucius untuk menolak bersentuhan dengan hukum. Penolakan tersebut tidak diartikan mereka sebagai masyarakat yang menentang hukum, melainkan mereka memiliki kecenderungan untuk mencari jalan damai dari setiap masalah yang mereka hadapiderung untuk menyatu dengan alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyatuan dan keselarasan hidup manusia dengan alam menjadikan masyarakat Confucius cenderung untuk menghindar dari konflik, baik konflik dengan sesama manusia maupun konflik dengan lingkungan alam.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Nah film kolosal ini mengangkat kehidupan seorang Confucius. Ia mendapat tentangan dari pemimpin Cina saat itu Mao Zedong. Ajaran Confucius yang berlandaskan harmoni dan saling menghormati antarstrata sosial berbeda dipandang menyalahi ideologi marxisme yang dianut Mao.</p>
<p style="text-align: justify;">Bulan lalu, Kong Jian, seorang pewaris atau turunan langsung Confucius ke 75 mengancam akan membawa produser film biografi bijak kuno itu ke pengadilan untuk meruntuhkan reputasi film Confucius.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurutnya, dalam film ini terdapat dialog antara Confusius dan selir Nan Zi yang menyesatkan khalayak banyak, seolah-olah Confucius tertarik secara romantis pada Nan-zi. Hal tersebut oleh Kong dianggap sebagai adegan-adegan yang jelas melawan sejarah dan merusak citra Confucius sebagai seorang bijak.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun wakil film itu yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan pada Sohu.com bahwa tidak akan ada perubahan atau penghapusan adegan film yang dilakukan. Dengan bertabur bintang film komersial, diperankan Chow, Zhou Xun, Chen Jianbin dan Ren Quan,</p>
<p style="text-align: justify;">Menggambarkan Confucius sebagai sosok yang romantis dan seorang guru beladiri. Sutradara Hu Mei pernah mengatakan kepada media bahwa dia melihat Confucius bukan hanya sebagai orang suci, tetapi juga hidup sebagai manusia biasa. Penasaran dengan film ini ? Tunggu tanggal tayangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">source : http://www.bloggaul.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2&amp;p=182</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hormat Dan Sungguh-Sungguh / Gong Jing, 躬 敬</title>
		<link>http://www.gentanusantara.com/?p=179</link>
		<comments>http://www.gentanusantara.com/?p=179#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 02:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Moral & Etika]]></category>

		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<category><![CDATA[konghucu]]></category>

		<category><![CDATA[moral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gentanusantara.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam kehidupan orang perlu ada rasa dan perilaku hormat dalam pergaulan maupun hormat terhadap tugas kewajiban. Kalau ingin hak-hak asasi kita dihormati dan dijunjung, kita harus menghormati dan menjunjung hak-hak asasi orang lain. Jalan Suci daripada perilaku hormat dan sungguh-sungguh ini adalah perwujudan daripada Jalan Suci Peri Cinta Kasih dan Tepasarira. Ketika Zhong Gong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di dalam kehidupan orang perlu ada rasa dan perilaku hormat dalam pergaulan maupun hormat terhadap tugas kewajiban. Kalau ingin hak-hak asasi kita dihormati dan dijunjung, kita harus menghormati dan menjunjung hak-hak asasi orang lain. Jalan Suci daripada perilaku hormat dan sungguh-sungguh ini adalah perwujudan daripada Jalan Suci Peri Cinta Kasih dan Tepasarira. Ketika Zhong Gong 仲 弓 bertanya tentang Cinta Kasih, Nabi bersabda, “Ke luar rumah hendaklah bersikap sebagai menjumpai tamu agung, mengabdikan diri kepada rakyat bersikap sebagai melakukan sembahyang besar. Apa yang diri sendiri tidak inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain. Dengan demikian di dalam negeri tidak disesali, di dalam keluargapun tidak disesali.” (Sabda Suci XII: 2) <span id="more-179"></span>Perbuatan tidak hormat dan tidak sungguh-sungguh adalah menghinakan diri sendiri, merusak diri sendiri. Mengzi bersabda, “Maka orang tentu sudah menghinakan diri sendiri, baharu orang lain menghinakannya. Suatu keluarga niscaya telah dirusak sendiri, baharu kemudian orang lain merusakkannya. Suatu negara niscaya telah diserang sendiri, baharu kemudian orang lain menyerangnya.” “Yang merusak diri sendiri tidak dapat diajak bicara baik. Yang membuang diri sendiri tidak dapat diajak berbuat baik. Yang perkataannya tidak di dalam Kesusilaan dan Kebenaran, ia dinamai merusak diri sendiri. Yang berpendapat: ‘Aku tidak dapat mendiami Cinta Kasih dan mengikuti Kebenaran’, dinamai membuang diri sendiri. Cinta Kasih itulah Rumah Sentosa dan Kebenaran itulah Jalan Lurus. Kalau orang membiarkan Rumah Sentosa itu kosong dan tidak mau mendiaminya, menyingkiri Jalan Lurus dan tidak mau melewatinya; ini sungguh menyedihkan!” (IV A: 8 &amp; 10)<br />
Tentang betapa pentingnya laku hormat dan sungguh-sungguh itu, marilah kita ikuti ayat-ayat di bawah ini:<br />
-    Fan Chi 樊 迟 / Hwan Thi bertanya tentang Cinta Kasih. Nabi bersabda, “Di dalam rumah hendaklah bersikap hormat, melakukan tugas hendaklah sungguh-sungguh dan kepada orang lain hendaklah bersikap Satya. Hal ini sekalipun hidup di negeri Yi dan Di, janganlah disia-siakan.” (Sabda Suci XIII: 19)<br />
-    “Seorang Junzi selalu bersikap sungguh-sungguh, maka tiada khilaf. Kepada orang lain bersikap hormat dan selalu susila. Di empat penjuru lautan, semuanya saudara.” (S.S. XII: 5)<br />
-    Nabi bersabda tentang Zi-chan 子 产 (perdana menteri Negeri Zheng 郑), “Ia telah dapat melaksanakan empat syarat Jalan Suci seorang Junzi. Di dalam perbuatannya sehari-hari ia selalu bersikap hormat, di dalam mengabdi kepada atasannya selalu dengan sikap sungguh-sungguh, di dalam memelihara kesejahteraan rakyat ia selalu bermurah hati, dan di dalam memerintah rakyat selalu berdasar Kebenaran.” (S.S. V: 16)<br />
-    “Sungguh pandai bergaul Yan Ping-Zhong 晏 平 仲, semakin lama semakin menumbuhkan sikap hormat.” (Sabda Suci V: 17)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2&amp;p=179</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Suci Hati Dan Tahu Malu / Lian Chi, 廉 耻</title>
		<link>http://www.gentanusantara.com/?p=175</link>
		<comments>http://www.gentanusantara.com/?p=175#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 02:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Moral & Etika]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<category><![CDATA[konghucu]]></category>

		<category><![CDATA[moral]]></category>

		<category><![CDATA[suci hati]]></category>

		<category><![CDATA[tahu malu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gentanusantara.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Dengan tanpa memperhatikan Kesusilaan dan Kebenaran mengejar kekayaan dan kemuliaan, itu pasti karena kurangnya Kesucian Hati dan merosotnya rasa Tahu Malu, perasaan harga diri. Ini adalah menodakan dan merusakkan kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi Watak Sejati manusia. Maka Nabi bersabda, &#8220;Seorang Junzi bila tidak menghargai diri, niscaya tidak berwibawa; belajarpun tidak teguh. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dengan tanpa memperhatikan Kesusilaan dan Kebenaran mengejar kekayaan dan kemuliaan, itu pasti karena kurangnya Kesucian Hati dan merosotnya rasa Tahu Malu, perasaan harga diri. Ini adalah menodakan dan merusakkan kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi Watak Sejati manusia. Maka Nabi bersabda, &#8220;Seorang Junzi bila tidak menghargai diri, niscaya tidak berwibawa; belajarpun tidak teguh. Maka utamakanlah Satya dan Dapat Dipercaya. Janganlah berkawan dengan orang yang tidak memiliki semangat seperti dirimu. Bila bersalah jangan takut memperbaiki.&#8221; (Sabda Suci I: 8 ) Di dalam Ajaran Besar X: 14 tersurat, &#8220;Kami ingin mendapatkan seorang menteri yang jujur dan tidak bermuslihat. Yakni, yang sabar hati dan dapat menerima segala yang berfaedah; bila ada orang pandai, dia merasa itu sebagai kepandaiannya sendiri; lebih-lebih pula bila dia mendapati seorang yang berbudi sebagai nabi (suci), ia sangat menyukainya; ia tidak memuji dengan kata-kata saja tetapi dapat pula menerimanya. <span id="more-175"></span>Dengan orang yang demikian, tidak hanya dapat melindungi anak cucu, bahkan rakyatpun mendapatkan berkah. Sebaliknya seorang yang iri akan kepandaian orang lain; membenci dan menghalangi orang yang berbudi luhur mendapat kedudukan; bukan saja tidak melindungi anak cucu, rakyatpun akan mengalami bencana.&#8221; (Ajaran Besar X: 14). Mengzi berkata, &#8220;Orang tidak boleh tidak tahu malu. Malu bila tidak tahu malu, menjadikan orang tidak menanggung malu.&#8221; &#8220;Rasa tahu malu itu besar artinya bagi manusia. Kalau orang bangga dapat berbuat muslihat dan licin, itulah karena tidak menggunakan rasa tahu malunya. Yang tidak mempunyai rasa malu, tidak layak sebagai manusia, dalam hal apa ia layak sebagai manusia?&#8221; (Mengzi VII A: 6, 7) Demikianlah pentingnya orang memiliki kesucian hati dan rasa tahu malu itu. Marilah kita ikuti ayat-ayat di bawah ini:<br />
-	&#8220;Kalau kekayaan itu merupakan syarat (mutlak) untuk mencapai cita-cita tertinggi, meskipun harus menjadi tukang membawa cambuk, aku mau menjalaninya; tetapi karena bukan merupakan syarat, lebih baik aku mengikuti kesukaanku.&#8221; (S.S. VII: 12)<br />
-	&#8220;Dengan makan nasi kasar, minum air tawar dan tangan dilipat sebagai bantal, orang masih dapat merasakan kebahagiaan di dalamnya. Maka harta dan kemuliaan yang tidak berlandaskan Kebenaran, bagiku laksana awan yang berlalu saja.&#8221; (Sabda Suci VII: 16)<br />
-	&#8220;Setelah tiba tengah musim dingin, barulah dapat kita ketahui bahwa pohon Song 松 dan Bo 柏 paling akhir gugurnya.&#8221; (Sabda Suci IX: 28)<br />
-	&#8220;Seorang siswa yang benar-benar hendak hidup di dalam Jalan Suci, tetapi masih malu berpakaian buruk dan makan tidak enak, sesungguhnya ia belum masuk hitungan.&#8221; (S.S. 9)<br />
-	&#8220;Seorang siswa yang hanya mendambakan kesenangan saja, belum cukup disebut seorang siswa.&#8221; (S.S. XIV: 2)<br />
-	&#8220;Seorang yang berpikiran rendah sukar dikatakan dapat mengabdi kepada pemimpin. Sebelum ia memperoleh kedudukan, ia selalu khawatir bagaimana memperolehnya. Setelah memperoleh kedudukan, ia selalu khawatir kalau-kalau hilang lagi. Orang yang selalu khawatir kehilangan kedudukan, niscaya tidak segan melakukan perbuatan apapun.&#8221; (Sabda Suci XVII: 15)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2&amp;p=175</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kesusilaan Dan Kebenaran / Li Yi, 礼 义</title>
		<link>http://www.gentanusantara.com/?p=167</link>
		<comments>http://www.gentanusantara.com/?p=167#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 01:39:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Moral & Etika]]></category>

		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>

		<category><![CDATA[kesusilaan]]></category>

		<category><![CDATA[khonghucu]]></category>

		<category><![CDATA[konghucu]]></category>

		<category><![CDATA[moral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gentanusantara.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Perilaku yang didukung oleh jiwa yang berperi Cinta Kasih dan dilaksanakan dengan Bijaksana akan melahirkan perbuatan yang bernilai Kebenaran, yang menegakkan Keadilan, memenuhi Kewajiban; bila perilaku itu didorong dan dikendalikan oleh perasaan keindahan, itulah laku Susila yang terbabar di dalam berbagai tata sopan santun dan tata upacara dan peribadahan. Nabi bersabda, &#8220;Seorang Susilawan memegang Kebenaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Perilaku yang didukung oleh jiwa yang berperi Cinta Kasih dan dilaksanakan dengan Bijaksana akan melahirkan perbuatan yang bernilai Kebenaran, yang menegakkan Keadilan, memenuhi Kewajiban; bila perilaku itu didorong dan dikendalikan oleh perasaan keindahan, itulah laku Susila yang terbabar di dalam berbagai tata sopan santun dan tata upacara dan peribadahan. Nabi bersabda, &#8220;Seorang Susilawan memegang Kebenaran sebagai pokok pendiriannya, Kesusilaan sebagai pedoman perbuatannya, mengalah dalam pergaulan dan menyempurnakan diri dengan Laku Dapat Dipercaya. Demikianlah Susilawan.&#8221; (Sabda Suci XV: 18) &#8220;Seorang Susilawan terhadap persoalan dunia tidak mengiakan atau menolak mentah-mentah. Hanya Kebenaranlah yang dijadikan ukuran.&#8221; (Sabda Suci IV: 10) <span id="more-167"></span><em>Mengzi</em>pun bersabda, &#8220;Cinta Kasih itulah Hati Manusia, Kebenaran itulah Jalan Manusia. Kalau Jalan itu disia-siakan dan tidak dilalui, Hatinya lepas tidak tahu bagaimana mencarinya kembali; ini sungguh menyedihkan.&#8221; (Mengzi VIA: 11) &#8220;Adapun Kebenaran itulah Jalan dan Kesusilaan itulah Pintu. Hanya seorang Susilawan/<em>Junzi</em> dapat hilir mudik di Jalan itu dan keluar masuk Pintu itu.&#8221; (Mengzi VB: 7)</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapakah hanya seorang Susilawan mampu melaksanakan itu? Untuk melaksanakan itu kita dituntut pengabdian dan pengorbanan yang membelakangkan kepentingan pribadi. <em>Mengzi</em> berkata, &#8220;Ikan, aku menyukai. Tapak beruang, aku menyukai juga. Kalau tidak dapat kuperoleh kedua-duanya, akan kelepaskan hidup dan kupegang teguh Kebenaran.&#8221; (<em>Mengzi</em> VI: 10)</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam melaksanakan Kebenaran orang tidak dapat meninggalkan Kesusilaan, ikutilah ayat-ayat di bawah ini:</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Hormat tanpa tertib Kesusilaan akan menjadikan orang repot. Berhati-hati tanpa Kesusilaan akan menjadikan orang serba takut. Berani tanpa tertib Kesusilaan akan menjadikan orang suka mengacau. Dan jujur tanpa tertib Kesusilaan akan menjadikan orang berlaku kasar.&#8221; (Sabda Suci VIII: 2)</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Bila keaslian mengalahkan tatacara menjadikan orang bersikap udik. Bila tatacara mengalahkan keaslian menjadikan orang bersikap juru tulis. Maka tatacara dan keaslian itu hendaknya benar-benar selaras. Dengan demikian menjadikan orang bersifat <em>Junzi</em>.&#8221; (Sabda Suci VI: 18)</p>
<p style="text-align: justify;">-         <em>Ji Zicheng</em> 棘 子 成 / Kik Cusing berkata, &#8220;Seorang <em>Junzi</em> itu hanya perlu menjaga kemurnian hatinya. Maka apa perlunya segala tatacara?&#8221; <em>Zigong</em> 子 贡 berkata, &#8220;Mengapakah tuan melukiskan seorang <em>Junzi </em>demikian? Sungguh sayang! Kata-kata yang telah lepas itu, empat ekor kuda tidak dapat mengejar. Sesungguhnya tatacara itu harus selaras dengan kemurnian hati, dan kemurnian hati itu mewujud di dalam tatacara. Ingatlah, kulit harimau dan macan tutul, bila dihilangkan bulunya takkan banyak beda dengan kulit anjing dan kambing.&#8221; (S.S. XII: <img src='http://www.gentanusantara.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">-         <em>Zigong</em> bertanya, &#8220;Seorang yang pada saat miskin tidak mau menjilat dan pada saat kaya tidak sombong, bagaimanakah dia?&#8221; Nabi menjawab, &#8220;Itu cukup baik. Tetapi alangkah baiknya bila pada saat miskin tetap gembira (di dalam Jalan Suci) dan pada saat kaya tetap menyukai Kesusilaan.&#8221; (Sabda Suci I: 15)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2&amp;p=167</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Satya Dan Dapat Dipercaya / Zhong Xin, 忠 信</title>
		<link>http://www.gentanusantara.com/?p=161</link>
		<comments>http://www.gentanusantara.com/?p=161#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 01:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Moral & Etika]]></category>

		<category><![CDATA[cinta kasih]]></category>

		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<category><![CDATA[khonghucu]]></category>

		<category><![CDATA[konghucu]]></category>

		<category><![CDATA[moral]]></category>

		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gentanusantara.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Jalan Suci Kebajikan di dalam melaksanakan Cinta Kasih dan Tepasarira, dimulai dengan Bakti dan Rendah Hati, sedang Satya dan Dapat Dipercaya adalah menjadi pokok utama. Nabi Kongzi selalu bersabda, “Utamakanlah Satya dan Dapat Dipercaya.” Satya ialah yang menjadikan manusia menggemilangkan Kebajikan, sedangkan Dapat Dipercaya ialah kemampuan untuk disandari dalam mengamalkan Kebajikan itu. Sungguh menyedihkan bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jalan Suci Kebajikan di dalam melaksanakan Cinta Kasih dan Tepasarira, dimulai dengan Bakti dan Rendah Hati, sedang Satya dan Dapat Dipercaya adalah menjadi pokok utama. Nabi Kongzi selalu bersabda, “Utamakanlah Satya dan Dapat Dipercaya.” Satya ialah yang menjadikan manusia menggemilangkan Kebajikan, sedangkan Dapat Dipercaya ialah kemampuan untuk disandari dalam mengamalkan Kebajikan itu. Sungguh menyedihkan bila manusia sampai kehilangan dua perkara itu. Satya itu menyatakan ketulusan iman dalam menghormat/menjunjung Kebajikan sedang Dapat Dipercaya itu menyatakan kesungguhan dalam mengamalkan Kebajikan. Ketika Zi-zhang 子 张 bertanya bagaimana ia wajib berprilaku, Nabi bersabda, “Perkataanmu hendaklah kau pegang dengan Satya dan Dapat Dipercaya, perbuatanmu hendaklah kau perhatikan sungguh-sungguh ……… Kalau engkau sedang berdiri, hendaklah hal ini kaubayangkan seolah-olah di mukamu, kalau sedang naik kereta, bayangkan seolah-olah hal ini tampak di atas gandaran keretamu. Dengan demikian tingkah lakumu dapat diterima.” (Sabda Suci XV: 6)</p>
<p>Selanjutnya marilah kita ikuti ayat-ayat di bawah ini:<br />
-    “Hidup manusia difitrahkan lurus. Kalau tidak lurus tetapi terpelihara juga kehidupannya, itu hanya kebetulan.” (Sabda Suci VI: 19)<br />
-    “Seorang yang tidak dapat dipercaya, entah apa yang dapat dilakukan? Itu seumpama kereta besar yang tidak mempunyai sepasang gandaran atau seumpama kereta kecil yang tidak mempunyai sebuah gandaran, entah bagaimana menjalankannya.” (Sabda Suci II: 22)<br />
-    “Seorang Junzi setelah memperoleh kepercayaan rakyat baru berani menyuruh mereka bekerja keras. Bila belum mendapat kepercayaan, niscaya akan dianggap menindas. Harus mendapat kepercayaan lebih dahulu sebelum memberi peringatan kepada atasannya. Bila belum mendapat kepercayaan, niscaya disangka hanya pandai menyalahkan.” (S.S. XIX: 10)<br />
-    “Seorang yang hanya pandai memutar kata-kata dan bermanis muka, sesungguhnya jarang berperi Cinta Kasih.” (Sabda Suci XVII: 17)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2&amp;p=161</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bakti Dan Rendah Hati / Xiao Ti, 孝 悌</title>
		<link>http://www.gentanusantara.com/?p=142</link>
		<comments>http://www.gentanusantara.com/?p=142#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 07:32:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Moral & Etika]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<category><![CDATA[khonghucu]]></category>

		<category><![CDATA[konghucu]]></category>

		<category><![CDATA[Kongzi]]></category>

		<category><![CDATA[moral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gentanusantara.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Perilaku bakti dan rendah hati menyangkut hubungan yang paling mula dan paling dekat dalam kehidupan tiap manusia; menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mengabdi, menghormati dan mencintai ayah-bunda dan menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mencintai saudara-saudara. Karena jalinan hubungan ini paling dekat dan paling mula, maka dalam moral Konfuciani ke dua masalah ini dijadikan dasar dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Perilaku bakti dan rendah hati menyangkut hubungan yang paling mula dan paling dekat dalam kehidupan tiap manusia; menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mengabdi, menghormati dan mencintai ayah-bunda dan menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mencintai saudara-saudara. Karena jalinan hubungan ini paling dekat dan paling mula, maka dalam moral Konfuciani ke dua masalah ini dijadikan dasar dan landasan untuk pembinaan diri dalam jangkauan yang lebih luas dan lebih kompleks. Mengzi bersabda, “Mencintai orang tua itulah Cinta Kasih, dan hormat kepada yang lebih tua itulah Kebenaran.” (VII A:15) <span id="more-142"></span>“Mengabdi kepada siapakah yang terbesar? Mengabdi kepada orangtua itulah yang terbesar. Menjaga apakah yang berbesar? Menjaga diri itulah yang terbesar. Orang yang tidak kehilangan dirinya dan dapat mengabdi kepada orangtuanya, aku pernah mendengar. Tetapi orang yang kehilangan diri dapat mengabdi kepada orangtuanya, aku belum pernah mendengar.” (Mengzi IV A: 19) “Cinta Kasih itulah Kemanusiaan dan mengasihi orang tua itulah terbesar.” (Tengah Sempurna XIX: 5)<br />
Beberapa ayat suci di bawah ini kiranya boleh menambah pengertian kita tentang prilaku Bakti dan Rendah Hati:<br />
-    “Seorang Yang dapat berlaku Bakti dan Rendah Hati, tetapi suka menentang atasan, sungguh jarang terjadi; tidak suka menentang atasan, tetapi suka mengacau, ini belum pernah terjadi.<br />
Maka seorang Junzi mengutamakan pokok, sebab setelah pokok itu tegak, Jalan Suci akan tumbuh dengan sendirinya. Laku Bakti dan Rendah Hati itulah pokok peri Cinta Kasih.” (Sabda Suci I: 2)<br />
-    “Seorang Muda, dirumah hendaklah berlaku Bakti, di luar hendaklah bersikap Rendah Hati, hati-hati sehingga dapat dipercaya, menaruh cinta kepada masyarakat dan berhubungan erat dengan orang yang berperi Cinta Kasih. Bila telah melakukan hal ini dan masih mempunyai kelebihan tenaga, gunakanlah untuk mempelajari Kitab-kitab.” (Sabda Suci I: 6)<br />
-    “Hati-hatilah saat orang tua meninggal dunia dan janganlah lupa memperingati sekalipun telah jauh. Dengan demikian akan tebal Kebajikan.” (Sabda Suci I: 9)<br />
-    “Laku Bakti ada tiga tingkat: Yang terbesar, memuliakan orang tua; kedua, tidak memalukan orang tua; dan paling bawah, hanya dapat memberi perawatan.” (Li Ji)<br />
-    “Seorang anak berbakti dalam mengabdi orang tua, demikian: Di dalam rumah ada rasa hormat, dalam merawat sungguh-sungguh berusaha dapat membahagiakan, pada saat orang tua menderita sakit ada keprihatinan, pada saat orang tua meninggal benar-benar ada rasa duka, dan dalam menyembahyanginya benar-benar ada rasa sujud.” (Kitab Bakti X)<br />
-    “Mendidik rakyat untuk saling mengasihi tiada yang lebih baik daripada Laku Bakti. Mendidik rakyat menetapi kesusilaan tiada yang lebih baik dari laku Rendah Hati.” (Kitab Bakti XII)<br />
-    Usia ayah-bunda tidak boleh tidak diketahui, di satu pihak boleh merasa gembira, di lain pihak harus merasa khawatir.” (Sabda Suci IV: 2)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2&amp;p=142</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tripusaka : Bijaksana, Cinta Kasih, Berani / Zhi, Ren, Yong, 知，仁，勇</title>
		<link>http://www.gentanusantara.com/?p=138</link>
		<comments>http://www.gentanusantara.com/?p=138#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 02:47:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Moral & Etika]]></category>

		<category><![CDATA[cinta kasih]]></category>

		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<category><![CDATA[keberanian]]></category>

		<category><![CDATA[kebijaksanaan]]></category>

		<category><![CDATA[moral]]></category>

		<category><![CDATA[tripusaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gentanusantara.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[TRIPUSAKA adalah bekal paling ampuh dalam menghadapi penghidupan dengan segala persoalannya. Dengan Cinta Kasih, manusia mendapatkan landasan dan sandaran bagi motif perbuatannya, bahwa segala langkah dan perbuatan tidak boleh meninggalkan kemanusiaannya, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi; dengan Kebijaksanaan, manusia mampu menangani dan memecahkan segala persoalan secara tepat dan harmonis; dan dengan Keberanian, manusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TRIPUSAKA adalah bekal paling ampuh dalam menghadapi penghidupan dengan segala persoalannya. Dengan Cinta Kasih, manusia mendapatkan landasan dan sandaran bagi motif perbuatannya, bahwa segala langkah dan perbuatan tidak boleh meninggalkan kemanusiaannya, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi; dengan Kebijaksanaan, manusia mampu menangani dan memecahkan segala persoalan secara tepat dan harmonis; dan dengan Keberanian, manusia mendapat semangat dan ketahanan dalam menghadapi tantangan maupun dalam meraih cita. TRIPUSAKA itu wajib menjadi tritunggal dalam diri kita.</p>
<p>Marilah kita ikuti ayat-ayat suci di bawah ini:<br />
-    “Adapun Jalan Suci yang harus ditempuh di dunia ini mempunyai Lima Perkara dan Tiga Pusaka di dalam menjalankannya, yakni: hubungan raja dengan menteri, ayah dengan anak, suami dengan isteri, kakak dengan adik dan kawan dengan sahabat. Lima Perkara inilah Jalan Suci yang harus ditempuh di dunia. Kebijaksanaan, Cinta Kasih dan Berani; Tiga Pusaka inilah Kebajikan yang harus ditempuh. Maka yang hendak menjalani harus satu tekadnya.” (Tengah Sempurna XIX: <img src='http://www.gentanusantara.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /><br />
-    “Suka belajar itu mendekatkan kita kepada Kebijaksanaan. Dengan sekuat tenaga melaksanakan tugas mendekatkan kita kepada Cinta Kasih dan rasa Tahu Malu mendekatkan kita kepada Berani.” (Tengah Sempurna XIX: 10)<br />
-    “Yang Bijaksana tidak dilamun bimbang. Yang berperi Cinta Kasih tidak merasakan sudah-payah. Dan yang Berani tidak dirundung ketakutan.” (Sabda Suci IX: 29)<br />
-    “Sifat keras kemauan, tahan uji, sederhana dan tidak mudah mengucapkan kata-kata, itu dekat dengan peri Cinta Kasih.” (Sabda Suci XIII: 27)<br />
-    “Seorang panglima yang mengepalai tiga pasukan masih dapat ditawan. Tetapi cita seorang rakyat jelata tidak dapat dirampas.” (Sabda Suci IX: 26)<br />
-    “Seorang yang bercita menjadi siswa dalam Cinta Kasih, tidak inginkan hidup bila itu membahayakan Cinta Kasih. Bahkan ada yang mengorbankan dirinya untuk menyempurnakan Cinta Kasih.” (Sabda Suci XV: 9)<br />
-    “Seorang Junzi sekalipun sesaat makan tidak melanggar Cinta Kasih, di dalam kesibukan juga demikian, bahkan di dalam topan dan bahayapun ia tetap demikian.” (S.S. IV: 5)<br />
-    “Bila cita selalu ditujukan kepada Cinta Kasih, tiada sarang bagi kejahatan.” (S.S. IV: 4)<br />
-    “Jauh peri Cinta Kasih? Kalau aku inginkan Cinta Kasih, Cinta Kasih itu sudah besertaku.” (S.S. VII: 30)<br />
-    “Di dalam menempuh Cinta Kasih, jangan kalah meski dengan guru.” (Sabda Suci XV: 36)<br />
-    “Yang Bijaksana gemar akan air, yang berperi Cinta Kasih gemar akan gunung. Yang Bijaksana tangkas dalam perbuatan, yang berperi Cinta Kasih tenteram. Yang Bijaksana gembira, yang berperi Cinta Kasih tahan menderita.” (S.S. VI: 23)<br />
-    “Seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, tidak tahan lama di dalam penderitaan dan tidak tahan lama di dalam kesenangan. Seorang yang berperi Cinta Kasih merasakan sentosa di dalam Cinta Kasih dan seorang yang Bijaksana merasa beruntung di dalam Cinta Kasih.” (Sabda Suci IV: 2)<br />
-    “Hanya seorang yang penuh Cinta Kasih saja dapat mencintai dan membenci orang.” (Sabda Suci IV: 3)<br />
-    “Zai-wo 宰 我 bertanya, “Seorang yang berperi Cinta Kasih kalau diberi tahu bahwa di dalam sumur ada Cinta Kasih, apakah ia akan mengikutinya juga?” Nabi bersabda, “Mengapa harus melakukan perbuatan semacam itu? Seorang Junzi dapat dibunuh, tetapi tidak dapat dijerumuskan; dapat dikelabui, tetapi tidak dapat dijebak.” (Sabda Suci VI: 26)<br />
-    Ran-qiu 冉 求 / Jiam-kiu berkata, “Sesungguhnya bukan karena tidak suka akan Jalan Suci Guru, hanya tenaga tidak mencukupi.” Nabi bersabda, “Kalau tenaga tidak mencukupi, orang akan berhenti di tengah jalan. Mengapa engkau membatasi diri sendiri?” (Sabda Suci VI: 12)<br />
-    “Seorang siswa tidak boleh tidak berhati luas dan berkemauan keras, karena beratlah bebannya dan jauhlah perjalanannya. Cinta Kasih itulah bebannya, bukankah berat? Sampai mati baharulah berakhir, bukankah jauh?” (Sabda Suci VIII: 7)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2&amp;p=138</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Satya Dan Tepasarira / Zhong Shu, 忠 恕</title>
		<link>http://www.gentanusantara.com/?p=125</link>
		<comments>http://www.gentanusantara.com/?p=125#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 02:11:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Moral & Etika]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<category><![CDATA[konfuciani]]></category>

		<category><![CDATA[Kongzi]]></category>

		<category><![CDATA[moral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gentanusantara.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Ajaran Satya dan Tepasarira ini disebut Nabi Kongzi sebagai &#8216;Jalan Suci Yang Satu Yang Menembusi Semuanya&#8217;, karena ajaran ini vertikal menjalinkan manusia kepada Tuhan, Khaliknya dan horizontal menjalinkan manusia kepada sesama dan lingkungan hidupnya. Dalam hal ini kita wajib mengerti mana yang pokok dan mana yang ujung, mana yang wajib didahulukan dan mana yang wajib [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ajaran Satya dan Tepasarira ini disebut <em>Nabi Kongzi</em> sebagai &#8216;Jalan Suci Yang Satu Yang Menembusi Semuanya&#8217;, karena ajaran ini vertikal menjalinkan manusia kepada Tuhan, Khaliknya dan horizontal menjalinkan manusia kepada sesama dan lingkungan hidupnya. Dalam hal ini kita wajib mengerti mana yang pokok dan mana yang ujung, mana yang wajib didahulukan dan mana yang wajib dikemudiankan. Tersurat di dalam Tengah Sempurna Utama: 3, &#8220;Tiap benda itu mempunyai pangkal dan ujung dan tiap perkara itu mempunyai awal dan akhir. Orang yang mengetahui mana hal yang dahulu dan mana hal yang kemudian, ia sudah dekat dengan Jalan Suci.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk berlaku Satya terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan melaksanakan FirmanNya, menggemilangkan Kebajikan, marilah sekali lagi kita ikuti ayat yang tersurat dalam <em>Mengzi </em>VI A: 16, &#8220;Ada kemuliaan karunia Tuhan dan ada kemuliaan pemberian manusia; Cinta Kasih, Kebenaran, Satya, Dapat Dipercaya dan gemar akan Kebajikan dengan tidak merasa jemu, itulah kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Kedudukan rajamuda, menteri dan pembesar itulah kemuliaan pemberian menusia. Orang jaman dahulu membina kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa dan kemudian mendapatkan kemuliaan pemberian manusia. Orang jaman sekarang membina kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan kemuliaan pemberian manusia. Setelah mendapat kemuliaan pemberian manusia, lalu dibuanglah kemuliaan karunia Tuhan itu. Sungguh tersesatlah jalan pikirannya, karena akhirnya akan kehilangan semuanya.&#8221; &#8220;Yang di dalam Watak Sejati seorang <em>Junzi</em> ialah yang tidak bertambah oleh kebesaran dan tidak rusak oleh kemiskinan; karena dialah takdir yang dikaruniakan Tuhan Yang Maha Esa. Yang di dalam Watak Sejati ialah Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan.&#8221; (<em>Mengzi</em> VII A: 21) &#8220;Menjaga Hati, merawat Watak Sejati, demikianlah mengabdi kepada Tuhan. Tentang usia pendek, atau panjang, jangan bimbangkan. Siaplah dengan membina diri. Demikianlah menegakkan Firman.&#8221; (<em>Mengzi</em> VII A: 1)</p>
<p style="text-align: justify;">Tentang ajaran mencintai dan tenggang rasa, tepasarira terhadap sesama, marilah kita renungi dan hayati ayat-ayat di bawah ini:</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Orang harus mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan, baharulah kemudiaan tahu apa yang harus dilakukan.&#8221; (Mengzi IV B: <img src='http://www.gentanusantara.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Mengendalikan diri dan pulang kepada Kesusilaan, itulah Cinta Kasih &#8230;&#8230;. Yang tidak Susila jangan dilihat, yang tidak susila jangan didengar, yang tidak susila jangan diucapkan, dan yang tidak susila jangan dilakukan.&#8221; (S.S. XII: 1)</p>
<p style="text-align: justify;">-         <em>Zi Gong </em>子 贡 bertanya, &#8220;Adakah satu kata yang boleh menjadi pedoman sepanjang hidup?&#8221; Nabi bersabda, &#8220;Itulah Tepasarira! Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain.&#8221; (Sabda Suci XV: 24 )</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Was-was dan hati-hatilah, apa yang keluar dari kamu akan kembali kepadamu.&#8221; (<em>Mengzi</em> IB: 12)</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Maka kata-kata yang tidak senonoh itu akan kembali kepada yang mengucapkan, begitu pula kekayaan yang diperoleh dengan tidak halal itu akan habis dengan tidak keruan.&#8221; (Ajaran Besar X: 10)</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Jalan Suci seorang <em>Junzi</em> ada empat yang khawatir belum satu kulakukan. Apa yang kuharapkan dari anakku, belum dapat kulakukan terhadap orang tuaku; apa yang kuharapkan dari menteriku, belum dapat kulakukan terhadap rajaku; apa yang kuharapkan dari adikku, belum dapat kulakukan terhadap kakakku; dan apa yang kuharapkan dari temanku belum dapat kuberikan lebih dahulu.&#8221; (Tengah Sempurna XII: 4)</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Seorang <em>Junzi</em> mempunyai Jalan Suci yang bersifat siku: Apa yang tidak baik dari atas tidak dilanjutkan ke bawah; apa yang tidak baik dari bawah tidak dilanjutkan ke atas; apa yang tidak baik dari muka tidak dilanjutkan ke belakang; apa yang tidak baik dari belakang tidak dilanjutkan ke muka; apa yang tidak baik dari kanan tidak dilanjutkan ke kiri; dan apa yang tidak baik dari kiri tidak dilanjutkan ke kanan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Berlaksa benda tersedia lengkap di dalam diri. Kalau memeriksa diri ternyata penuh Iman, sesungguhya tiada kebahagiaan yang lebih besar dari ini. Sekuat diri laksanakanlah Tepasarira, untuk mendapatkan Cinta Kasih tiada yang lebih dekat dari ini.&#8221; (<em>Mengzi </em>VIIA: 4)</p>
<p style="text-align: justify;">-         &#8220;Seorang yang berperi Cinta Kasih itu ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang lainpun tegak; ia ingin maju, maka berusaha agar orang lainpun maju.&#8221; (S.S. VI: 30)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gentanusantara.com/?feed=rss2&amp;p=125</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
