Kebudayan dan Kesenian

Ditulis oleh: Ws. Dr. Oesman Arif (Liem Liang Gie)
Kebudayaan Tionghoa diakui oleh masyarakat dunia sebagai kebudayaan
yang sudah tua dan memiliki banyak produk budaya yang bermanfaat bagi umat
manusia. Misalnya ilmu filsafat, ilmu Feng Shui, ilmu pengobatan, ilmu
perdagangan, kesusastraan dan kesenian yang sangat bervariasi, dan juga ilmu
strategi perang dari Sun Zi yang sangat terkenal. Namun sayangnya, orang
Tionghoa di Indonesia oleh sebagian orang Indonesia hanya dikenal sebagai
kelompok yang pandai mencari uang dan mengumpulkan harta. Kenyataan ini
memberi tantangan kepada organisasi masyarakat keturunan Tionghoa untuk
menjawabnya dengan menunjukkan kemampuan lain yang lebih bermanfaat
kepada bangsa Indonesia.
Menurut seorang peneliti Sastra Melayu Tionghoa, pada abad 19 dan awal
abad 20, banyak penulis Sastra Melayu dari keturuna Tionghoa di Nusantara.
Sayangnya, semua karya satra itu, yang jumlahnya 3005 (tiga tiru lima) judul,
tidak diakui sebagai karya sastra Indoneisa yang baik oleh pemerintah kolonial
Belanda karena isinya mengkritik kebusukan kolonial Belanda. Jumlah 3005
judul karya sastra itu terbilang banyak karena karya sastra yang dikumpulkan
oleh Balai Pustaka hanya 700 (tujuh ratus) judul. Penjelasan di atas
membuktikan bahwa keturuna Tionghoa di Indonesia tidak hanya mencari uang
dan mengumpulkan harta, tetapi telah ikut berjuang menentang penindasan yang
dialami oleh rakyat Indonesia oleh kolonial Belanda. Saya percaya bahwa
masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia zaman sekarang juga dapat
memperlihatkan kemampuannya dalam bidang intelektual dan kesenian yang
dapat memberi manfaat kepada bangsa Indonesia.

Pada zaman Orde Baru masyarakat Indonesia telah terjebak pada
Paradigma Kebudayaan Instrumentalis. Manusia telah menjadi mesen mencari
uang. Setelah mendapat uang mereka membeli barang untuk kenyamanan
hidupnya dan sisanya untuk bersenang-senang. Banyak orang Indonesia tidak
menyadari jebakan Paradigma Budaya Intrumentalis itu yang di telah
dihembuskan oleh negara Kapitalis Liberal ke seluruh dunia. Bangsa Indonesia
haeus kembali pada Paradigma Budayanya sendiri, yaitu Paradigma Estetis
yang menjadikan keharmonisan hidup sebagai targetnya. Keharmonisan adalah
syarat adanya keindahan rohani atau rasa.
Paradigma Estetis ini telah menjadi Paradigma Budaya bangsa Asia Timus
dan Asia Tenggara. Di Jepang orang merawat Bunsai bisa sampai 400 tahun
masih hidup. Bonsai itu dirawat oleh generasi ke generasi tanpa terputus. Pada
masyarakat dengan Paradigma Budaya Instrumentalis akan bertanya: “Untuk
apa Bonsai dirawat sampai ratusan tahun?” Namun bagi orang Jepang yang
Paradigma budayanya Estetis, Bonsai itu mempunyai arti yang sangat dalam
karena itu salah satu wujud berbakti kepada leluhur mereka. Di dalam
masyarakat Jawa ada kebiasaan merawat benda-benda peninggalan leluhur,
misalnya keris atau barang pusaka lainnya, tetapi sekarang sudah banyak
menjadi barang dagangan. Masyarakat Indonesia harus kembali pada
Paradigma Budaya Estetis agar tidak terjebak menjadi mesin pencari uang.
Apabila masyarakat telah menjadi alat mencari uang akibat lebih jauh menjadi
masyarakat hedonistis, yaitu masyarakat yang hanya berfoya-foya setiap hari.
Pagi mencari uang malam bersenang-senang, kehidupan seperti itu menjauhkan
manusia dari sifat kemanusiaannya.
Umat agama Khonghucu di Indonesia, termasuk di Surakarta, telah
berhimpun selama lebih dari seratus tahun untuk membuktikan bahwa
masyarakat Tionghoa juga memiliki agama Khonghucu dan memiliki Nabi
Khongcu yang ajaranNya dapat membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi
umat manusia. Dalam perjuangan umat Khonghucu menjalankan ajaran
agamanya tidak sedikit rintangan yang menghadang, namun juga tidak sedikit
teman-teman dari agama lain yang membela dan membantu perjuangan itu.

Umat agama Khonghucu amat berterima kasih kepada teman-teman dari Agama
Islam, dari Agama Hindu, dari Agama Khatolik, dari Agama Kristen, dan dari
Agama Buddha yang telah mendukung perjuangannya untuk diakui
keberadaannya di Indonesia, dan sejak Februari 2006 Agama Khonghucu telah
resmi dikembalikan kedudukannya seperti lima agama yang lain.
Tahun Baru Imlik yaitu tanggal satu bulan satu penanggalan Imlik adalah
tahun baru agama Khonghucu. Pada hari itu umat agama Khonghucu melakukan
upacara keagamaan selama lima belas hari sampai tanggal 15. Tahun baru
Ilmlik harus dibedakan dengan perayaan menyambut musim semi yang tepat
pada tanggal empat Februari penanggalan Yanglik. Perlu kita ketahui bahwa di
Indonesia tidak ada hari libur kebudayaan, yang ada adalah hari besar agama.
Agama Khonghucu sebagai agama yang diakui reami keberadaannya di
Indonesia mempunyai hari besar agama yaitu tanggal satu bulan satu
penanggalan Imlik. Tehun baru Imlik itu juga menjadi hari upacara agama bagi
umat agama Tao dan umat agama Buddha Mahayana dari Tiongkok selain
menjadi hari upacara besar bagi umat agama Khonghucu di seluruh dunia.
Pada zaman Modern ini masih banyak orang tidak dapat membedakan
antara agama Khonghucu dan Filsafat Konfusianisme. Agama Khonghucu
adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Khongcu yang hidup pada tahun 551-
479 SM. Kemudian pada tahun 326-233 SM hidup seorang sarjana yang
mempelajari ajaran Nabi Khongcu di luar perguruan yang didirikan oleh penerus
agama Khonghucu. Orang ini bernama Xun Zi (荀子). Xun Zi seklaoh di negeri Qi
( 齐 ) sejak umur 15 tahun, dan mendapat pelajaran berbagai aliran filsafat
yang ada pada waktu itu. Setelah dewasa Xun Zi memisahkan ajaran agama
Khonghucu dari filsafat Konfusianisme. Ajaran Agama Khonghucu disebutnya
Xiao Ru ( 小儒 ) atau mikro Konfusianisme karena membicarakan hubungan
pribadi manusia dengan Tuhan dan dengan keluarga. Filsafat Konfusianisme
disebutnya Da Ru ( 大儒 ) atau Makro Konfusianisme karena membahas
masalah yang lebih luas yaitu hubungan manusia sebagai anggota masyarakat
dengan negara. Pada zaman dinasti Han muncul dua aliran yaitu Xin Wen Jia
( 新文家 ) atau aliran teks baru yang mengajarkan agama Khonghucu dan Gu Wen Jia ( 古文家 ) atau aliran teks lama yang dipengaruhi oleh ajaran Xun Zi.
Pada zaman selanjutnya agama Khonghucu dan Filsafat Khonghucu keduanya
hidup berdampingan. Namun, kadang-kadang ada orang-orang yang radikal
yang bisa muncul dari dua pihak yang mempermasalahkan ajaran Khonghucu
itu agama atau filsafat. Pada zaman Modern ini pada ahli Khonghucu baik dari
kelompok Xiao Ru atau dari kelompok Da Ru tidak mempermasalahkan lagi
karena keduanya secara faktual memang ada dan saling melengkapi.
Sebagai penutup sambutan ini saya sekali lagi mengucapkan selamat,
semoga Hua Gong Xue You Hui semakin besar sumbangannya kepada bangsa
Indonesia, dan bangkit kembali dengan mendirikan lembaga kesenian atau
kebudayaan yang dapat menjadi wadah pembinaan generasi muda Indonesia.

Solo, 10 Oktober 2007

2,142 Total Views

Posts created 68

One thought on “Kebudayan dan Kesenian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

captcha

Please enter the CAPTCHA text

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top