Memperbaiki Kesalahan Gai Guo / 改 过

Di dalam hidup, manusia tidak mungkin tanpa berbuat kesalahan, besar maupun kecil, sengaja maupun tidak sengaja karena hidup manusia senantiasa melalui proses belajar. Orang tidak mungkin tidak pernah berbuat salah, tetapi yang penting, mampu dan maukah kita memperbaiki kesalahan; dengan demikian dapat dihindarkan kesalahan itu berubah menjadi dosa, yang merusak jalinan hubungan baik manusia terhadap Tuhan, Khaliknya, terhadap sesamanya maupun terhadap lingkungannya. Continue reading

Tengah Tepat Dan Lurus Zhong Zheng / 中 正

“Bila dapat terselenggara Tengah dan Harmonis, maka kesejahteraan akan meliputi langit dan bumi, segenap makhluk dan benda akan terpelihara.” (Tengah Sempurna Utama: 5) Tetapi suatu kenyataan tepat seperti disabdakan di dalam Shu Jing, “Hati manusia senantiasa dalam rawan, agar hati di dalam Jalan Suci, itu muskil. Maka senantiasalah pada yang Esa, pada yang sari pati; pegang teguh Tepat Tengah.” Memang hati manusia mudah menyeleweng, ingkar dari Jalan Suci, berbuat kurang atau keterlaluan, tidak mencapai atau melampaui; sungguh tidak mudah membina sikap hidup Tengah Sempurna. Berlaku Tengah itu juga bukan Tengah asal Tengah, tetapi yang benar-benar tepat. Continue reading

Sederhana Dan Suka Mengalah / Qian Rang, 谦 让

“Orang yang berperi Cinta Kasih itu mencintai sesama manusia. Yang ber Kesusilaan itu menghormati sesama manusia. Yang mencintai sesama manusia, niscaya akan selalu dicintai orang. Yang menghormati sesama manusia, niscaya akan selalu dihormati orang.” (Mengzi IV B: 28) Manusia dikodratkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk yang bermasyarakat; dalam pergaulan kemasyarakatan selalu ada perilaku yang saling timbal balik. Agar perilaku kita berkenan kepada orang lain, hidup sederhana dan suka mengalah sangat diperlukan. Di dalam Yi Jing 易 经 tersurat, “Jalan Suci Tuhan Yang Maha Esa mengurangi yang berkelebihan dan memberkati yang sederhana; Jalan Suci bumi merubah yang berkelebihan dan mengalirkan kepada yang dibawah-bawah; Tuhan Yang Maha Rokh menghukum yang sombong dan membahagiakan yang rendah hati; Jalan Suci manusia membenci kesombongan dan menyukai kesederhanaan; Kesederhanaan/adab sopan itu mulia bergemilang, tidak dapat dilampaui/dirusak perbuatan durjana, demikianlah paripurnanya seorang Susilawan. Continue reading

Hormat Dan Sungguh-Sungguh / Gong Jing, 躬 敬

Di dalam kehidupan orang perlu ada rasa dan perilaku hormat dalam pergaulan maupun hormat terhadap tugas kewajiban. Kalau ingin hak-hak asasi kita dihormati dan dijunjung, kita harus menghormati dan menjunjung hak-hak asasi orang lain. Jalan Suci daripada perilaku hormat dan sungguh-sungguh ini adalah perwujudan daripada Jalan Suci Peri Cinta Kasih dan Tepasarira. Ketika Zhong Gong 仲 弓 bertanya tentang Cinta Kasih, Nabi bersabda, “Ke luar rumah hendaklah bersikap sebagai menjumpai tamu agung, mengabdikan diri kepada rakyat bersikap sebagai melakukan sembahyang besar. Apa yang diri sendiri tidak inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain. Dengan demikian di dalam negeri tidak disesali, di dalam keluargapun tidak disesali.” (Sabda Suci XII: 2) Continue reading

Suci Hati Dan Tahu Malu / Lian Chi, 廉 耻

Dengan tanpa memperhatikan Kesusilaan dan Kebenaran mengejar kekayaan dan kemuliaan, itu pasti karena kurangnya Kesucian Hati dan merosotnya rasa Tahu Malu, perasaan harga diri. Ini adalah menodakan dan merusakkan kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi Watak Sejati manusia. Maka Nabi bersabda, “Seorang Junzi bila tidak menghargai diri, niscaya tidak berwibawa; belajarpun tidak teguh. Maka utamakanlah Satya dan Dapat Dipercaya. Janganlah berkawan dengan orang yang tidak memiliki semangat seperti dirimu. Bila bersalah jangan takut memperbaiki.” (Sabda Suci I: 8 ) Di dalam Ajaran Besar X: 14 tersurat, “Kami ingin mendapatkan seorang menteri yang jujur dan tidak bermuslihat. Yakni, yang sabar hati dan dapat menerima segala yang berfaedah; bila ada orang pandai, dia merasa itu sebagai kepandaiannya sendiri; lebih-lebih pula bila dia mendapati seorang yang berbudi sebagai nabi (suci), ia sangat menyukainya; ia tidak memuji dengan kata-kata saja tetapi dapat pula menerimanya. Continue reading

Kesusilaan Dan Kebenaran / Li Yi, 礼 义

Perilaku yang didukung oleh jiwa yang berperi Cinta Kasih dan dilaksanakan dengan Bijaksana akan melahirkan perbuatan yang bernilai Kebenaran, yang menegakkan Keadilan, memenuhi Kewajiban; bila perilaku itu didorong dan dikendalikan oleh perasaan keindahan, itulah laku Susila yang terbabar di dalam berbagai tata sopan santun dan tata upacara dan peribadahan. Nabi bersabda, “Seorang Susilawan memegang Kebenaran sebagai pokok pendiriannya, Kesusilaan sebagai pedoman perbuatannya, mengalah dalam pergaulan dan menyempurnakan diri dengan Laku Dapat Dipercaya. Demikianlah Susilawan.” (Sabda Suci XV: 18) “Seorang Susilawan terhadap persoalan dunia tidak mengiakan atau menolak mentah-mentah. Hanya Kebenaranlah yang dijadikan ukuran.” (Sabda Suci IV: 10) Continue reading

Satya Dan Dapat Dipercaya / Zhong Xin, 忠 信

Jalan Suci Kebajikan di dalam melaksanakan Cinta Kasih dan Tepasarira, dimulai dengan Bakti dan Rendah Hati, sedang Satya dan Dapat Dipercaya adalah menjadi pokok utama. Nabi Kongzi selalu bersabda, “Utamakanlah Satya dan Dapat Dipercaya.” Satya ialah yang menjadikan manusia menggemilangkan Kebajikan, sedangkan Dapat Dipercaya ialah kemampuan untuk disandari dalam mengamalkan Kebajikan itu. Sungguh menyedihkan bila manusia sampai kehilangan dua perkara itu. Satya itu menyatakan ketulusan iman dalam menghormat/menjunjung Kebajikan sedang Dapat Dipercaya itu menyatakan kesungguhan dalam mengamalkan Kebajikan. Ketika Zi-zhang 子 张 bertanya bagaimana ia wajib berprilaku, Nabi bersabda, “Perkataanmu hendaklah kau pegang dengan Satya dan Dapat Dipercaya, perbuatanmu hendaklah kau perhatikan sungguh-sungguh ……… Kalau engkau sedang berdiri, hendaklah hal ini kaubayangkan seolah-olah di mukamu, kalau sedang naik kereta, bayangkan seolah-olah hal ini tampak di atas gandaran keretamu. Dengan demikian tingkah lakumu dapat diterima.” (Sabda Suci XV: 6)

Selanjutnya marilah kita ikuti ayat-ayat di bawah ini:
-    “Hidup manusia difitrahkan lurus. Kalau tidak lurus tetapi terpelihara juga kehidupannya, itu hanya kebetulan.” (Sabda Suci VI: 19)
-    “Seorang yang tidak dapat dipercaya, entah apa yang dapat dilakukan? Itu seumpama kereta besar yang tidak mempunyai sepasang gandaran atau seumpama kereta kecil yang tidak mempunyai sebuah gandaran, entah bagaimana menjalankannya.” (Sabda Suci II: 22)
-    “Seorang Junzi setelah memperoleh kepercayaan rakyat baru berani menyuruh mereka bekerja keras. Bila belum mendapat kepercayaan, niscaya akan dianggap menindas. Harus mendapat kepercayaan lebih dahulu sebelum memberi peringatan kepada atasannya. Bila belum mendapat kepercayaan, niscaya disangka hanya pandai menyalahkan.” (S.S. XIX: 10)
-    “Seorang yang hanya pandai memutar kata-kata dan bermanis muka, sesungguhnya jarang berperi Cinta Kasih.” (Sabda Suci XVII: 17)

Bakti Dan Rendah Hati / Xiao Ti, 孝 悌

Perilaku bakti dan rendah hati menyangkut hubungan yang paling mula dan paling dekat dalam kehidupan tiap manusia; menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mengabdi, menghormati dan mencintai ayah-bunda dan menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mencintai saudara-saudara. Karena jalinan hubungan ini paling dekat dan paling mula, maka dalam moral Konfuciani ke dua masalah ini dijadikan dasar dan landasan untuk pembinaan diri dalam jangkauan yang lebih luas dan lebih kompleks. Mengzi bersabda, “Mencintai orang tua itulah Cinta Kasih, dan hormat kepada yang lebih tua itulah Kebenaran.” (VII A:15) Continue reading

Tripusaka : Bijaksana, Cinta Kasih, Berani / Zhi, Ren, Yong, 知,仁,勇

TRIPUSAKA adalah bekal paling ampuh dalam menghadapi penghidupan dengan segala persoalannya. Dengan Cinta Kasih, manusia mendapatkan landasan dan sandaran bagi motif perbuatannya, bahwa segala langkah dan perbuatan tidak boleh meninggalkan kemanusiaannya, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi; dengan Kebijaksanaan, manusia mampu menangani dan memecahkan segala persoalan secara tepat dan harmonis; dan dengan Keberanian, manusia mendapat semangat dan ketahanan dalam menghadapi tantangan maupun dalam meraih cita. TRIPUSAKA itu wajib menjadi tritunggal dalam diri kita.

Marilah kita ikuti ayat-ayat suci di bawah ini:
-    “Adapun Jalan Suci yang harus ditempuh di dunia ini mempunyai Lima Perkara dan Tiga Pusaka di dalam menjalankannya, yakni: hubungan raja dengan menteri, ayah dengan anak, suami dengan isteri, kakak dengan adik dan kawan dengan sahabat. Lima Perkara inilah Jalan Suci yang harus ditempuh di dunia. Kebijaksanaan, Cinta Kasih dan Berani; Tiga Pusaka inilah Kebajikan yang harus ditempuh. Maka yang hendak menjalani harus satu tekadnya.” (Tengah Sempurna XIX: 8)
-    “Suka belajar itu mendekatkan kita kepada Kebijaksanaan. Dengan sekuat tenaga melaksanakan tugas mendekatkan kita kepada Cinta Kasih dan rasa Tahu Malu mendekatkan kita kepada Berani.” (Tengah Sempurna XIX: 10)
-    “Yang Bijaksana tidak dilamun bimbang. Yang berperi Cinta Kasih tidak merasakan sudah-payah. Dan yang Berani tidak dirundung ketakutan.” (Sabda Suci IX: 29)
-    “Sifat keras kemauan, tahan uji, sederhana dan tidak mudah mengucapkan kata-kata, itu dekat dengan peri Cinta Kasih.” (Sabda Suci XIII: 27)
-    “Seorang panglima yang mengepalai tiga pasukan masih dapat ditawan. Tetapi cita seorang rakyat jelata tidak dapat dirampas.” (Sabda Suci IX: 26)
-    “Seorang yang bercita menjadi siswa dalam Cinta Kasih, tidak inginkan hidup bila itu membahayakan Cinta Kasih. Bahkan ada yang mengorbankan dirinya untuk menyempurnakan Cinta Kasih.” (Sabda Suci XV: 9)
-    “Seorang Junzi sekalipun sesaat makan tidak melanggar Cinta Kasih, di dalam kesibukan juga demikian, bahkan di dalam topan dan bahayapun ia tetap demikian.” (S.S. IV: 5)
-    “Bila cita selalu ditujukan kepada Cinta Kasih, tiada sarang bagi kejahatan.” (S.S. IV: 4)
-    “Jauh peri Cinta Kasih? Kalau aku inginkan Cinta Kasih, Cinta Kasih itu sudah besertaku.” (S.S. VII: 30)
-    “Di dalam menempuh Cinta Kasih, jangan kalah meski dengan guru.” (Sabda Suci XV: 36)
-    “Yang Bijaksana gemar akan air, yang berperi Cinta Kasih gemar akan gunung. Yang Bijaksana tangkas dalam perbuatan, yang berperi Cinta Kasih tenteram. Yang Bijaksana gembira, yang berperi Cinta Kasih tahan menderita.” (S.S. VI: 23)
-    “Seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, tidak tahan lama di dalam penderitaan dan tidak tahan lama di dalam kesenangan. Seorang yang berperi Cinta Kasih merasakan sentosa di dalam Cinta Kasih dan seorang yang Bijaksana merasa beruntung di dalam Cinta Kasih.” (Sabda Suci IV: 2)
-    “Hanya seorang yang penuh Cinta Kasih saja dapat mencintai dan membenci orang.” (Sabda Suci IV: 3)
-    “Zai-wo 宰 我 bertanya, “Seorang yang berperi Cinta Kasih kalau diberi tahu bahwa di dalam sumur ada Cinta Kasih, apakah ia akan mengikutinya juga?” Nabi bersabda, “Mengapa harus melakukan perbuatan semacam itu? Seorang Junzi dapat dibunuh, tetapi tidak dapat dijerumuskan; dapat dikelabui, tetapi tidak dapat dijebak.” (Sabda Suci VI: 26)
-    Ran-qiu 冉 求 / Jiam-kiu berkata, “Sesungguhnya bukan karena tidak suka akan Jalan Suci Guru, hanya tenaga tidak mencukupi.” Nabi bersabda, “Kalau tenaga tidak mencukupi, orang akan berhenti di tengah jalan. Mengapa engkau membatasi diri sendiri?” (Sabda Suci VI: 12)
-    “Seorang siswa tidak boleh tidak berhati luas dan berkemauan keras, karena beratlah bebannya dan jauhlah perjalanannya. Cinta Kasih itulah bebannya, bukankah berat? Sampai mati baharulah berakhir, bukankah jauh?” (Sabda Suci VIII: 7)