Latihan Relaksasi

Oleh : Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd

relaksasi_khonghucuLatihan relaksasi adalah latihan mengendorkan otot dan saraf seluruh tubuh. Duduklah dengan kepala dan badan lurus, perhatikan bahwa badan Anda tidak bengkok dan kepala Anda tidak menunduk. Pejamkan mata dengan santai. Tarik nafas melalui kedua lubang hidung dengan pelan, nafas tidak bersuara, tetapi tarikan nafas panjang. Demikian pula saat membuang nafas juga melalui kedua lubang hidung, pelan dan tidak menimbulkan suara. Tugas telinga Anda saat berlatih adalah mengontrol suara nafas  dengan mendengarkan suara nafas. Kalau nafas Anda masih terdengar oleh telinga berarti nafas itu masih terlalu cepat. Continue reading

Sederhana Dan Suka Mengalah / Qian Rang, 谦 让

“Orang yang berperi Cinta Kasih itu mencintai sesama manusia. Yang ber Kesusilaan itu menghormati sesama manusia. Yang mencintai sesama manusia, niscaya akan selalu dicintai orang. Yang menghormati sesama manusia, niscaya akan selalu dihormati orang.” (Mengzi IV B: 28) Manusia dikodratkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk yang bermasyarakat; dalam pergaulan kemasyarakatan selalu ada perilaku yang saling timbal balik. Agar perilaku kita berkenan kepada orang lain, hidup sederhana dan suka mengalah sangat diperlukan. Di dalam Yi Jing 易 经 tersurat, “Jalan Suci Tuhan Yang Maha Esa mengurangi yang berkelebihan dan memberkati yang sederhana; Jalan Suci bumi merubah yang berkelebihan dan mengalirkan kepada yang dibawah-bawah; Tuhan Yang Maha Rokh menghukum yang sombong dan membahagiakan yang rendah hati; Jalan Suci manusia membenci kesombongan dan menyukai kesederhanaan; Kesederhanaan/adab sopan itu mulia bergemilang, tidak dapat dilampaui/dirusak perbuatan durjana, demikianlah paripurnanya seorang Susilawan. Continue reading

Tanya Jawab Tentang Agama Khonghucu

1. Bagaimana sifat Tuhan dalam ajaran agama Khonghucu yang tertulis dalam kitab Yi Jing?

Jawab:

Di dalam Kitab Yi Jing dikatakan bahwa Tuhan itu Maha Pencipta, Tuhan juga mengatur alam semesta ini agar semua makhluk tetap dapat hidup, Tuhan  juga memelihara alam semesta dan isinya, termasuk manusia. Dan Tuhan juga meluruskan yang bengkok, menghukum yang bersalah.

2. Apakah perbedaan agama Khonghucu dengan filsafat Konfusianisme?

Jawab:

Agama Khonghucu adalah ajaran agama yang diajarkan oleh para Raja Suci Purba, dan diteruskan oleh Nabi Khongcu diajarkan kepada rakyat jelata, agar semua rakyat mendapat pembinaan rohani dan menjalani hidup damai dan sejahtera. Continue reading

Confucius Movie, dibintangi Chow Yun Fat

Setelah sekian lama hampir 1 abad Eksistensi Filsafat dan Ajaran Agama Khonghucu mulai terasa di bangkitkan kembali di Tiongkok. Semenjak masa revolusi tahun-tahun 1900 an di tiongkok sampai bercokolnya komunis, merupakan jaman kesuraman popularitas ajaran Ru Jiao.

Dan kini di era yang lebih terang dan terbuka ini, telah hadir sebuah garapan cinema yang kolosal menceritakan kehidupan Confucius ( Kongzi). Diantara kritik, protes dan harapan di Film ini, marilah kita tunggu bersama sejauh mana film ini berhasil menggambarkan Keagungan Nabi Kongzi dan apakah sesuai dengan sejarah yang tertulis??

Continue reading

Bakti Dan Rendah Hati / Xiao Ti, 孝 悌

Perilaku bakti dan rendah hati menyangkut hubungan yang paling mula dan paling dekat dalam kehidupan tiap manusia; menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mengabdi, menghormati dan mencintai ayah-bunda dan menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mencintai saudara-saudara. Karena jalinan hubungan ini paling dekat dan paling mula, maka dalam moral Konfuciani ke dua masalah ini dijadikan dasar dan landasan untuk pembinaan diri dalam jangkauan yang lebih luas dan lebih kompleks. Mengzi bersabda, “Mencintai orang tua itulah Cinta Kasih, dan hormat kepada yang lebih tua itulah Kebenaran.” (VII A:15) Continue reading

Satya Dan Tepasarira / Zhong Shu, 忠 恕

Ajaran Satya dan Tepasarira ini disebut Nabi Kongzi sebagai ‘Jalan Suci Yang Satu Yang Menembusi Semuanya’, karena ajaran ini vertikal menjalinkan manusia kepada Tuhan, Khaliknya dan horizontal menjalinkan manusia kepada sesama dan lingkungan hidupnya. Dalam hal ini kita wajib mengerti mana yang pokok dan mana yang ujung, mana yang wajib didahulukan dan mana yang wajib dikemudiankan. Tersurat di dalam Tengah Sempurna Utama: 3, “Tiap benda itu mempunyai pangkal dan ujung dan tiap perkara itu mempunyai awal dan akhir. Orang yang mengetahui mana hal yang dahulu dan mana hal yang kemudian, ia sudah dekat dengan Jalan Suci.”

Untuk berlaku Satya terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan melaksanakan FirmanNya, menggemilangkan Kebajikan, marilah sekali lagi kita ikuti ayat yang tersurat dalam Mengzi VI A: 16, “Ada kemuliaan karunia Tuhan dan ada kemuliaan pemberian manusia; Cinta Kasih, Kebenaran, Satya, Dapat Dipercaya dan gemar akan Kebajikan dengan tidak merasa jemu, itulah kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Kedudukan rajamuda, menteri dan pembesar itulah kemuliaan pemberian menusia. Orang jaman dahulu membina kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa dan kemudian mendapatkan kemuliaan pemberian manusia. Orang jaman sekarang membina kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan kemuliaan pemberian manusia. Setelah mendapat kemuliaan pemberian manusia, lalu dibuanglah kemuliaan karunia Tuhan itu. Sungguh tersesatlah jalan pikirannya, karena akhirnya akan kehilangan semuanya.” “Yang di dalam Watak Sejati seorang Junzi ialah yang tidak bertambah oleh kebesaran dan tidak rusak oleh kemiskinan; karena dialah takdir yang dikaruniakan Tuhan Yang Maha Esa. Yang di dalam Watak Sejati ialah Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan.” (Mengzi VII A: 21) “Menjaga Hati, merawat Watak Sejati, demikianlah mengabdi kepada Tuhan. Tentang usia pendek, atau panjang, jangan bimbangkan. Siaplah dengan membina diri. Demikianlah menegakkan Firman.” (Mengzi VII A: 1)

Tentang ajaran mencintai dan tenggang rasa, tepasarira terhadap sesama, marilah kita renungi dan hayati ayat-ayat di bawah ini:

-         “Orang harus mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan, baharulah kemudiaan tahu apa yang harus dilakukan.” (Mengzi IV B: 8)

-         “Mengendalikan diri dan pulang kepada Kesusilaan, itulah Cinta Kasih ……. Yang tidak Susila jangan dilihat, yang tidak susila jangan didengar, yang tidak susila jangan diucapkan, dan yang tidak susila jangan dilakukan.” (S.S. XII: 1)

-         Zi Gong 子 贡 bertanya, “Adakah satu kata yang boleh menjadi pedoman sepanjang hidup?” Nabi bersabda, “Itulah Tepasarira! Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain.” (Sabda Suci XV: 24 )

“Was-was dan hati-hatilah, apa yang keluar dari kamu akan kembali kepadamu.” (Mengzi IB: 12)

-         “Maka kata-kata yang tidak senonoh itu akan kembali kepada yang mengucapkan, begitu pula kekayaan yang diperoleh dengan tidak halal itu akan habis dengan tidak keruan.” (Ajaran Besar X: 10)

-         “Jalan Suci seorang Junzi ada empat yang khawatir belum satu kulakukan. Apa yang kuharapkan dari anakku, belum dapat kulakukan terhadap orang tuaku; apa yang kuharapkan dari menteriku, belum dapat kulakukan terhadap rajaku; apa yang kuharapkan dari adikku, belum dapat kulakukan terhadap kakakku; dan apa yang kuharapkan dari temanku belum dapat kuberikan lebih dahulu.” (Tengah Sempurna XII: 4)

-         “Seorang Junzi mempunyai Jalan Suci yang bersifat siku: Apa yang tidak baik dari atas tidak dilanjutkan ke bawah; apa yang tidak baik dari bawah tidak dilanjutkan ke atas; apa yang tidak baik dari muka tidak dilanjutkan ke belakang; apa yang tidak baik dari belakang tidak dilanjutkan ke muka; apa yang tidak baik dari kanan tidak dilanjutkan ke kiri; dan apa yang tidak baik dari kiri tidak dilanjutkan ke kanan.”

-         “Berlaksa benda tersedia lengkap di dalam diri. Kalau memeriksa diri ternyata penuh Iman, sesungguhya tiada kebahagiaan yang lebih besar dari ini. Sekuat diri laksanakanlah Tepasarira, untuk mendapatkan Cinta Kasih tiada yang lebih dekat dari ini.” (Mengzi VIIA: 4)

-         “Seorang yang berperi Cinta Kasih itu ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang lainpun tegak; ia ingin maju, maka berusaha agar orang lainpun maju.” (S.S. VI: 30)

Ajaran Khong Hu Cu: Agama atau Pendidikan Moral?

Bab I  Pendidikan Tionghoa Indonesia dahulu dan sekarang

Kedatangan  orang  Tionghoa  secara  besar-besaran  ke   Hindia  dimulai  sejak awal abad  XIX. Mereka datang tidak membawa anak istri, setelah mereka menetap di Hindia menikah dengan perempuan pribumi. Keturunan mereka ini disebut Tionghoa Peranakan.  Tionghoa  Peranakan  ini  telah  menyerap  kebudayaan  Nusantara,  mereka menggunakan bahasa  daerah setempat  atau berbahasa Melayu.  Anak-anak Tionghoa peranakan ini tidak mendapat pendidikan layak karena kebanyakan orang tua mereka juga  tidak  mendapat  pendidikan  yang  layak.  Hanya  orang  Tionghoa  kaya  yang mampu memanggil guru privat untuk mengajar anak mereka.

Continue reading

Kerukunan Umat Beragama

Penulis : Ws Dr Oesman Arif, MPd ( Liem Liang Gie )

Judul : Kerukunan Umat Beragama

Kerukunan umat berbagai agama itu akan terwujud apabila semua umat beragama menyadari sebagai umat Tuhan yang Maha Esa. Menurut saya, alur pemikiran penulis bersifat linier dalam siklus sepuluhribu tahunan. Paradigma yang dipakai adalah paradigama dikhotomis, artinya keberadaan kutub positip dan berbeda dengan keberadaan kutub negatip. Saya ingin menanggapi dengan alur pemikiran yang siklus murni, dengan paradigma komplementer, artinya kutnb positip dan kutub negatip selalu berada dalam keatuan realitas. Isi dan bentuk selalu berada dalam setiap hal bersama-sama. Isi ajaran agama dan pelaksanaan ajaran agama sebagai isi dan bentuk tidak dapat dipisahkan. Permasalahan agama juga tidak terlepas dari unsur lain dalam masyarakat, seperti masalah politik, masalah ekonomi, masalah keamanan, dan masalah hukum.

Continue reading

Agama Khonghucu Indonesia

Penulis : Ws Dr Oesman Arif, MPd ( Liem Liang Gie )

Judul : AGAMA KHONGHUCU INDONESIA

Agama Khonghucu pertama kali diajarkan oleh Nabi Khongcu kepada rakyat Tiongkok pada abad VI sebelum Masehi, melalui sekolah yang didirikan oleh Nabi Khongcu sendiri. Setelah nabi Khongcu wafat (479 SM), di Tiongkok juga didirikan tempat ibadah agama Khonghucu yang disebut Wen Miao atau Kongzi Miao. Sesuai dengan ajaran agama Khonghucu yang tertulis dalam Kitab ajaran Besar (Da Xue) bab Utama, lembaga agama Khonghucu yang paling kecil adalah keluarga. Semua orang wajib membina keluarganya dengan baik sesuai ajaran agama Khonghucu. Lembaga agama Khonghucu yang lebih besar adalah negara, umat agama Khonghucu wajib menjadi warga negara yang baik, yang patuh kepada undang-undang serta memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Lembaga agama Khonghucu yang paling tinggi adalah dunia. Dalam Kitab Ajaran Besar tertulis: membina diri, membina rumah tangga, mengatur negara, dan menjaga perdamaian dunia.

Continue reading