Penelitian Historis Keberadaan Budaya Keagamaan Khonghucu Di Indonesia

Oleh : XS. Buanajaya B.S.

Abstrak
Penelitian ini ingin membuktikan di dalam awal sejarah kebudayaan Indonesia telah ada nilai kearifan religius Islam, Buddha, Hindu dan juga Ru (Khonghucu) bersamakearifan budaya Dongson, yang terbawa oleh nenekmoyang masyarakat Indonesia. Berdasar penemuan para akhli sejarah, nenekmoyang bangsa Indonesia secara geografis berasal dari Yunnan. Kearifan budaya dan nilai peradaban Yunnan kemudian telah dikenal sebagai Dongson. Tentu hal ini tak lepas dari tujuan sosiokultural persebaran akar bangsa Mongoloid dari Utara ekuator bermigrasi ke Selatan sejak 10000- 5000 tahun silam. Penduduk Yunnan termasuk ras Mongoloid. Begitu pula proto Melayu yang 20 abad maupun deutro Melayu 5 abad sebelum tarikh masehi mencapai kawasan Asia tenggara, yang membawa kearifan budaya Dongson ke kawasan Nusantara adalah juga dari akar bangsa atau ras yang sama. Daerah selatan merupakan tanah subur. Nenekmoyang bangsa di Asia (juga Melanesoid) pergi ke selatan membangun penghidupan yang lebih baik. Termasuk ke Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Tenggara. Continue reading

Tanya Jawab Tentang Agama Khonghucu

1. Bagaimana sifat Tuhan dalam ajaran agama Khonghucu yang tertulis dalam kitab Yi Jing?

Jawab:

Di dalam Kitab Yi Jing dikatakan bahwa Tuhan itu Maha Pencipta, Tuhan juga mengatur alam semesta ini agar semua makhluk tetap dapat hidup, Tuhan  juga memelihara alam semesta dan isinya, termasuk manusia. Dan Tuhan juga meluruskan yang bengkok, menghukum yang bersalah.

2. Apakah perbedaan agama Khonghucu dengan filsafat Konfusianisme?

Jawab:

Agama Khonghucu adalah ajaran agama yang diajarkan oleh para Raja Suci Purba, dan diteruskan oleh Nabi Khongcu diajarkan kepada rakyat jelata, agar semua rakyat mendapat pembinaan rohani dan menjalani hidup damai dan sejahtera. Continue reading

Confucius Movie, dibintangi Chow Yun Fat

Setelah sekian lama hampir 1 abad Eksistensi Filsafat dan Ajaran Agama Khonghucu mulai terasa di bangkitkan kembali di Tiongkok. Semenjak masa revolusi tahun-tahun 1900 an di tiongkok sampai bercokolnya komunis, merupakan jaman kesuraman popularitas ajaran Ru Jiao.

Dan kini di era yang lebih terang dan terbuka ini, telah hadir sebuah garapan cinema yang kolosal menceritakan kehidupan Confucius ( Kongzi). Diantara kritik, protes dan harapan di Film ini, marilah kita tunggu bersama sejauh mana film ini berhasil menggambarkan Keagungan Nabi Kongzi dan apakah sesuai dengan sejarah yang tertulis??

Continue reading

Hormat Dan Sungguh-Sungguh / Gong Jing, 躬 敬

Di dalam kehidupan orang perlu ada rasa dan perilaku hormat dalam pergaulan maupun hormat terhadap tugas kewajiban. Kalau ingin hak-hak asasi kita dihormati dan dijunjung, kita harus menghormati dan menjunjung hak-hak asasi orang lain. Jalan Suci daripada perilaku hormat dan sungguh-sungguh ini adalah perwujudan daripada Jalan Suci Peri Cinta Kasih dan Tepasarira. Ketika Zhong Gong 仲 弓 bertanya tentang Cinta Kasih, Nabi bersabda, “Ke luar rumah hendaklah bersikap sebagai menjumpai tamu agung, mengabdikan diri kepada rakyat bersikap sebagai melakukan sembahyang besar. Apa yang diri sendiri tidak inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain. Dengan demikian di dalam negeri tidak disesali, di dalam keluargapun tidak disesali.” (Sabda Suci XII: 2) Continue reading

Suci Hati Dan Tahu Malu / Lian Chi, 廉 耻

Dengan tanpa memperhatikan Kesusilaan dan Kebenaran mengejar kekayaan dan kemuliaan, itu pasti karena kurangnya Kesucian Hati dan merosotnya rasa Tahu Malu, perasaan harga diri. Ini adalah menodakan dan merusakkan kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi Watak Sejati manusia. Maka Nabi bersabda, “Seorang Junzi bila tidak menghargai diri, niscaya tidak berwibawa; belajarpun tidak teguh. Maka utamakanlah Satya dan Dapat Dipercaya. Janganlah berkawan dengan orang yang tidak memiliki semangat seperti dirimu. Bila bersalah jangan takut memperbaiki.” (Sabda Suci I: 8 ) Di dalam Ajaran Besar X: 14 tersurat, “Kami ingin mendapatkan seorang menteri yang jujur dan tidak bermuslihat. Yakni, yang sabar hati dan dapat menerima segala yang berfaedah; bila ada orang pandai, dia merasa itu sebagai kepandaiannya sendiri; lebih-lebih pula bila dia mendapati seorang yang berbudi sebagai nabi (suci), ia sangat menyukainya; ia tidak memuji dengan kata-kata saja tetapi dapat pula menerimanya. Continue reading

Kesusilaan Dan Kebenaran / Li Yi, 礼 义

Perilaku yang didukung oleh jiwa yang berperi Cinta Kasih dan dilaksanakan dengan Bijaksana akan melahirkan perbuatan yang bernilai Kebenaran, yang menegakkan Keadilan, memenuhi Kewajiban; bila perilaku itu didorong dan dikendalikan oleh perasaan keindahan, itulah laku Susila yang terbabar di dalam berbagai tata sopan santun dan tata upacara dan peribadahan. Nabi bersabda, “Seorang Susilawan memegang Kebenaran sebagai pokok pendiriannya, Kesusilaan sebagai pedoman perbuatannya, mengalah dalam pergaulan dan menyempurnakan diri dengan Laku Dapat Dipercaya. Demikianlah Susilawan.” (Sabda Suci XV: 18) “Seorang Susilawan terhadap persoalan dunia tidak mengiakan atau menolak mentah-mentah. Hanya Kebenaranlah yang dijadikan ukuran.” (Sabda Suci IV: 10) Continue reading

Satya Dan Dapat Dipercaya / Zhong Xin, 忠 信

Jalan Suci Kebajikan di dalam melaksanakan Cinta Kasih dan Tepasarira, dimulai dengan Bakti dan Rendah Hati, sedang Satya dan Dapat Dipercaya adalah menjadi pokok utama. Nabi Kongzi selalu bersabda, “Utamakanlah Satya dan Dapat Dipercaya.” Satya ialah yang menjadikan manusia menggemilangkan Kebajikan, sedangkan Dapat Dipercaya ialah kemampuan untuk disandari dalam mengamalkan Kebajikan itu. Sungguh menyedihkan bila manusia sampai kehilangan dua perkara itu. Satya itu menyatakan ketulusan iman dalam menghormat/menjunjung Kebajikan sedang Dapat Dipercaya itu menyatakan kesungguhan dalam mengamalkan Kebajikan. Ketika Zi-zhang 子 张 bertanya bagaimana ia wajib berprilaku, Nabi bersabda, “Perkataanmu hendaklah kau pegang dengan Satya dan Dapat Dipercaya, perbuatanmu hendaklah kau perhatikan sungguh-sungguh ……… Kalau engkau sedang berdiri, hendaklah hal ini kaubayangkan seolah-olah di mukamu, kalau sedang naik kereta, bayangkan seolah-olah hal ini tampak di atas gandaran keretamu. Dengan demikian tingkah lakumu dapat diterima.” (Sabda Suci XV: 6)

Selanjutnya marilah kita ikuti ayat-ayat di bawah ini:
-    “Hidup manusia difitrahkan lurus. Kalau tidak lurus tetapi terpelihara juga kehidupannya, itu hanya kebetulan.” (Sabda Suci VI: 19)
-    “Seorang yang tidak dapat dipercaya, entah apa yang dapat dilakukan? Itu seumpama kereta besar yang tidak mempunyai sepasang gandaran atau seumpama kereta kecil yang tidak mempunyai sebuah gandaran, entah bagaimana menjalankannya.” (Sabda Suci II: 22)
-    “Seorang Junzi setelah memperoleh kepercayaan rakyat baru berani menyuruh mereka bekerja keras. Bila belum mendapat kepercayaan, niscaya akan dianggap menindas. Harus mendapat kepercayaan lebih dahulu sebelum memberi peringatan kepada atasannya. Bila belum mendapat kepercayaan, niscaya disangka hanya pandai menyalahkan.” (S.S. XIX: 10)
-    “Seorang yang hanya pandai memutar kata-kata dan bermanis muka, sesungguhnya jarang berperi Cinta Kasih.” (Sabda Suci XVII: 17)

Bakti Dan Rendah Hati / Xiao Ti, 孝 悌

Perilaku bakti dan rendah hati menyangkut hubungan yang paling mula dan paling dekat dalam kehidupan tiap manusia; menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mengabdi, menghormati dan mencintai ayah-bunda dan menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mencintai saudara-saudara. Karena jalinan hubungan ini paling dekat dan paling mula, maka dalam moral Konfuciani ke dua masalah ini dijadikan dasar dan landasan untuk pembinaan diri dalam jangkauan yang lebih luas dan lebih kompleks. Mengzi bersabda, “Mencintai orang tua itulah Cinta Kasih, dan hormat kepada yang lebih tua itulah Kebenaran.” (VII A:15) Continue reading

Agama Khonghucu Indonesia

Penulis : Ws Dr Oesman Arif, MPd ( Liem Liang Gie )

Judul : AGAMA KHONGHUCU INDONESIA

Agama Khonghucu pertama kali diajarkan oleh Nabi Khongcu kepada rakyat Tiongkok pada abad VI sebelum Masehi, melalui sekolah yang didirikan oleh Nabi Khongcu sendiri. Setelah nabi Khongcu wafat (479 SM), di Tiongkok juga didirikan tempat ibadah agama Khonghucu yang disebut Wen Miao atau Kongzi Miao. Sesuai dengan ajaran agama Khonghucu yang tertulis dalam Kitab ajaran Besar (Da Xue) bab Utama, lembaga agama Khonghucu yang paling kecil adalah keluarga. Semua orang wajib membina keluarganya dengan baik sesuai ajaran agama Khonghucu. Lembaga agama Khonghucu yang lebih besar adalah negara, umat agama Khonghucu wajib menjadi warga negara yang baik, yang patuh kepada undang-undang serta memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Lembaga agama Khonghucu yang paling tinggi adalah dunia. Dalam Kitab Ajaran Besar tertulis: membina diri, membina rumah tangga, mengatur negara, dan menjaga perdamaian dunia.

Continue reading