Tripusaka : Bijaksana, Cinta Kasih, Berani / Zhi, Ren, Yong, 知,仁,勇

TRIPUSAKA adalah bekal paling ampuh dalam menghadapi penghidupan dengan segala persoalannya. Dengan Cinta Kasih, manusia mendapatkan landasan dan sandaran bagi motif perbuatannya, bahwa segala langkah dan perbuatan tidak boleh meninggalkan kemanusiaannya, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi; dengan Kebijaksanaan, manusia mampu menangani dan memecahkan segala persoalan secara tepat dan harmonis; dan dengan Keberanian, manusia mendapat semangat dan ketahanan dalam menghadapi tantangan maupun dalam meraih cita. TRIPUSAKA itu wajib menjadi tritunggal dalam diri kita.

Marilah kita ikuti ayat-ayat suci di bawah ini:
-    “Adapun Jalan Suci yang harus ditempuh di dunia ini mempunyai Lima Perkara dan Tiga Pusaka di dalam menjalankannya, yakni: hubungan raja dengan menteri, ayah dengan anak, suami dengan isteri, kakak dengan adik dan kawan dengan sahabat. Lima Perkara inilah Jalan Suci yang harus ditempuh di dunia. Kebijaksanaan, Cinta Kasih dan Berani; Tiga Pusaka inilah Kebajikan yang harus ditempuh. Maka yang hendak menjalani harus satu tekadnya.” (Tengah Sempurna XIX: 8)
-    “Suka belajar itu mendekatkan kita kepada Kebijaksanaan. Dengan sekuat tenaga melaksanakan tugas mendekatkan kita kepada Cinta Kasih dan rasa Tahu Malu mendekatkan kita kepada Berani.” (Tengah Sempurna XIX: 10)
-    “Yang Bijaksana tidak dilamun bimbang. Yang berperi Cinta Kasih tidak merasakan sudah-payah. Dan yang Berani tidak dirundung ketakutan.” (Sabda Suci IX: 29)
-    “Sifat keras kemauan, tahan uji, sederhana dan tidak mudah mengucapkan kata-kata, itu dekat dengan peri Cinta Kasih.” (Sabda Suci XIII: 27)
-    “Seorang panglima yang mengepalai tiga pasukan masih dapat ditawan. Tetapi cita seorang rakyat jelata tidak dapat dirampas.” (Sabda Suci IX: 26)
-    “Seorang yang bercita menjadi siswa dalam Cinta Kasih, tidak inginkan hidup bila itu membahayakan Cinta Kasih. Bahkan ada yang mengorbankan dirinya untuk menyempurnakan Cinta Kasih.” (Sabda Suci XV: 9)
-    “Seorang Junzi sekalipun sesaat makan tidak melanggar Cinta Kasih, di dalam kesibukan juga demikian, bahkan di dalam topan dan bahayapun ia tetap demikian.” (S.S. IV: 5)
-    “Bila cita selalu ditujukan kepada Cinta Kasih, tiada sarang bagi kejahatan.” (S.S. IV: 4)
-    “Jauh peri Cinta Kasih? Kalau aku inginkan Cinta Kasih, Cinta Kasih itu sudah besertaku.” (S.S. VII: 30)
-    “Di dalam menempuh Cinta Kasih, jangan kalah meski dengan guru.” (Sabda Suci XV: 36)
-    “Yang Bijaksana gemar akan air, yang berperi Cinta Kasih gemar akan gunung. Yang Bijaksana tangkas dalam perbuatan, yang berperi Cinta Kasih tenteram. Yang Bijaksana gembira, yang berperi Cinta Kasih tahan menderita.” (S.S. VI: 23)
-    “Seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, tidak tahan lama di dalam penderitaan dan tidak tahan lama di dalam kesenangan. Seorang yang berperi Cinta Kasih merasakan sentosa di dalam Cinta Kasih dan seorang yang Bijaksana merasa beruntung di dalam Cinta Kasih.” (Sabda Suci IV: 2)
-    “Hanya seorang yang penuh Cinta Kasih saja dapat mencintai dan membenci orang.” (Sabda Suci IV: 3)
-    “Zai-wo 宰 我 bertanya, “Seorang yang berperi Cinta Kasih kalau diberi tahu bahwa di dalam sumur ada Cinta Kasih, apakah ia akan mengikutinya juga?” Nabi bersabda, “Mengapa harus melakukan perbuatan semacam itu? Seorang Junzi dapat dibunuh, tetapi tidak dapat dijerumuskan; dapat dikelabui, tetapi tidak dapat dijebak.” (Sabda Suci VI: 26)
-    Ran-qiu 冉 求 / Jiam-kiu berkata, “Sesungguhnya bukan karena tidak suka akan Jalan Suci Guru, hanya tenaga tidak mencukupi.” Nabi bersabda, “Kalau tenaga tidak mencukupi, orang akan berhenti di tengah jalan. Mengapa engkau membatasi diri sendiri?” (Sabda Suci VI: 12)
-    “Seorang siswa tidak boleh tidak berhati luas dan berkemauan keras, karena beratlah bebannya dan jauhlah perjalanannya. Cinta Kasih itulah bebannya, bukankah berat? Sampai mati baharulah berakhir, bukankah jauh?” (Sabda Suci VIII: 7)