Oleh : Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd

Nasib manusia tetap menjadi misteri sejak zaman dahulu sampai sekarang, tetapi manusia tetap berusaha memecahkan misteri ini. Nabi Khongcu yang hidup pada abad VI sebelum Masehi (551- 479 SM) telah menulis Kitab Yi Jing isinya menjelaskan rahasia perubahan dalam alam semesta ini, termasuk perjalanan nasib manusia. Kitab Yi Jing ini tidak mudah dipelajari, namun tetap menjadi perhatian orang-orang pandai di seluruh dunia. Banyak ilmu pengetahuan dari Tiongkok yang tetap dipercaya kebenarannya sampai sekarang yang didasarkan pada Kitab Yi Jing ini. Misalnya ilmu pengobatan Tionghua sekarang masih dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Ilmu bisnis orang Tionghua juga bersumber dari Kitab Yi Jing. Juga ilmu Tata Negara dari Tiongkok juga berdasar Kitab Yi Jing ini.

Orang Tionghua juga mengembangkan Ilmu Feng Shui yang dipercaya dapat memperbaiki nasib manusia, juga bersumber dari Kitab Yi Jing. Buku ini memaparkan bagian dari Kitab Yi Jing yang membahas perubahan nasib manusia. Pembahasan nasib dari Ilmu Feng Shui dengan Yi Jing ada perbedaan, karena ilmu Feng Shui hanya mengembangkan sebagian dari ajaran Yi Jing tentang nasib manusia.Nasib manusia tidak hanya ditentukan oleh faktor lingkungan saja, faktor perilaku, ketekunan bekerja, kelincahan dalam bergaul, dan kecerdasan juga ikut menentukan nasib manusia.

Ilmu Ekonomi, Ilmu Soial Politik, Ilmu Hukum dan Ilmu-ilmu lain dari Barat tujuannya juga memperbaiki nasib manusia. Ilmu dari Barat memakai Logika dua nilai, yaitu benar atau salah. Suatu ilmu dari Barat itu hanya menerima hal yang dinilai benar, yang salah dibuang. Ilmu yang didasari Kitab Yi Jing memakai logika yang bersifat dialektis komplementer. Sesuatu yang benar atau salah itu bisa dipertimbangkan mnurut kondisi dan situasi. Sesuatu kebenaran yang berlaku di suatu aerah bisa tidak benar didaerah lain. Sesuatu yang salah bagi seseorang mungkin benar bagi orang lain. Dari kenyataan ini sering kali ada orang yang sudah belajar ilmu dari Barat beranggapan ilmu dari Yi Jing ini tidak ilmiah. Perdebatan Barat dan Timur itu tidak perlu ada kalau orang sudah belajar filsafat keilmuan dari Barat dan dari Timur.

Menurut Kitab Yi Jing, nasib manusia ditentukan oleh faktor waktu, tempat, dan hubungan antar manusia. Ilmu Feng Shui hanya membahas faktor waktu dan tempat saja, seperti ilmu Ekonomi juga hanya membahas masalah keuangan dan cara mencari nafkah. Pembahasan Yi Jing tentang nasib manusia membahs semua faktor yang terkait dengan nasib manusia lebih mendalam, termasuk faktor waktu dan tempat, faktor metafisik dan faktor Theologis atau keyakinan Imannya.

Faktor yang paling penting dari semua faktor adalah faktor pribadi orangnya, yaitu keyakinan imannya kuat atau tidak. Orang yang salah memahami konsep keimanan bisa menjadikan orang menjadi fatalis, alias menyerah pada nasib. Orang yang cerdas pikrannya, banyak pengetahuannya, mempunyai hubungan luas dalam masyarakat, kuat kepribadiannya untuk bisa diandalkan perkataannya, mempunyai ambisi untuk sukses, dan mempunyai keberanian mencapai kesuksesan, orang ini ada harapan menjadi orang kaya. Kalau orangnya sudah memenuhi syarat tinggal peruntungannya bagaimana, peruntungan itu faktor X yang juga dibahas dalam kitab Yi Jing, ini disebut faktor metafisik.

Orang awam sering menganggap belajar Yi Jing itu belajar ilmu meramal. Anggapan itu salah, belajar Yi Jing adalah belajar memahami rahasia perubahan tentang segala hal, termasuk perubahan nasib manusia. Kalau orang sudah belajar Yi Jing pada tahap tertentu dia bisa memperkirakan hal yang akan terjadi, itu hal yang bisa, seperti juga dokter melihat orang sakit bisa tahu obat yang dapat menyembuhkan pasien itu. Dalam Kitab Yi Jing ada bagian yang membahas kemungkinan orang mengetahui hal yang akan terjadi, setelah orang mengetahui data-data tertentu dan rumusnya. Sepert juga orang belajar matematika setelah mengetahui data tertentu dan rumusnya dapat membuat gambar yang lengkap atau penjelasan yang lengkap terhadap masalah yang dihadapi. Kalau orang belajar matematika tidak menghitung kemungkinan nasib manusia di kemudian hari maka orang tidak memasalahkan matematika sebagai ilmu meramal. Pada hal dalam ilmu matematika ada bagian yang namanya probabilitas, menghitung kemungkinan yang akan terjadi.

Kitab Yi Jing terbagi atas Xiang atau bentuk, Shu atau perhitungan, dan Li atau penjelasan filosofis. Dari tiga bagian itu yang paling sulit adalah bagian Li, penjelasan filosofis. Bagian penjelasan filosofis ini hanya sedikit yang mempelajarinya, pada hal yang terpenting.. Yang agak mudah dipelajari adalah Shu, perhitunga yang dianggap ilmu meramal, padahal bisa disamakan dengan ilmu probabilitas, yaitu mencari kemungkinan saja. Misalnya, anak baru lahir bisa dihitung drngan ilmu di KitAb Yi Jing, kemungkinan bakatnya apa, cocoknya kerja apa, dan sebagainya. Kalau perhitungannya cocok dengan kenyataan masa depan itu artinya yang menghitung itu orang pandai, kalau tidak cocok itu tukang menghitungnya bodoh. Celakanya, orang sudah beranggapan bahwa ahli Yi Jing itu tukang ramal yang sakti, perhitungannya dianggap ramalan dan dipercaya.

Ilmu menghitung atau meramal dari kitab Yi Jing itu sudah ada sejak zaman kuna, sebelum nabi Khongcu lahir. Cocok atau tidak ramalan, tetaplah ramalan yang tidak boleh dipercaya seratus persen, tetapi bisa dipakai sebagai saran atau pertimbangan dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Kalau orang percaya ramalan itu pasti benar orang tidak dapat menghindari hal yang akan terjadi, orang menjadi fatalis, hanya percaya kepada suratan nasib. Nabi Khongcu mengatakan bahwa meramal dengan Yi Jing itu hanyalah sekedar bermain bagi orang yang baru mulai belajar memahami Yi Jing, seperti anak kecil zaman sekarang, belajar computer mulai dengan game.

Seperti sudah disampaikan di atas, memahami Kitab Yi Jing itu sulit, orang perlu menghafalkan bentuk dan aturan perubahan bentuk. Di balik bentuk-bentuk yang tampak orang perlu membayangkan bentuk yang ada tetapi tidak tampak atau belum tampak. Bentuk dan sifat dari bentuk itu banyak, kemungkinan bentuk itu berubah juga banyak. Orang yang belajar ilmu Kimia wajib menghafal nama unsure yang jumlahnya lebih dari seratus, tiap unsure itu mempunyai sifat masing-masing, dan akan terjadi reaksi kalau bertemu dengan unsur lain, dalam kondisi yang berbeda reaksinya juga berbeda.

Menurut Yi Jing, nasib manusia juga sama seperti unsur kimia, bisa berubah kalau ketemu orang lain, dalam situasi berbeda hasil atau akibat pertemuan itu berbeda. Orang yang suka bekerja, rajin belajar, berwatak jujur dan sopan, ketemu orang yang mempunyai sikap yang sama kemungkinan jadi teman. Orang yang suka berbuat curang, bicaranya kasar, tidak berpendidikan, kebetulan ketemu orang jahat, mereka bisa menjadi teman akrab juga. Pergaulan manusia dengan manusia jelas lebih rumit dari pada pertemuan antara zat kimia yang lebih mudah diprediksi. Dalam diri manusia sendiri setiap saat terjadi perubahan karena bertambahnya pengetahuan atau karena pengaruh dari luar. Orang setelah mendengar berita yang menarik perhatiannya dari siaran radio atau dari siaran televisi pikiran dan perasaannya bekerja, saat itu dalam dirinya sudah terjadi perubahan besar.

Dari pertimbangan bahwa manusia itu mudah berubah maka nasib manusia itu tidak bisa diramalkan, kecuali orang yang hidup dalam masyarakat yang statis, dari zaman ke zaman tidak berubah. Masyarakat modern yang hidup di kota modern yang cepat berubah karena munculnya alat teknologi baru dan informasi-informasi baru manusianya juga berubah lebih cepat. Ramalan seperti ilmu dalam Yi Jing lebih mendapat perhatian masyarakat dikota modern, itu membuktikan bahwa masyarakat modern yang cepat berubah itu khawatir terhadap masa depannya. Orang yang mendapat pendidikan modern malu kalau dikatakan tahayul, tetapi dalam hati kecilnya juga ingin tahu bagaimana nasibnya di kemudian hari. Oleh karena itu, banyak orang di kota besar percaya kepada orang yang berani “menjanjikan masa depan yang cerah.”  Banyak orang di kota besar tidak sempat berpikir untuk dirinya sendiri, dari pagi bangun tidur sampai malam menjelang tidur hanya pekerjaan yang dipikirkannya. Tidak mengherankan kalau banyak orang menyerahkan masa depannya kepada “ ahli spiritual” entah apa namanya. Sebenarnya mereka itu hanya diberi “ obat bius” supaya batinnya tenang.

Orang yang belajar Kitab Yi Jing dikembalikan kepercayaan dirinya untuk bisa melihat masa depannya sendiri. Orang dikenalkan kembali pada realitas dirinya dan realitas di luar dirinya. Orang yang telah kehilangan kepercayaan pada masa depannya sendiri nasibnya tidak mungkin bisa bahagia. Mereka bisa menjadi pekerja yang ulet, jujur, disiplin, mereka hanya menjadi alat atau komponen dari suatu system. Kalau orang ingin memperbaiki nasibnya dia harus berani menjadi dirinya sendiri, meskipun bekerja dalam system tertentu dia tetap pribadi yang sadar sebagai pemilik masa depannya sendiri,

Masalah pokok dari nasib manusia adalah kehilangan percaya diri untuk menentukan nasibnya sendiri. Batas terakhir kehidupan manusia adalah kematian, kalau orang sudah mati sudah pindah ke alam lain yang tidak kita ketahui, itu wilayah  yang hanya diketahui Tuhan. Manusia hidup tidak usah mengkhawatirkan keadaan setelah mati, serahkan saja kepada kebijakan Tuhan. Agama Khonghucu memberi satu pedoman, yaitu Wei De Dong Tian, artinya hanya Kebajikan Tuhan berkenan. Kalau kita hidup sebagai manusia selalu melaksanakan perbuatan yang baik, yang memberi manfaat positif kepada msyarakat, pasti Tuhan berkenan memberi penghargaan di dunia atau di akhirat.

Ada dua jenis manusia, jenis pertama manusia yang serakah, ingin mengumpulkan harta dengan segala cara, halus atau kasar. Semboyannya: ketemu orang makan orang, ketemu setan makan setan. Jenis manusia ini melakukan penyelundupan, menyuap pejabat, bikin barang palsu, main monopoli apa saja. Jenis manusia kedua, orang yang hidup sederhana dan sudah merasa cukup, tetapi hidupnya digunakan untuk berbuat hal yang bermanfaat bagi umat manusia, Orang seperti ini mungkin tidak pernah  kaya, tetapi menjalani hidup penuh percaya diri dan senang. Dua jenis manusia ini jenis yang ekstrim. Kebanyakan orang termasuk jenis yang terombang ambing di antara dua jenis ekstrim tadi. Manakah manusia yang bernasib baik, tentu saja manusia jenis ke dua saja. Manusia jenis pertama yang serakah dan manusia yang terombang-ambing antara dua jenis itu juga bernasib jelek. Manusia jenis pertama pasti mendapat hukuman dari Tuhan, yang akan menerima hukuman berat malah anak cucunya. Ini bukan untuk menghibur orang jujur tetapi miskin, ini tertulis dalam Kitab Yi Jing. Orang percaya atau tidak kepada hukuman dan keadilan Tuhan, itu bukan masalah bagi Tuhan, pengadilan Tuhan akan Jalan terus.

Orang Jawa mengatakan, siapa yang menanam pasti akan memetik buahnya. Kalau orang menanam kebusukan akan memetik buah yang busuk. Ungkapan ini sering ditertawakan, sebagai ungkapan untuk menghibur orang yang jujur dan miskin. Kalau kita membaca buku sejarah, banyak kejadian di dunia yang membuktikan kebenaran ini. Leluhurnya kaya raya dan berkuasa, anak cucunya dipandang rendah oleh masyarakatnya. Apakah bisa dikatakan bernasib baik?

Untuk lebih Lanjut Silahkan Download Makalah Ini di link Berikut:
xin_pedoman_2_oke.pdf

4,094 Total Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

captcha

Please enter the CAPTCHA text

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>