Filsafat Hukum Menurut Xun Zi

Filsafat hukum perlu dipelajari manusia dalam hubungannya dengan
mengatur dan mengamankan negara sepanjang sejarah. Pada jaman kuno
orang Yunani telah memiliki pemikir yang membahas Filsafat Hukum misalnya
Plato dan Aristoteles. Di Tiongkok pada jaman kuno juga sudah memiliki pemikir
tentang Filsafat Hukum yaitu Xun Zi ( 320 S.M – 233 S.M). Aristoteles dengan
Xun Zi meskipun sejaman tetapi mereka berada di tempat yang berbeda dan
berjarak sangat jauh, mereka berdua belum saling kenal atau bertemu.
Pemikiran mereka tentang Filsafat Hukum sangat berbeda, tetapi mempunyai
kesamaan bahwa masyarakat negara itu harus diatur oleh hukum supaya
negara aman dan tertib. Dalam hal ini terbukti bahwa semua manusia di dunia ini
menyukai ketertiban dan keamanan dalam menjalani hidup ini. Continue reading

Filsafat Konfusianisme

Oleh: Ws. Dr. Oesman Arif

HSUN TZU Buku I : TEKAD UNTUK BELAJAR

Orang bijak ( Kun cu ) berkata : Belajar tidak boleh berhenti . Ibarat warna
hijau . berasal dari warna biru , tetapi warna hijau lebih mendekati alam . Es
berasal dari air , tetapi es lebih dingin dari pada air.Batang pohon yang lurus
terdiri dari serat yang tegak lurus,bila dipanaskan bisa dilengkungkan menjadi roda kereta, tidak dapat lurus lagi meskipun disinari matahari, hal itu telah
menjadi sifat kayu. Logam dapat menjadi benda tajam karena digosok. Seorang bijak (kuncu) memperluas pengetahuan dan setiap hari berlatih maka akan menjadi pandai dan cerdas. Continue reading

Kebudayan dan Kesenian

Ditulis oleh: Ws. Dr. Oesman Arif (Liem Liang Gie)
Kebudayaan Tionghoa diakui oleh masyarakat dunia sebagai kebudayaan
yang sudah tua dan memiliki banyak produk budaya yang bermanfaat bagi umat
manusia. Misalnya ilmu filsafat, ilmu Feng Shui, ilmu pengobatan, ilmu
perdagangan, kesusastraan dan kesenian yang sangat bervariasi, dan juga ilmu
strategi perang dari Sun Zi yang sangat terkenal. Namun sayangnya, orang
Tionghoa di Indonesia oleh sebagian orang Indonesia hanya dikenal sebagai
kelompok yang pandai mencari uang dan mengumpulkan harta. Kenyataan ini
memberi tantangan kepada organisasi masyarakat keturunan Tionghoa untuk
menjawabnya dengan menunjukkan kemampuan lain yang lebih bermanfaat
kepada bangsa Indonesia. Continue reading