Oleh : Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd

t14ym.edu.twMasyarakat berbudaya Tionghoa membedakan sistem komunikasi dalam empat tataran yaitu:

1. Komunikasi Kultural
2. Komunikasi Ilmiah
3. Komunikasi Metafisik
4. Komunikasi Theologis

Pembedaan tataran ini perlu dipahami agar masyarakat tidak terjebak pada miskomunikasi yang menimbulkan konflik horizontal. Banyak orang saling bermusuhan karena akibat kesalahan komunikasi. Misalnya, seorang ilmuwan menjelaskan suatu masalah politik dengan ragam bahasa ilmiah kepada praktisi politik. Pemikiran atau pendapat ilmuwan pakar politik ini akan selalu disanggah oleh sang praktisi politik dengan mengatakan bahwa: “ itu cuma teori, praktiknya lain”.

Contoh lain, dua orang yang berbeda agama tidak rukun karena mereka tidak memahami perbedaan tataran komunikasi, dan dapat membedakan sistem komunikasi Theologis dengan sistem komunikasi kultural. Dalam sistem komunikasi kultural orang membicarakan masalah sehari-hari yang mudah dimengerti, misalnya teh manis dan teh tanpa gula bisa dibedakan dengan jelas. Makanan yang terlalu asin dan kurang asin juga mudah dibedakan. Akan tetapi, masalah keyakinan seseorang tentang ajaran agama yang dipeluknya berbeda dengan keyakinan orang yang berbeda agama. Ada agama yang mengajarkan adanya dosa asal, ada agama yang mengajarkan tentang karma dan reinkarnasi, ada agama yang tidak membahas sorga neraka dan masalah reinkarnasi. Masing-masing agama sudah disusun sesuai dengan target yang akan dicapai oleh umatnya. Perbedaan keyakinan itu tidak bisa diukur atau dinilai mana yang lebih benar.

Dalam kehidupan keseharian, manusia berkomunikasi dalam tataran komunikasi kultural, mereka menggunakan bahasa dan istilah yang biasa dipakai dalam masyarakat. Komunikasi kultural itu meliputi komunikasi politik, ekonomi perdagangan, hukum dan masalah pribadi atau keluarga. Manusia tidak akan konflik karena yang satu suka gudeg yang lain suka soto, mereka bisa menghargai kesukaan atau pilihan makanan orang lain. Manusia mengakui bahwa selera setiap orang berbeda, ada yang suka bakso ada juga yang suka gado-gado dan masing-masing tidak perlu bikin organisasi yang menghimpun penggemar bakso, atau menghimpun orang penggemar gado-gado.

Ada orang membuat organisasi politik untuk menghimpun orang agar dia bisa menang dalam pemilihan umum dan menjadi presiden atau walikota, atau jabatan lainnya. Orang yang kalah suara dalam pemilihan tidak perlu marah. Komunikasi politik seperti contoh ini termasuk dalam tataran komunikasi kultural. Masyarakat yang kulturnya sudah maju kalah atau menang dalam pemilihan dianggap biasa. Masyarakat yang kulturnya belum maju, orang yang kalah dalam pemilihan bisa marah dan membuat kerusuhan.

Dalam masyarakat juga ada aktivitas perdagangan, dalam hal ini ada yang merasa rugi dan ada yang mendapat banyak keuntungan, masing-masing menerima kenyataan itu sebagai hal yang wajar. Para pedagang sudah memahami akibat dan resiko orang berdagang. Dalam dunia peradilan orang minta keadilan kepada penegak hukum, selama mereka percaya pada rasa keadilan petugas penegak hukum mereka taat dan patuh pada putusan pengadilan. Hal ini juga masuk dalam tataran komunikasi kultural.

Kalangan ilmuwan pada saat tertentu berkomunikasi dengan ilmuwan lainnya dalam tataran komunikasi Ilmiah. Para ilmuwan mempunyai terminology yang sudah dipakai dalam bidang ilmunya. Mereka masing-masing telah menguasai kaidah keilmuan yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi. Ilmuwan tidak berpikir dan berpendapat seperti orang berkelakar atau pelawak. Mereka berpikir dengan mempertimbangkan data dan fakta yang akurat, mereka juga memiliki referensi yang cukup serta dapat dipertanggung jawabkan,

Komunikasi kultural dengan komunikasi ilmiah sangat berbeda. Masyarakat ilmuwan berpikir dan berbicara dengan disiplin tertentu. Setiap ilmuwan mempunyai sistematika berpikir tertentu dalam menguasai ilmunya yang berbeda dengan ilmu lain. Misalnya ilmu biologi mendapat pengetahuan lewat pengamatan dan percobaan. Ilmu Sosial menggunakan pengamatan dan statistic, ada sebagian ilmu sosial menggunakan exprimen terbatas, misalnya dalam ilmu pendidikan dan ilmu ekonomi.

Pemikiran para ilmuwan didasari teori tertentu yang dipayungi oleh filsafat tertentu. Semua teori ilmu pengetahuan lahir dari seorang ahli, dan ahli tersebut mempunyai latar belakang filsafat tertentu. Dengan kata lain, teori ilmu pengetahuan dilahirkan oleh pemikiran filsafat tertentu. Oleh karena itu, diatas komunikasi ilmiah ada komunikasi metafisik, mungkin ada ilmuwan yang tidak pernah peduli atau tidak tahu adanya komunikasi metafisik ini. Metafisika memang berbeda dengan ilmu yang kebenarannya berdasar fakta, namun fakta itu dimaknai oleh pandangan metafisika tertentu. Orang tidak dapat meyakini kebenaran kalau tidak memiliki dasar filosofis yang kuat. Ada orang yang tidak mengakui adanya kebenaran, dia tidak dapat menerima fakta apapun sebagai kebenaran, orang seperti ini mungkin pengikut aliran negativisme. Sebaliknya, ada orang yang menganggap bahwa kebenaran itu hanya hal yang dapat diuji dengan percobaan di laboratorium.

Menurut Hans Reichenbah, kebenaran itu dibedakan atas empat jenis: 1. Kebenaran Logis, kebenaran yang dapat diuji dengan logika. 2. Kebenaran fisis, kebenaranyang dapat diuji dengan ilmu fisika. 3. Kebenaran teknis, kebenaran yang dapat diuji secara teknis dengan alat ukur yang nyata. 4. Kebenaran non verifikatif, kebenaran yang tidak bisa dibuktikan. Filsafat termasuk kebenaran jenis ke empat, kebenarannya tidak dapat diuji dan hanya diterima sebagai keyakinan. Filsafat Materialisme berpendapat bahwa yang ada itu hanya materi, hal yang non materi itu tidak ada, kalau ada orang berbicara tentang hal yang bukan materi itu tidak benar, itu hanya omong kosong. Kaum Materialisme tidak percaya adanya Tuhan karena Tuhan itu bukan materi.

Masyarakat Tionghoa sejak zaman dahulu sudah percaya bahwa Tuhan itu ada, Tian, atau Tuhan Yang Maha Esa, adalah yang menciptakan alam semesta ini serta mengatur, memelihara dan menjaganya agar selalu dalam kondisi yang baik. Keyakinan adanya Tuhan atau Tian itu diajarkan oleh Nabi Khongcu yang tertulis dalam Kitab Suci Yi Jing, salah satu Kitab Suci agama Khonghucu dan sering disebut Kitab Klasik. Kitab Suci ini semula berjumlah enam disebut Liu Jing, sekarang tinggal lima kitab, disebut Wu Jing. Selain Lima Kitab Klasik atau Wu jing ajaran Nabi Khongcu juga ditulis dalam kitab Si Shu atau Kitab Yang Empat agar bagi para pemula yang ingin mempelajari ajaran Khonghucu lebih mudah

Ajaran nabi Khongcu (551- 479 SM) merupakan ajaran agama yang membahas berbagai masalah kehidupan. Oleh Xun Zi (326- 233 SM), ajaran nabi Khongcu itu dipilahkan menjadi dua bagian, yaitu ajaran untuk membina diri dan membina rumah tangga disebut Xiao Ru, atau Khonghucu minor, bagian kedua membahas hal yang berkaitan dengan membangun negara kuat dan rakyatnya sejahtera, bagian ini disebut Da Ru atau ajaran Khonghucu mayor. Menurut Xun Zi, orang yang akan mempelajari ajaran Khonghucu mulai dari yang minor dulu, bagi yang cerdas dan berkemampuan dapat belajar Khonghucu mayor untuk menjadi pemimpin dan pejabat negara. Di kemudian hari berkembang pemikiran bahwa ajaran Khonghucu minor itu sebagai ajaran agama, sedangkan ajaran Khonghucu mayor sebagai filsafat. Orang yang sudah mempelajari ajaran Khonghucu dengan baik tidak perlu memperdebatkan ajaran Khonghucu itu agama atau filsafat karena keduanya sudah tercakup, semua bergantung pada kemampuan orangnya untuk mempelajari agama atau filsafat, atau keduanya.

Nabi Khongcu mengajarkan muridnya untuk memahami komunikasi Theologis, tidak berhenti pada komunikasi ilmiah dan metafisis saja. Nabi Khongcu menyadari bahwa sistem komunikasi itu perlu didasari pemahaman Theologis agar pemikiran manusia tidak berserakan seperti sampah. Awan itu adalah kumpulan uap air, pada saatnya akan menjadi hujan membasahi bumi menyuburkan tanah. Manusia berkomunikasi dengan orang sekitarnya, dengan pejabat, dengan masyarakat luas dalam tataran komunikasi kultural. Kalau masyarakat menghadapi masalah mencari pemecahannya lewat ilmu pengetahuan, paras ilmuwan berkomunikasi dalam tataran komunikasi ilmiah. Namun, para ilmuwan sering menghadapi jalan buntu dalam mendapatkan jawaban karena ada tataran pemikiran yang lebih tinggi yang perlu dipahami lebih dahulu. Tataran yang lebih tinggi dari tataran ilmiah yaitu tataran metafisik. Tataran metafisik juga belum tentu dapat memecahkan masalah, dalam keadaan seperti ini nabi Khongcu mengajarkan adanya tataran pemikiran yang lebih tinggi disebut tataran Theologis. Ibarat awan akan jatuh menjadi hujan setelah cukup banyak dan berat, tataran komunikasi Theologis itu memberi kepastian kepada manusia untuk bertindak atau berlindung, seperti juga datangnya hujan dan petir.

Kehidupan manusia di bumi ini terwujud karena ada budaya yang mewadahinya. Bentuk budaya itu perlu dibangun berdasar suatu konsep besar yang mantap, untuk itu perlu dibangun dulu komunikasi Theologis, artinya konsep besar itu berdasar adanya Tian, Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan alam semesta beserta isinya, mengatur, memelihara dan menjaga keutuhannya. Hal ini tertulis dalam kitab Yi Jing bagian Xi Ci Chuan atau Babaran Agung, penjelasan kua pertama.

Nabi Khongcu menegaskan bahwa Tian itu menciptakan alam semesta, dan manusia hidup di dunia itu atas kehendakNya. Dalam hal ini Tuhan itu Pribadi yang punya otoritas terhadap kehidupan manusia, dan manusia bertanggung jawab kepada Tuhan. Tuhan disebut Tian, atau Shangdi, kaisar yang berada di Langit. Tian atau Tuhan tidak dapat diperkirakan besar dan bentuknya, tetapi bisa dipahami sebagai sesuatu Yang Tunggal dan Maha Besar, huruf Tian itu terdiri dari huruf Yi yang artinya SATU dan Da yang artinya BESAR.

Tian itu mempunyai kekuasaan mutlak atas ciptaannya. Manusia dilahirkan ke dunia ini juga atas kehendak Tian. Manusia sadar sebagai pribadi, Tian atau Shangdi juga pribadi yang bisa marah, atau menghasihi, bisa mengatur dan memberi rejeki dan bisa memberikan hukuman. Dalam Kitab Yi Jing disebut Yuan, Heng, Li, Zhen. Dengan otoritas Tian itu manusia diberi Ming (takdir, atau perintah), yang berwujud watak sejati manusia atau Xing. Manusia wajib hidup sesuai dengan watak sejatinya yaitu melaksanakan cinta kasih, menjunjung kebenaran, hidup susila, dan berpikir cerdas. Watak sejati manusia ini tidak dimiliki makhluk hidup lain, kalau manusia tidak menjalani hidup sesuai dengan watak sejati manusia derajatnya turun menjadi makhluk dengan bentuk manusia perilakunya binatang.

Agama Khonghucu adalah bentuk komunikasi Theologis yang menjadi dasar budaya Tionghoa. Kaisar Tiongkok disebut Tianzi atau Putra Tuhan (Putra Kaisar Langit) tujuannya supaya tidak didemo atau diturunkan dari tahtanya setiap saat. Kalau kaisar baru memerintah sebentar sudah diturunkan dari tahta pasti negara tidak bisa membangun apapun. Kaisar Tiongkok mewakili Tian memerintah dunia, itulah legalitas Theologis yang diberikan kepada kaisar Tiongkok dan dikukuhkan oleh agama Khonghucu untuk melindungi rakyat. Dengan cara ini dinasti kekaisaran di Tiongkok bisa bertahan sampai ratusan tahun, namun pada saat ajaran agama Khonghucu di sandera oleh pemerintah maka kekaisaran itu juga runtah.

Contohnya, Qin Shi Huang Di memusuhi agama Khonghucu dengan membunuh pengikutnya dan membakar buku-buku Khonghucu, kekaisarannya hanya bisa bertahan lima belas tahun (221-206 SM), Di Tiongkok, setelah Perang Candu (1850), agama Khonghucu mulai dimusuhi oleh kerajaan, dan sikap memusuhi itu tetap diteruskan setelah Tiongkok menjadi Republik Tiongkok. Setelah menjadi republic di Tiongkok terjadi kekacauan terus menerus. Pada zaman sekarang di Tiongkok, ajaran Khonghucu sebagai filsafat atau agama dihidupkan kembali, negara mulai kuat dan rakyat mulai hidup sejahtera.

Komunikasi Theologis yang dikembangkan oleh Nabi Khongcu memberi perlindungan kepada budaya Tionghoa, meliputi bidang kesenian, bidang perdagangan, bidang politik, bidang hukum. Ritual agama Khonghucu sebagai sarana menjaga legalitas Theologis dari budaya Tionghoa. Oramng bisa berkata agama Khonghucu bukan agama karena mereka ini bodoh, atau membodohi dirinya sendiri karena punya kepentingan lain.

Orang yang ingin mengetahui Komunikasi Theologis dari budaya Tionghoa perlu memahami kosenp San Cai, Tian, Tian Ming, Xing, Dao, Dan Jiao (Baca Kitab Zhong Yong). Budaya Tionghoa bukan budaya skuler atau Materialisme, budaya Tionghoa adalah budaya yang punya landasan Theologis yang kuat, yang telah dijabarkan oleh nabi Khongcu secara sistematis (baca Kitab Yi Jing, Shu Jing , Kitab Chun Qiu , Kitab Li Ji dan Kitab Shi Jing).

2,893 Total Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

captcha

Please enter the CAPTCHA text

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>