Oleh : Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd

ikatan_kodrat_manusiaHal yang perlu diperhatian dari kitab Yi Jing ialah komponen yang perlu dianalisis. Manusia hidup didunia ini mempunyai orang tua, mempunyai saudara, mempunyai istri atau suami, punya anak cucu, punya jabatan di pemerintahan atau perusahaan, punya harta kekayaan. Ada juga orang yang sudah tidak punya orang tua, ada orang yang belum punya suami atau istri, atau sudah pernah punya. Ada orang yang belum punya anak cucu, ada orang yang belum punya jabatan atau kedudukan dan pekerjaan, Semua komponen yang dimiliki orang itu berpengaruh terhadap nasibnya, Uraiannya dibawah ini:

ikatan_kodrat_gua_11

Garis pertama posisi pasangan hidup
Garis ke dua posisi kuan gui (penekan ) dan fu mu (orang tua).
Pada garis ke dua ini, penekan juga punya posisi sebagai orang tua yang menghidupi.
Garis ke tiga dan keempat posisi saudara
Garis ke lima posisi pasangan hidup
Garis ke enam posisi anak cucu.

Contoh ini diambil dari gua yang dicari dengan menghitung unsur tanggal lahir dan jam kelahiran.
Kalau orangnya belum menikah garis pertama tidak ada masalah.
Garis ke dua bagi karyawan penekannya adalah bosnya, tetapi bos itu juga punya posisi sebagai orang tua yang menghidupi.
Garis ke tiga dan keempat posisi saudara, pengertian saudara itu luas teman yang baik juga seperti saudara sendiri. Maka hubungan dengan teman dan saudara harus diperhatikan jangan sampai retak.
Garis ke lima posisi pasangan hidup, yang sudah punya pasangan hidup perlu menjaga hubungan baik dan tetap rukun.
Garis ke enam posisi anak cucu. Bagi yang sudah punya anak cucu mereka itu bisa membantu, tetapi kalau salah didik bisa berbalik menjadi beban.

1. Posisi orang tua.
Orang yang masih mempuyai orang tua kaya, secara ekonomi mungkin tidak banyak masalah, orang mengatakan dia beruntung karena masih punya orang tua. Kalau orang punya orang tua yang miskin dan sakit-sakitan, mungkin orang tua ini menjadi beban anak-anaknya, orang tua ini memberi beban  mental dan ekonomi pada anak-anaknya.

2. Posisi saudara.
Orang yang mempunyai banyak saudara yang ekonominya kuat, dia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kondisi ekonominya kalau bisa kerja sama dengan saudara-saudaranya. Kalau orang tidak rukun dengan saudara-saudaranya mungkin susah juga hidupnya, artinya dia tidak dapat memanfaatkan peluang yang ada.

3.  Posisi pasangan hidup.
Pasangan hidup itu bisa suami atau istri selayaknya membantu atau mendukung secara rohani dan fisik. Maka hubungan suami istri perlu harmonis dan saling mendukung dalam keadaan susah atau senang.

4.  Posisi anak cucu.
Orang biasanya pada usia tua memerlukan perhatian dari orang–orang yang disayangi yaitu anak cucu, kalau kebetulan tidak punya anak cucu dia bisa mencurahkan kasih sayangnya ke anak-anak orang lain, misalnya dia bekerja di pati asuhan atau menjadi guru sekolah.

5.    Posisi penekan (Guan Gui).
Dalam kehidupan manusia selain ada unsur yang mendukung, juga ada unsur yang menekan, kalau tidak begitu orang tidak bisa maju. Saat masih kecil anak dipaksa untuk mandi tiap hari, makan, tidur pada waktunya, untuk belajar agar bisa naik kelas dan menjadi orang pandai. Setelah dewasa orang wajib bekerja mencari nafkah, kalau orang menjadi karyawan dia mendapat perintah dari atasannya, Kalau dia bekerja sendiri juga juga ditekan oleh pelanggannya. Oleh karena itu faktor penekan itu penting bagi kehidupan manusia, maka cara memahami posisi penekan itu penting.Kalau orang hanya melihat dari sudut negatif saja maka dia susah untuk maju.
Dalam konsep Liu Qin Liu Yao ini unsurnya Cuma lima, tetapi Yao nya enam maka ada posisi yang rangkap.

Kedudukan atau Posisi.
Setiap orang yang hidup dalam masyarakat pasti mempunyai kedudukan, bedanya rendah atau tinggi kedudukannya. Seorang menjual bakso keliling dengan gerobak dorong kedudukannya adalah juragan atau pemilik usaha warung bakso. Pekerjaannya sehari–hari melayani pembeli bakso, Seorang pemilik hotel besar lantai enam puluh kedudukannya adalah juragan hotel, tugasnya melayani tamu hotel. Juragan bakso gerobak dengan juragan hotel sama kedudukannya sebagai juragan, tugasnya sama melayani orang lain. Bedanya, juragan bakso gerobakan itu melayani seorang sendiri, tidak punya pegawai, bakso-nya cuma satu gerobak, kapasitas pelayanannya terbatas. Juragan hotel punya kamar ratusan, dia dibantu oleh puluhan pegawai hotel, kapasitas pelayananya jauh lebih besar dari pada juragan bakso gerobakan.

Orang yang ingin memperbaiki nasibnya perlu meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanannya kepada masyarakat, dengan cara itu mungkin dia akan mendapat kedudukan yang lebih baik dalam masyarakat. Untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas pelayanan kepada masyarakat orang harus belajar meningkatkan kepandaiannya sendiri dan kepandaian pegawainya, atau keahlian dan ketrampilan dirinya beserta pegawainya,

Suami Atau Istri
Laki-laki biasanya takut menikah karena belum punya pekerjaan yang mapan dan belum punya penghasilan yang meyakinkan. Laki-laki seperti ini biasanya tidak menikah sampai mati karena dia tidak pernah punya pekerjaan yang mapan. Mapan dan tidak itu sebenarnya bergantung pada pikiran dan penilaian orang itu sendiri. Laki-laki muda yang tidak memikirkan pekerjaannya mapan atau tidak berani menikahi gadis yang juga tidak mapan, setelah mereka menjadi suami istri bisa membangun keluarga yang mapan secara ekonomi dan sosial. Dalam sistem analisa nasib kitab Yi Jing “pasangan hidup” (suami atau istri) dan harta itu ditempatkan dalam satu komponen. Kalau pasangan suami istri itu cocok, bisa bekerja sama, meskipun sama-sama miskin bisa membangun keluarga yang mapan secara ekonomi dan sosial. Sebaliknya, pasangan suami istri yang tidak cocok, meskipun keduanya dari keluarga kaya dan berpendidikan tinggi tidak berhasil membangun keluarga yang mapan.

Anak Cucu.
Bagi orang yang sudah tua anak cucu itu menjadi curahan kasih sayang dan kebanggaan. Orang tua melihat cucunya teringat pada anak-anaknya saat masih kecil, pada saat itu dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah dia tua, pekerjaannya berkurang dia bisa lebih memperhatikan cucunya, dan ini menjadi kekuatan dan semangat hidupnya untuk menjaga dirinya tetap sehat. Orang tua perlu tetap beraktivitas dan meningkatkan kualitas serta kapasitas pelayanannya kepada masyarakat, meskipun caranya berbeda dengan pada saat masih muda. Kalau orang tua ingin berbuat seperti orang muda tenaganya sudah berkurang, mereka punya cara lain beraktivitas yang bermanfaat bagi mayarakat. Orang tua dengan melihat anak cucunya bisa mengevaluasi semua perbuatannya di masa muda, apa yang sudah di tanam, yang tumbuh, dan yang akan berbuah.

Harta Kekayaan.
Dalam sintem Liu Qin Liu Yao, harta disatukan dengan pasangan hidup dengan sebutan Qi Cai. Harta dan pasangan hidup itu perlu dimiliki manusia supaya dapat menjalani hidup wajar. Keduanya dicari, diupayakan untuk diperoleh kemudian disayang, dijaga agar selalu sehat dan dekat dengan dirinya. Orang yang kehilangan salah satunya akan sedih, apalagi kehilangan keduanya. Gambaran di atas menunjukkan pentingnya Qi Cai itu, meskipun tidak semua orang memiliki keduanya.

Orang yang menginginkan mencari pasangan hidup dulu , atau memiliki harta dulu baru mencari pasangan hidup. Biasanya orang mendapat pasangan hidup dan mendapat harta pada saat yang bersamaan. Kalau mencari harta lebih dulu baru mencari pasangan hidup, bisa terlambat karena usianya sudah banyak, cari pasangan susah. Kalau cari pasangan hidup lebih dahulu tanpa punya harta juga akan bermasalah.

Qi Cai ini menurut Yi Jing termasuk beban hidup manusia yang wajib dipikul sepanjang hidup. Ada kelompok orang yang melepaskan kedua beban ini dengan alasan supaya leluasa mengabdikan hidupnya untuk agama. Bagi orang biasa itu pilihan yang berat dan tidak akan dipilih. Qi Cai memang beban hidup manusia yang wajib dipikul selama hidupnya, namun ada kebahagiaan hidup yang tidak pernah dirasakan oleh mereka yang melepaskannya. Orang makan segala makanan perlu menikmati rasanya, pahit, getir, manis, asam, pedas, gurih, asin atau tawar. Aneka rasa itu yang membuat orang menikmati makanannya. Manusia hidup juga punya perasaan yang perlu diberi “makanan”. Perasaan suka perlu sesuatu yang disukai. Perasaan cemburu juga perlu ada seseorang yang dicemburui. Perasaan marah perlu ada seseorang yang dimarahi. Perasaan cinta perlu ada seseorang yang dicintai. Perasaan benci juga perlu ada seseorang untuk dibenci. Perasaan rindu juga perlu ada seseorang untuk dirindukan. Kalau ada orang bisa mencintai semua orang itu baik, sebaliknya kalau ada orang membenci semua orang ini berbahaya,

Perasaan perlu berimbang, seperti makanan rasanya juga campuran, asam, manis, asin dan sebagainya. Qi Cai atau pasangan hdup dan harta adalah faktor dari luar yang menjadi faktor penting dalam kehidupan manusia agar dia bisa menikmati hidup seperti pada umumnya manusia yang lain. Orang yang sudah berkeluarga pasti merasakan pahit getir, suka dan duka. Pasangan hidup itu teman dan sekaligus “musuh besar” karena mengurangi kemerdekaannya, benci dan cinta menjadi satu itulah bukti cinta.

Kehidupan ini berjalan cepat, setiap saat ada perubahan, yang lama tinggal kenangan yang akan datang menjadi harapan. Hidup ini baru terasa nyata karena ada kenangan dan harapan, kejadian yang sudah lalu tidak akan terulang lagi, kejadian yang akan datang hanya impian. Kalau manusia tidak mempunyai kenangan masa lalu dan harapan masa depan, entah apa isi harapannya. Begitulah nasib manusia bisa dinilai dari kenangan dan harapan. Manusia yang bernasib baik dikenang manusia karena perbuatan baiknya, manusia yang bernasib buruk dikenang masyarakat karena perbuatan buruknya. Manusia yang memikirkan masa depan yang baik memperjuangkan terwujudnya kebaikan di masa depan, merekalah yang bernasib baik.

Perjodohan dan perkawinan sangat menentukan kebahagiaan hidup keluarga. Calon pengantin perlu memikirkan dengan hati-hati sebelum menjatuhkan pilihan pasangan hidupnya. Biasanya pemuda dan pemudi saling tertarik lalu pacaran, mereka menganggap sudah saling jatuh cinta. Pacaran belum lama, sudah didesak menikah atau dinikahkan oleh orang tua kedua belah pihak. Setelah menjadi suami istri ternyata keduanya belum siap membangun rumah tangga. Biasanya rumah tangga seperti ini tidak bahagia dan terancam perceraian. Ini sangat menyakitkan kedua belah pihak. Menentukan pernikahan pasangan muda-mudi tidak boleh tergesa-gesa, biarkan keduanya saling memahami perbedaan masing-masing.

Suami istri yang rukun dan bisa bekerja sama, akan mampu mengatasi masalah keluarga, dan menjamin kebahagiaan rumah tangga. Model pendidikan dalam tiap keluarga berbeda-beda. Pendidkan  dalam keluarga itu menentukan pembentukan karakter anak-anaknya. Anak yang telah terbentuk karakternya setelah dewasa dapat berpikir jernih dan tidak emosional. Setelah mereka berkeluarga dapat mengatur rumah tangganya dengan baik. Apabila ada masalah keduanya dapat saling membantu. Mereka sebagai suami istri bisa saling menghargai hak dan kewajiban masing-masing, mereka saling percaya dan menjaga agar kepercayaan itu tidak dirusak sendiri.

Anak yang dimanjakan, tidak pernah diberi kesempatan menyelesaikan masalahnya sendiri, setelah dewasa juga tidak bisa mandiri. Suami atau istri yang tidak mandiri sering melibatkan orang tua dan saudara dalam urusan rumah tangganya, akibatnya menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Kalau saudara sang istri membela pihak istri akan bermusuhan dengan sang suami, kalau saudara sang suami membela pihak suami akan bermusuhan dengan saudara dari sang istri.

Sebuah keluarga kalau ada masalah sebaiknya diselesaikan sendiri oleh keluarga, kalau ada campur tangan dari pihak saudara akan membuat persaudaraan tidak rukun akibatnya rejeki berkurang. Perkawinan sebenarnya untuk menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar, keluarga besar yang mempunyi anggota banyak dan bisa hidup rukun akan menjadi kebanggaan masyarakat.

299 Total Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

captcha

Please enter the CAPTCHA text

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>