Suci Hati Dan Tahu Malu / Lian Chi, 廉 耻

Dengan tanpa memperhatikan Kesusilaan dan Kebenaran mengejar kekayaan dan kemuliaan, itu pasti karena kurangnya Kesucian Hati dan merosotnya rasa Tahu Malu, perasaan harga diri. Ini adalah menodakan dan merusakkan kemuliaan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi Watak Sejati manusia. Maka Nabi bersabda, “Seorang Junzi bila tidak menghargai diri, niscaya tidak berwibawa; belajarpun tidak teguh. Maka utamakanlah Satya dan Dapat Dipercaya. Janganlah berkawan dengan orang yang tidak memiliki semangat seperti dirimu. Bila bersalah jangan takut memperbaiki.” (Sabda Suci I: 8 ) Di dalam Ajaran Besar X: 14 tersurat, “Kami ingin mendapatkan seorang menteri yang jujur dan tidak bermuslihat. Yakni, yang sabar hati dan dapat menerima segala yang berfaedah; bila ada orang pandai, dia merasa itu sebagai kepandaiannya sendiri; lebih-lebih pula bila dia mendapati seorang yang berbudi sebagai nabi (suci), ia sangat menyukainya; ia tidak memuji dengan kata-kata saja tetapi dapat pula menerimanya.

Bakti Dan Rendah Hati / Xiao Ti, 孝 悌

Perilaku bakti dan rendah hati menyangkut hubungan yang paling mula dan paling dekat dalam kehidupan tiap manusia; menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mengabdi, menghormati dan mencintai ayah-bunda dan menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mencintai saudara-saudara. Karena jalinan hubungan ini paling dekat dan paling mula, maka dalam moral Konfuciani ke dua masalah ini dijadikan dasar dan landasan untuk pembinaan diri dalam jangkauan yang lebih luas dan lebih kompleks. Mengzi bersabda, “Mencintai orang tua itulah Cinta Kasih, dan hormat kepada yang lebih tua itulah Kebenaran.” (VII A:15)

Satya Dan Tepasarira / Zhong Shu, 忠 恕

Ajaran Satya dan Tepasarira ini disebut Nabi Kongzi sebagai ‘Jalan Suci Yang Satu Yang Menembusi Semuanya’, karena ajaran ini vertikal menjalinkan manusia kepada Tuhan, Khaliknya dan horizontal menjalinkan manusia kepada sesama dan lingkungan hidupnya. Dalam hal ini kita wajib mengerti mana yang pokok dan mana yang ujung, mana yang wajib didahulukan dan mana yang wajib dikemudiankan. Tersurat di dalam Tengah Sempurna Utama: 3, “Tiap benda itu mempunyai pangkal dan ujung dan tiap perkara itu mempunyai awal dan akhir. Orang yang mengetahui mana hal yang dahulu dan mana hal yang kemudian, ia sudah dekat dengan Jalan Suci.”

Designed by Structured Settlement | Download from Wordpress templates | Music text | Cheap domain