Bakti Dan Rendah Hati / Xiao Ti, 孝 悌
Perilaku bakti dan rendah hati menyangkut hubungan yang paling mula dan paling dekat dalam kehidupan tiap manusia; menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mengabdi, menghormati dan mencintai ayah-bunda dan menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mencintai saudara-saudara. Karena jalinan hubungan ini paling dekat dan paling mula, maka dalam moral Konfuciani ke dua masalah ini dijadikan dasar dan landasan untuk pembinaan diri dalam jangkauan yang lebih luas dan lebih kompleks. Mengzi bersabda, “Mencintai orang tua itulah Cinta Kasih, dan hormat kepada yang lebih tua itulah Kebenaran.” (VII A:15) “Mengabdi kepada siapakah yang terbesar? Mengabdi kepada orangtua itulah yang terbesar. Menjaga apakah yang berbesar? Menjaga diri itulah yang terbesar. Orang yang tidak kehilangan dirinya dan dapat mengabdi kepada orangtuanya, aku pernah mendengar. Tetapi orang yang kehilangan diri dapat mengabdi kepada orangtuanya, aku belum pernah mendengar.” (Mengzi IV A: 19) “Cinta Kasih itulah Kemanusiaan dan mengasihi orang tua itulah terbesar.” (Tengah Sempurna XIX: 5)
Beberapa ayat suci di bawah ini kiranya boleh menambah pengertian kita tentang prilaku Bakti dan Rendah Hati:
- “Seorang Yang dapat berlaku Bakti dan Rendah Hati, tetapi suka menentang atasan, sungguh jarang terjadi; tidak suka menentang atasan, tetapi suka mengacau, ini belum pernah terjadi.
Maka seorang Junzi mengutamakan pokok, sebab setelah pokok itu tegak, Jalan Suci akan tumbuh dengan sendirinya. Laku Bakti dan Rendah Hati itulah pokok peri Cinta Kasih.” (Sabda Suci I: 2)
- “Seorang Muda, dirumah hendaklah berlaku Bakti, di luar hendaklah bersikap Rendah Hati, hati-hati sehingga dapat dipercaya, menaruh cinta kepada masyarakat dan berhubungan erat dengan orang yang berperi Cinta Kasih. Bila telah melakukan hal ini dan masih mempunyai kelebihan tenaga, gunakanlah untuk mempelajari Kitab-kitab.” (Sabda Suci I: 6)
- “Hati-hatilah saat orang tua meninggal dunia dan janganlah lupa memperingati sekalipun telah jauh. Dengan demikian akan tebal Kebajikan.” (Sabda Suci I: 9)
- “Laku Bakti ada tiga tingkat: Yang terbesar, memuliakan orang tua; kedua, tidak memalukan orang tua; dan paling bawah, hanya dapat memberi perawatan.” (Li Ji)
- “Seorang anak berbakti dalam mengabdi orang tua, demikian: Di dalam rumah ada rasa hormat, dalam merawat sungguh-sungguh berusaha dapat membahagiakan, pada saat orang tua menderita sakit ada keprihatinan, pada saat orang tua meninggal benar-benar ada rasa duka, dan dalam menyembahyanginya benar-benar ada rasa sujud.” (Kitab Bakti X)
- “Mendidik rakyat untuk saling mengasihi tiada yang lebih baik daripada Laku Bakti. Mendidik rakyat menetapi kesusilaan tiada yang lebih baik dari laku Rendah Hati.” (Kitab Bakti XII)
- Usia ayah-bunda tidak boleh tidak diketahui, di satu pihak boleh merasa gembira, di lain pihak harus merasa khawatir.” (Sabda Suci IV: 2)


